Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya membahas peluang sinergi penguatan sektor ekonomi kreatif dan digital bersama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Kamis (19/2/2026), itu menyoroti penguatan kapasitas UMKM berbasis kekayaan intelektual (IP), perluasan jejaring usaha, hingga akses pembiayaan dan komersialisasi produk kreatif nasional.
“Prinsipnya sama, kita melihat ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth yang dimulai dari daerah. Potensi anak muda tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tugas kita bersama adalah mengangkat local hero menjadi national champion dan menembus pasar global,” ujar Teuku Riefky.
Menurutnya, transformasi ekonomi nasional berbasis inovasi, talenta, dan kekayaan intelektual harus dimulai dari daerah dengan memaksimalkan potensi lokal. Pemerintah pun terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, serta lembaga keuangan.
Kolaborasi tersebut, lanjutnya, dapat diwujudkan melalui pilot project, kurasi bersama, serta skema pendampingan pembiayaan agar usaha berbasis IP semakin bankable dan dipercaya lembaga keuangan. “Kita tidak bisa berjalan sendiri. Komunitas dan asosiasi seperti HIPPI memiliki jaringan kuat di daerah. Ekosistemnya harus kita siapkan bersama agar pembiayaan terhadap sektor kreatif semakin terbuka,” tegasnya.
HIPPI yang berdiri sejak 17 Agustus 1976 kini memiliki jaringan di 22 provinsi dengan sekitar 8.000 anggota aktif. Hampir 50 persen anggotanya bergerak di sektor industri kreatif. Dalam audiensi tersebut, HIPPI menawarkan kolaborasi strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Ketua Umum HIPPI Erik Hidayat menegaskan komitmen organisasinya terhadap kepentingan nasional dan ekonomi kebangsaan. “Jika sumber daya alam bisa habis, kreativitas tidak akan pernah habis. Kami siap berkolaborasi agar pelaku UMKM kreatif semakin kuat dan naik kelas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Ekraf dan Digital HIPPI Joshua P M Simanjuntak memaparkan kerangka kolaborasi 3C (Competency, Connectivity, Commercialization). Menurutnya, banyak usaha anggota HIPPI berbasis kekayaan intelektual yang perlu diberi nilai tambah agar terkonversi menjadi nilai ekonomi nyata.
Audiensi ini menjadi langkah awal penguatan sinergi antara Kementerian Ekraf dan HIPPI untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas serta mendorong kontribusi sektor kreatif menuju visi Indonesia Emas 2045. Dalam pertemuan itu, Menteri Ekraf turut didampingi Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu serta Direktur Kriya Neli Yana.

