Bandung– Suasana hangat dan penuh makna mewarnai peringatan 11 tahun Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Bandung yang digelar di Workshop Batik Komar, Cigadung. Momentum ini tak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat komitmen melestarikan wastra Nusantara.
Perayaan semakin istimewa karena dirangkaikan dengan Halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah serta peringatan Hari Kartini 2026—menghadirkan perpaduan nilai spiritual, budaya, dan semangat emansipasi perempuan dalam satu rangkaian kegiatan.

Hadir dalam acara tersebut Pendiri dan Ketua Umum KCBI Pusat, Sita Hanimastuti, bersama jajaran pengurus pusat. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran perempuan sebagai penjaga sekaligus penggerak budaya, khususnya dalam pelestarian kain tradisional Indonesia.
Menurutnya, semangat Kartini tidak hanya relevan dalam konteks pendidikan dan kesetaraan, tetapi juga dalam upaya mengangkat martabat perempuan melalui kecintaan terhadap budaya bangsa.
“Perempuan memiliki peran besar dalam menjaga tradisi, termasuk melestarikan kain-kain Nusantara. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya di hadapan para peserta.
Sita juga menyoroti tantangan regenerasi dalam dunia wastra. Ia menilai bahwa menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya berkain memerlukan pendekatan yang lebih terbuka dan adaptif.
Alih-alih membatasi, generasi muda perlu diberi ruang untuk mengekspresikan kecintaannya terhadap kain dengan gaya mereka sendiri. Pendekatan ini diyakini dapat menumbuhkan rasa memiliki sekaligus kebanggaan terhadap budaya lokal.
“Berikan kesempatan kepada generasi muda untuk mencintai berkain dengan caranya sendiri. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih dekat dan bangga terhadap budaya kita,” tuturnya.
Lebih jauh, ia mengajak komunitas di berbagai daerah untuk terus menghidupkan kain tradisional khas masing-masing wilayah. Keberagaman wastra Indonesia dinilai sebagai kekuatan besar yang dapat melahirkan kreativitas dan inovasi baru.
Dalam konteks keberlanjutan, Sita juga menekankan pentingnya dukungan terhadap para perajin. Menurutnya, ekosistem yang kuat diperlukan agar para perajin dapat terus berkarya dan menghasilkan wastra berkualitas.
“Para perajin adalah bagian penting dari pelestarian budaya. Kita harus memastikan mereka terus didukung,” tegasnya.
Tak hanya soal makna, ia juga menyinggung aspek estetika dalam berkain. Keselarasan antara kain dan busana dinilai penting untuk menghadirkan tampilan yang anggun dan menarik. Ia bahkan mengapresiasi gaya berkain perempuan Bandung yang dinilai mampu memadukan tradisi dan modernitas secara elegan.
Peringatan ini menjadi bukti bahwa berkain bukan sekadar gaya berbusana, melainkan bentuk kecintaan terhadap budaya sekaligus wujud nasionalisme. Melalui semangat “berkain dengan cinta”, KCBI Bandung terus mengajak masyarakat untuk menjadikan wastra sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di tengah arus globalisasi, gerakan ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan melestarikan kekayaan wastra Nusantara.
Penulis: Dr. Komarudin Kudiya. S.IP., M.Ds.

