https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Hisyam Suleiman dan Misi Membawa Batik Cirebon via Drama Musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari

Hisyam Suleiman dari EB Batik mendukung drama musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari untuk mengangkat Megamendung ke panggung nasional.

Bagi Hisyam Suleiman, mendukung pementasan drama musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari bukan sekadar kerja sama antara dunia seni pertunjukan dan industri batik. Ada ikatan sejarah, budaya, dan emosi yang membuat generasi keempat EB Batik Tradisional Cirebon itu merasa memiliki tanggung jawab untuk terlibat.

Sebagai penerus usaha keluarga yang telah puluhan tahun menjaga warisan batik Cirebon, Hisyam melihat sosok Nyi Mas Gandasari sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas budaya daerahnya. Karena itu, ketika drama musikal yang mengangkat kisah panglima perang perempuan Kesultanan Cirebon tersebut diproduksi dan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 14 Juni 2026, EB Batik hadir sebagai salah satu pendukung utama dari sisi wastra dan promosi budaya.

Hisyam Suleiman dari EB Batik mendukung drama musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari untuk mengangkat Megamendung ke panggung nasional.
Hisyam Suleiman dari EB Batik mendukung drama musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari untuk mengangkat batik Cirebon ke panggung nasional.

“Yang paling penting, Nyi Mas Gandasari merupakan bagian dari sejarah Kota Cirebon dan wilayah Cirebon Raya. Ada keterikatan emosional di situ,” ujar Hisyam.

Menurutnya, kisah Nyi Mas Gandasari tidak dapat dipisahkan dari proses panjang pembentukan budaya Cirebon yang lahir dari pertemuan berbagai peradaban. Hal itu juga tercermin dalam perkembangan batik pesisir Cirebon, terutama motif Megamendung yang telah menjadi ikon budaya daerah tersebut.

“Selain itu, ada akulturasi budaya antara Tiongkok dan Indonesia yang terealisasi dalam batik, khususnya motif Megamendung. Tokoh-tokoh seperti Nyi Mas Gandasari, Putri Ong Tien, dan lainnya memiliki keterkaitan dengan sejarah lahirnya budaya Cirebon yang juga tercermin dalam batik Megamendung,” katanya.

Sebagai warga Cirebon, Hisyam mengaku sulit membayangkan tidak mendukung sebuah pertunjukan yang mengangkat salah satu tokoh penting dalam sejarah daerahnya.

“Otomatis, sebagai warga lokal dan anak daerah Cirebon, rasanya tidak mungkin kami tidak mendukung acara sebagus ini,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Kostum

Keterlibatan EB Batik dalam pementasan Sangkala Nyi Mas Gandasari tidak hanya berupa penyediaan kain batik untuk kebutuhan artistik. Menurut Hisyam, kontribusi mereka juga mencakup promosi budaya melalui media sosial serta penguatan narasi batik sebagai bagian dari cerita yang diangkat dalam pertunjukan.

“Yang pertama dari sisi kostum. Kami membantu penyediaan batik untuk panitia dan beberapa pemain. Selain itu, kami juga memberikan dukungan promosi melalui media sosial,” jelasnya.

Lebih dari 30 potong kain batik digunakan selama proses produksi dan pementasan. Beberapa di antaranya dipersiapkan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan artistik pertunjukan.

“Secara keseluruhan jumlahnya lebih dari 30 potong kain batik. Beberapa di antaranya memang dipersiapkan secara khusus untuk kebutuhan produksi pertunjukan,” ungkap Hisyam.

Dukungan tersebut sejalan dengan aktivitas yang selama ini dijalankannya sebagai figur muda yang aktif mengampanyekan batik melalui media sosial. Dengan gaya komunikasi yang dekat dengan generasi muda, Hisyam berupaya memperkenalkan batik sebagai bagian dari gaya hidup masa kini tanpa kehilangan akar budayanya.

“Kebetulan saya memiliki personal branding yang membahas batik. Namun cara penyampaiannya lebih dekat dengan anak muda, menggunakan gaya bahasa yang lebih kekinian. Tujuannya agar batik bisa diterima oleh generasi muda,” katanya.

Megamendung sebagai Jembatan Sejarah

Dalam pementasan ini, motif Megamendung menjadi elemen visual yang paling menonjol. Bagi Hisyam, pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Motif yang telah menjadi ikon Cirebon itu memiliki hubungan erat dengan kisah Putri Ong Tien dan sejarah akulturasi budaya yang berkembang di lingkungan Kesultanan Cirebon.

“Yang paling terlihat tentu motif Megamendung. Motif ini menjadi ciri khas karena Putri Ong Tien sangat lekat dengan sejarah Megamendung,” ujarnya.

Selain Megamendung, sejumlah motif lain yang berkaitan dengan Sunan Gunung Jati dan sejarah Cirebon turut menjadi inspirasi dalam pemilihan batik untuk pertunjukan tersebut.

“Bagi kami, ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap pementasan tersebut,” tambahnya.

Meski tidak menciptakan motif baru secara khusus, EB Batik melakukan pengembangan terhadap motif Megamendung agar sesuai dengan kebutuhan visual panggung.

“Secara khusus sebenarnya tidak ada motif baru yang diciptakan. Namun ada pengembangan khusus pada motif Megamendung yang dipersiapkan untuk kebutuhan pementasan ini,” jelasnya.

Kolaborasi Budaya dan Tantangan Produksi

Persiapan pementasan yang berlangsung dalam waktu relatif singkat menjadi tantangan tersendiri. Hisyam mengungkapkan bahwa seluruh kebutuhan batik harus dipersiapkan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

“Tantangan terbesar adalah waktu persiapan yang cukup singkat, kurang dari dua bulan. Saat ada permintaan untuk menyiapkan kebutuhan batik bagi pertunjukan ini, waktunya sangat terbatas,” katanya.

Karena itu, tim EB Batik memilih menggunakan pendekatan desain yang lebih sederhana pada beberapa elemen Megamendung agar seluruh kebutuhan produksi dapat diselesaikan tepat waktu.

Meski demikian, proses kolaborasi dengan sutradara Denny Malik dan tim artistik berjalan lancar. Menurut Hisyam, komunikasi yang dibangun sejak awal membuat semua pihak dapat saling memberikan masukan untuk menghasilkan pertunjukan yang kuat secara artistik sekaligus akurat secara budaya.

“Sebelum pertunjukan berlangsung, kami banyak berdiskusi bersama tim produksi. Mereka juga datang ke Cirebon dan berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon,” ujarnya.

Membawa Megamendung ke Panggung Nasional

Bagi Hisyam, keterlibatan dalam Sangkala Nyi Mas Gandasari bukanlah strategi promosi semata. Ia melihat pementasan ini sebagai kesempatan memperkenalkan kembali Megamendung dan budaya Cirebon kepada khalayak yang lebih luas.

“Bagi kami, ini bukan semata-mata tentang mempromosikan EB Batik. Yang lebih penting adalah bagaimana menghadirkan Megamendung ke panggung nasional,” tegasnya.

Menurutnya, meskipun Megamendung sudah dikenal masyarakat Indonesia, upaya memperkenalkan dan merawat warisan budaya tidak boleh berhenti.

“Walaupun Megamendung sudah cukup dikenal masyarakat, namun eksistensinya harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Jadi manfaatnya bukan hanya untuk EB Batik, tetapi juga untuk masyarakat Cirebon secara lebih luas,” katanya.

Melalui keterlibatannya dalam drama musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari, Hisyam Suleiman memperlihatkan bagaimana generasi baru pelaku industri batik tidak lagi hanya berperan sebagai produsen kain tradisional. Mereka juga menjadi jembatan antara budaya lokal dan panggung nasional, menghubungkan sejarah, seni pertunjukan, serta identitas daerah agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Bagi Hisyam, menjaga batik tidak cukup hanya dengan memproduksi dan menjualnya. Batik harus terus hidup dalam cerita, panggung, dan ruang-ruang kreatif yang mampu menjangkau generasi masa depan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Nyimas Gandasari beraksi dengan selendang saktinya

Galeri Foto Drama Musikal Sangkala Nyi Mas Gandasari