Bandung – Perayaan 11 tahun Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Bandung berlangsung hangat dan penuh makna di Rumah Batik Komar, Cigadung. Dalam suasana kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen terhadap pelestarian wastra Nusantara.
Momentum ini terasa semakin istimewa karena dirangkaikan dengan Halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah dan peringatan Hari Kartini 2026. Sekitar 120 anggota hadir bersama jajaran pengurus pusat, menciptakan atmosfer yang tidak hanya meriah, tetapi juga inspiratif.
Ketua KCBI Bandung, Nuryanti Widya, dalam sambutannya menegaskan bahwa berkain memiliki makna lebih dari sekadar pilihan berbusana. Menurutnya, kain tradisional adalah cerminan jati diri perempuan Indonesia yang anggun, berkelas, dan bermartabat.
Ia mengajak seluruh anggota untuk terus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya berkain, terutama di kalangan generasi muda. Upaya ini dinilai penting agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Tema “Abadi Dalam Tradisi, Elegance Dalam Kreasi” yang diusung dalam perayaan ini menjadi penegasan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang. Sebaliknya, tradisi adalah warisan hidup yang terus berkembang melalui kreativitas perempuan masa kini.
Semangat tersebut selaras dengan nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan untuk maju dan berdaya tanpa meninggalkan akar budaya. Dalam konteks ini, berkain menjadi medium ekspresi yang menggabungkan identitas, kebanggaan, dan estetika.
Rangkaian acara diisi dengan diskusi budaya yang menghadirkan Dr. Laely Indah Lestari, pakar tenun Sumba Timur. Diskusi ini membuka wawasan peserta tentang wastra sebagai “bahasa budaya” yang menyimpan nilai kosmologis, simbolik, dan identitas masyarakat.
Selain itu, peragaan koleksi Batik Komar oleh anggota KCBI Bandung turut memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat tampil modern dan elegan dalam kehidupan sehari-hari. Penampilan BoKaRa Ukulele dan Line Dance semakin menambah semarak suasana.
Dalam konteks organisasi, Halalbihalal menjadi momen penting untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat solidaritas. KCBI Bandung memanfaatkan momentum ini untuk menyatukan visi dalam melangkah ke depan.
KCBI Bandung sendiri terus mengusung visi membentuk perempuan Indonesia yang memiliki jati diri melalui busana berkain tradisional. Berbagai program dijalankan, mulai dari edukasi hingga pemberdayaan perajin, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.
Di tengah arus globalisasi, berkain menjadi simbol sederhana namun kuat dalam menjaga identitas bangsa. Perempuan Indonesia, melalui pilihan berkain, tidak hanya tampil anggun, tetapi juga berperan sebagai agen pelestarian budaya. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang, selama ada kesadaran kolektif untuk merawatnya. Dari Bandung, semangat berkain kembali ditegaskan—sebagai warisan, identitas, dan masa depan.
Penulis: Dr. Komarudin Kudiya, S.IP., M.Ds

