https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Riset Green Batik Ungkap Pengolahan Limbah Tak Cukup Hanya Hilangkan Warna

Riset green batik mengungkap pengolahan limbah tak cukup menghilangkan warna, tetapi juga harus menekan toksisitas bagi lingkungan.
Riset green batik mengungkap pengolahan limbah tak cukup menghilangkan warna, tetapi juga harus menekan toksisitas bagi lingkungan.

Jakarta – Penelitian terbaru mengungkap bahwa upaya mewujudkan green batik atau batik hijau tidak cukup hanya menghilangkan warna limbah tekstil. Proses pengolahan limbah juga harus mampu menurunkan tingkat toksisitas agar tidak membahayakan ekosistem perairan dan kesehatan manusia.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian kolaboratif yang dipimpin Profesor Satoshi Soda dari College of Science and Engineering, Universitas Ritsumeikan, Jepang, bersama Dr. Kazuko Sawada dan Abd. Aziz Amin, dosen Universitas Brawijaya sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas Ritsumeikan. Penelitian akan diterbitkan dalam jurnal Environmental Technology & Innovation edisi September 2026.

Penelitian berfokus pada pengolahan limbah yang mengandung Reactive Black 5 (RB5), salah satu zat pewarna azo yang paling banyak digunakan dalam industri tekstil dan batik. Limbah pewarna sintetis yang dibuang tanpa pengolahan diketahui dapat menghalangi penetrasi cahaya matahari, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta melepaskan senyawa berbahaya yang mengancam kehidupan organisme perairan.

Tim peneliti menguji kemampuan bakteri Clostridium sp. strain T4 yang diisolasi dari constructed wetland skala laboratorium. Dalam kondisi anaerob, bakteri tersebut mampu menghilangkan hingga 97 persen warna limbah RB5 hanya dalam waktu tiga hari.

Namun, hasil penelitian menunjukkan fakta berbeda setelah warna limbah memudar. Analisis menemukan terbentuknya dua senyawa amina aromatik yang bersifat lebih toksik dibandingkan sebelum proses pengolahan. Pengujian menggunakan Daphnia magna memperlihatkan nilai toksisitas meningkat selama proses dekolorisasi berlangsung.

“Dekolorisasi tidak sama dengan detoksifikasi,” demikian kesimpulan utama penelitian tersebut.

Menurut Prof. Soda, pengolahan limbah secara anaerob sebaiknya diposisikan sebagai tahap awal untuk menghilangkan warna. Agar limbah benar-benar aman dibuang ke lingkungan, proses tersebut harus dilanjutkan dengan pengolahan aerob atau metode oksidatif yang mampu menguraikan senyawa antara berbahaya.

Temuan ini dinilai penting bagi industri batik Indonesia yang menjadi warisan budaya dunia sekaligus sumber penghidupan jutaan masyarakat. Di sisi lain, limbah dari proses pewarnaan dan pelorodan malam masih menjadi tantangan lingkungan karena mengandung pewarna sintetis, logam berat, dan silikat.

Para peneliti menilai keberhasilan pengolahan limbah tidak lagi cukup diukur dari hilangnya warna air limbah. Pemantauan tingkat toksisitas, penyempurnaan regulasi, serta penerapan teknologi pengolahan yang lebih aman perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan green batik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung industri batik yang lebih berkelanjutan, sekaligus menjaga kualitas lingkungan perairan dan kesehatan masyarakat.

Sumber: https://www.eurekalert.org/multimedia/1140806

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Sayembara Film Kepahlawanan 2026

Sayembara Film Kepahlawanan 2026 Dibuka, Sineas Diajak Hidupkan Sejarah Indonesia