https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Kemlu Perkuat Diplomasi Batik Lewat 131 Perwakilan RI

Kemlu RI memperkuat diplomasi batik melalui 131 Perwakilan RI di luar negeri untuk memperluas promosi budaya dan pasar batik.
Kemlu RI memperkuat diplomasi batik melalui 131 Perwakilan RI di luar negeri untuk memperluas promosi budaya dan pasar batik.

Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memperkuat diplomasi budaya dengan menjadikan batik sebagai salah satu instrumen utama soft power Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui 131 Perwakilan Republik Indonesia di berbagai negara untuk memperluas promosi, membangun citra bangsa, sekaligus membuka peluang pasar bagi industri batik nasional.

Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Ani Nigeriawati dalam talk show di Pameran Puspa Nuswantara 2026, mengatakan batik memiliki peran strategis dalam diplomasi Indonesia karena tidak hanya menjadi identitas bangsa, tetapi juga aset budaya yang mampu memperkuat hubungan antarnegara.

“Batik merupakan identitas bangsa dan jati diri Indonesia. Selain itu, batik juga menjadi instrumen soft power dan diplomasi budaya, sekaligus sarana membangun global branding Indonesia,” ujar Ani dalam paparannya.

Menurutnya, batik juga memiliki nilai ekonomi yang besar karena menjadi sumber penghidupan bagi ribuan perajin di berbagai daerah. Karena itu, promosi batik di luar negeri tidak hanya berdampak pada citra Indonesia, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.

Ani mengungkapkan, pengalamannya bertugas di sejumlah negara menunjukkan bahwa batik telah menjadi simbol yang mudah dikenali sebagai identitas Indonesia. Di Australia dan Jerman, masyarakat langsung mengaitkan batik dengan Indonesia ketika melihat seseorang mengenakannya.

Sementara di Korea Selatan, minat terhadap batik terus meningkat seiring bertambahnya masyarakat yang mempelajari Bahasa Indonesia melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Bahkan, menurut Ani, generasi muda Korea mulai mengadopsi batik dalam bentuk produk fesyen modern seperti sepatu dan aksesori.

“Setiap negara memiliki karakter pasar yang berbeda. Ada yang lebih menyukai batik sebagai produk fesyen, ada pula yang lebih tertarik pada produk homeware. Karena itu, pelaku UMKM batik perlu memahami preferensi konsumen di masing-masing negara,” jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat Afrika dan negara-negara Pasifik cenderung menyukai batik dengan warna-warna cerah dan motif yang kuat, sedangkan pasar Eropa, Amerika Serikat, dan Korea Selatan lebih menyukai desain minimalis dengan warna pastel.

Selain promosi produk, Ani juga menilai edukasi mengenai filosofi batik perlu diperkuat. Menurutnya, banyak duta besar asing yang bertugas di Indonesia tertarik mengenakan batik, namun belum memahami makna setiap motif maupun penggunaannya dalam berbagai kesempatan.

“Kami melihat ini sebagai peluang untuk menyelenggarakan workshop bersama Kementerian Kebudayaan dan APPBI agar para diplomat asing dapat memahami filosofi, sejarah, dan penggunaan motif-motif batik Indonesia,” katanya.

Untuk memperluas jangkauan promosi, Kemlu memanfaatkan jaringan 131 Perwakilan RI yang terdiri atas kedutaan besar, konsulat jenderal, dan konsulat di berbagai negara. Melalui jaringan tersebut, Festival Indonesia secara rutin digelar dengan menghadirkan peragaan busana, pameran, hingga promosi produk wastra Indonesia.

Ani mengajak para perajin dan pelaku UMKM batik memanfaatkan keberadaan perwakilan Indonesia di luar negeri sebagai mitra promosi.

“Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri siap memfasilitasi dan menghubungkan para perajin, khususnya yang tergabung dalam APPBI, dengan Perwakilan Republik Indonesia di berbagai negara apabila ingin memperluas promosi maupun kerja sama internasional,” tegasnya.

Melalui diplomasi budaya yang lebih terintegrasi, Kemlu berharap batik semakin dikenal sebagai identitas Indonesia sekaligus mampu memperluas akses pasar internasional bagi para perajin dan pelaku industri batik nasional.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kementerian Kebudayaan menilai Indonesia membutuhkan strategi nasional batik agar promosi, diplomasi, dan branding lebih terarah.

Kementerian Kebudayaan Dorong Strategi Nasional Batik Indonesia