Nama Aji Saka selalu melekat dalam sejarah aksara Jawa. Tokoh ini dikenal sebagai sosok yang membawa peradaban dan pengetahuan kepada masyarakat Jawa.
Menurut kisah populer, Aji Saka datang ke Jawa dan berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, sosok yang melambangkan kekuatan angkara murka.
Legenda tersebut diwariskan turun-temurun dan menjadi bagian penting dalam kebudayaan Jawa.

Dora dan Sembada
Dalam cerita tersebut terdapat dua abdi setia Aji Saka, yakni Dora dan Sembada.
Karena salah memahami amanat sang guru, keduanya terlibat pertarungan hingga sama-sama tewas. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan dalam rangkaian kalimat:
“Hana Caraka, Data Sawala, Padha Jayanya, Maga Bathanga.”
Kalimat tersebut kemudian menjadi dasar susunan aksara Jawa.
Makna Simbolik Cerita
Bagi masyarakat Jawa, kisah ini tidak dipahami secara harfiah semata.
Dora dan Sembada melambangkan pertarungan antara kebaikan dan keburukan yang selalu hadir dalam diri manusia. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari konflik batin.
Karena itu, manusia harus mampu menggunakan kebijaksanaan untuk menentukan pilihan hidupnya.
Dewata Cengkar sebagai Simbol Nafsu
Dalam tafsir filosofis, Dewata Cengkar menggambarkan sifat angkara murka, keserakahan, dan nafsu yang tidak terkendali.
Sebaliknya, Aji Saka melambangkan kebijaksanaan, pengetahuan, dan kemampuan mengendalikan diri.
Kemenangan Aji Saka atas Dewata Cengkar menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam menaklukkan sifat buruk manusia.
Antara Mitos dan Sejarah
Selain jalur legenda, sejarah aksara Jawa juga dapat dijelaskan melalui pendekatan ilmiah.
Para ahli menyebut aksara Jawa berkembang dari aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan, kemudian mengalami berbagai perkembangan hingga menjadi bentuk yang dikenal saat ini.
Meski demikian, kisah Aji Saka tetap memiliki nilai penting karena menjadi sarana penyampaian pesan moral kepada masyarakat.
Warisan yang Tetap Hidup
Hingga kini, cerita Aji Saka masih diajarkan di sekolah dan menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.
Legenda tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menyimpan nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sumber: Awalin, Fatkur Rohman Nur. Dunia Batin Jawa: Aksara Jawa Sebagai Filosofi dalam Memahami Konsep Ketuhanan, Jurnal Kontemplasi Vol. 5 No. 2, 2017.

