in

Pewarna Batik Sintetis Jadi Pilihan Industri karena Lebih Praktis dan Ekonomis

Pewarna batik sintetis seperti Naphtol, Indigosol, dan Remazol banyak digunakan karena pilihan warna, biaya, dan proses aplikasinya.
Pewarna batik sintetis seperti Naphtol, Indigosol, dan Remazol banyak digunakan karena pilihan warna, biaya, dan proses aplikasinya.

Pewarna batik sintetis masih menjadi bagian penting dalam proses produksi batik. Penggunaan bahan kimia seperti Naphtol, Indigosol, dan Remazol dinilai lebih praktis dan ekonomis dibandingkan pewarna alami. Kondisi tersebut membuat pewarna sintetis banyak digunakan oleh pelaku industri batik, meskipun penggunaannya juga menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Berdasarkan kajian Audrey Ayu Kirana dari Universitas Ciputra, penggunaan pewarna merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembuatan batik. Sebelum pewarna sintetis banyak digunakan, masyarakat memanfaatkan berbagai bahan alami dari tumbuhan untuk menghasilkan warna pada kain batik.

Beberapa bahan alami yang digunakan sebagai pewarna antara lain tarum untuk menghasilkan warna biru, kesumba dan pinang untuk warna merah, saron untuk warna kuning keemasan, kunyit untuk warna kuning hingga jingga, serta suji untuk menghasilkan warna hijau.

Kulit manggis juga disebut dapat menghasilkan warna biru, ungu, dan merah, sedangkan angsana menghasilkan warna cokelat kekuningan.

Namun, perkembangan industri membuat penggunaan pewarna sintetis semakin luas. Pewarna sintetis merupakan zat pewarna yang dihasilkan dari bahan kimia. Dalam materi penelitian tersebut, pewarna sintetis disebut menawarkan pilihan warna yang lebih banyak dibandingkan pewarna alami.

Kondisi itu menjadi salah satu pertimbangan produsen dalam memilih bahan pewarna. Selain pilihan warna, faktor waktu dan biaya juga ikut memengaruhi keputusan penggunaan pewarna.

Materi tersebut menyebut pewarna sintetis memiliki harga yang dinilai lebih murah sehingga produsen dapat menekan biaya produksi. Faktor efisiensi dalam proses produksi juga menjadi pertimbangan lain.

Penggunaan pewarna sintetis tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi produksi. Sisa proses pewarnaan dapat menghasilkan limbah tekstil, terutama limbah cair. Dalam proses produksi batik, air bekas pewarnaan tekstil termasuk dalam kategori limbah cair industri.

Persoalan muncul ketika limbah tersebut dibuang tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Limbah cair dari proses produksi tekstil dan batik berpotensi mencemari lingkungan apabila pengelolaannya tidak dilakukan sesuai prosedur.

Penelitian tersebut juga membahas keberadaan limbah B3 dalam limbah cair tekstil. Salah satu bahan yang disebut adalah chromium yang digunakan untuk cat pigmen tekstil.

Di sisi lain, penggunaan pewarna sintetis tidak serta-merta dapat dipisahkan dari industri batik. Kesimpulan kajian menyebutkan faktor waktu, biaya, dan efisiensi menjadi alasan utama pewarna sintetis tetap digunakan dalam proses produksi batik.

Karena itu, persoalan yang perlu mendapat perhatian bukan hanya pilihan jenis pewarna, tetapi juga pengelolaan limbah yang dihasilkan setelah proses pewarnaan. Salah satu solusi yang disebut dalam penelitian adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL.

Limbah hasil produksi, terutama limbah cair, perlu melalui proses pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, penggunaan pewarna batik sintetis dapat diikuti dengan upaya pengendalian limbah agar dampak terhadap lingkungan dapat dikurangi.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik remekan Ngantang memiliki teknik celup napthol dan proses manual untuk menghasilkan motif retak khas dari malam yang diolah kembali.

Batik Remekan Ngantang Tampil Berbeda dengan Teknik Celup dan Motif Retak

Penggunaan pewarna batik menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Pengolahan melalui IPAL menjadi langkah penting.

Pewarna Batik dan Ancaman Limbah Cair, IPAL Jadi Kunci Pengelolaan