in

Pewarna Batik Remazol Digunakan Lewat Teknik Colet di Batik Tulis Candi

Pewarna batik Remazol di Batik Tulis Candi diaplikasikan dengan teknik colet dan kuas sebelum melalui tahap fiksasi menggunakan waterglass.
Pewarna batik Remazol di Batik Tulis Candi diaplikasikan dengan teknik colet dan kuas sebelum melalui tahap fiksasi menggunakan waterglass.

Penggunaan pewarna batik Remazol di Home Industry Batik Tulis Candi, Desa Candimulyo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, dilakukan melalui teknik colet dan penguasan. Metode tersebut memungkinkan perajin memberikan beberapa warna pada kain dalam satu proses pewarnaan.

Berdasarkan penelitian Utfaul Annisa dari Universitas Negeri Yogyakarta, proses pewarnaan Remazol di Batik Tulis Candi menjadi salah satu karakteristik produksi yang membedakannya dari penggunaan sejumlah pewarna batik lainnya. Penelitian dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Proses produksi dimulai dengan pencantingan. Sebelum tahap tersebut, desain atau pola dipindahkan menggunakan pensil pada kain melalui proses yang disebut molani. Pencantingan di Batik Tulis Candi dilakukan oleh dua karyawan, yaitu Tugiyani dan Tatik.

Setelah proses pencantingan selesai, kain direntangkan menggunakan alat perentang. Kain dibuat dalam kondisi tegang agar lebih mudah ketika memasuki tahap pewarnaan.

Tahap berikutnya adalah pencampuran pewarna Remazol. Pewarna berbentuk serbuk dicampur dengan air untuk menghasilkan warna yang diinginkan. Penelitian mencatat tidak terdapat takaran tertentu dalam pencampuran tersebut. Intensitas warna disesuaikan dengan jumlah air yang digunakan.

Semakin banyak air yang ditambahkan, warna menjadi lebih muda. Sebaliknya, penggunaan air dalam jumlah lebih sedikit menghasilkan warna yang lebih pekat. Sebelum digunakan pada kain yang telah dicanting, campuran warna terlebih dahulu diuji pada kain percobaan.

Setelah warna sesuai, proses pewarnaan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah memberikan warna pada bagian motif. Teknik tersebut disebut colet karena dilakukan pada bagian kecil motif menggunakan kuas berukuran kecil.

Tahap kedua adalah pewarnaan bagian background menggunakan kuas yang lebih besar. Dengan teknik tersebut, perajin dapat memberikan beberapa warna secara langsung pada bagian-bagian kain yang berbeda.

Setelah proses pewarnaan selesai, kain tidak langsung dijemur di bawah matahari. Kain diangin-anginkan di tempat teduh hingga kering. Menurut penelitian, proses tersebut dilakukan agar warna tidak menyebar ketika kain kemudian diberi waterglass.

Tahap berikutnya adalah fiksasi menggunakan waterglass. Fiksasi bertujuan menguatkan warna agar tidak mudah luntur saat kain dicuci.

Batik Tulis Candi menggunakan perbandingan 600 mililiter waterglass dengan 240 mililiter air. Larutan tersebut dioleskan secara merata ke kain dan didiamkan sedikitnya 10 menit.

Setelah fiksasi, proses dilanjutkan dengan pelorodan untuk menghilangkan malam menggunakan air panas, pembilasan, dan penjemuran di tempat teduh.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan pewarna batik Remazol di Batik Tulis Candi tidak hanya berkaitan dengan pilihan bahan, tetapi juga memengaruhi teknik dan tahapan produksi kain batik.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Pewarna batik Remazol dipilih Batik Tulis Candi karena dinilai cepat, praktis, ekonomis, dan menghasilkan warna cerah pada kain batik.

Pewarna Batik Remazol Dipilih Batik Tulis Candi karena Praktis dan Ekonomis

Pewarna batik Remazol membentuk warna cerah pada Batik Tulis Candi yang mengembangkan motif lokal seperti Jaduran dan Porang.

Pewarna Batik Remazol Membentuk Warna Cerah dan Motif Khas Batik Tulis Candi