in

Batik Remekan Ngantang Tampil Berbeda dengan Teknik Celup dan Motif Retak

Batik remekan Ngantang memiliki teknik celup napthol dan proses manual untuk menghasilkan motif retak khas dari malam yang diolah kembali.
Batik remekan Ngantang memiliki teknik celup napthol dan proses manual untuk menghasilkan motif retak khas dari malam yang diolah kembali.

Batik remekan dari Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memiliki karakter produksi yang membedakannya dari batik tulis lainnya. Selain menggunakan teknik tulis dengan canting, batik ini melalui proses pewarnaan menggunakan napthol dengan teknik celup dan tahap remekan yang menghasilkan motif retak-retak.

Keunikan tersebut menjadi objek penelitian Firly Umi Larasati, Nurul Aini, dan Agus Hery Supadmi Irianti dari Universitas Negeri Malang. Penelitian berjudul Proses Pembuatan Batik Tulis Remekan di Kecamatan Ngantang bertujuan mendeskripsikan proses pembuatan batik tersebut dari tahap awal hingga akhir.

Batik remekan yang menjadi objek penelitian diproduksi di Desa Pandansari melalui rumah produksi “Batik Tulis Remekan Wong Ngantang”. Penelitian menyebut usaha batik tulis remekan tersebut berdiri sejak 2016. Istilah “remekan” berkaitan dengan munculnya motif retak-retak pada kain. Dalam penelitian disebutkan, istilah tersebut muncul setelah pemilik rumah batik tidak sengaja menginjak bak yang berisi batik tulis dan kemudian melihat motif retak-retak seperti kain yang telah diremukkan.

Produksi batik remekan diawali dengan pencucian kain menggunakan TRO atau Turkish Red Oil dan kanji. Kain direndam selama 15 menit dengan air panas untuk membantu membuka serat. Setelah itu kain dikeringkan sebelum memasuki tahap desain. Proses pencucian tersebut disebut sebagai mordanting atau tahap pendahuluan.

Tahap desain dilakukan dengan menyalin gambar yang telah dibuat di atas kertas ke kain menggunakan spidol. Kain yang digunakan adalah mori primisima dengan ukuran panjang sekitar 2,5 meter dan lebar 1,15 meter. Kain dengan anyaman yang padat dipilih karena harus melalui proses remekan yang berpotensi membuat kain mengalami kerusakan atau sobek.

Setelah desain selesai, pengrajin melakukan pencantingan. Canting dengan berbagai ukuran digunakan untuk menerapkan malam mengikuti motif yang telah dibuat. Proses pemanasan malam dilakukan menggunakan kompor listrik yang dirancang oleh pemilik rumah produksi.

Batik remekan Ngantang memiliki teknik celup napthol dan proses manual untuk menghasilkan motif retak khas dari malam yang diolah kembali.
Batik remekan Ngantang memiliki teknik celup napthol dan proses manual untuk menghasilkan motif retak khas dari malam yang diolah kembali.

Keunikan berikutnya terdapat pada tahap pewarnaan. Batik remekan menggunakan pewarna napthol melalui teknik celup. Pewarna tersebut terdiri dari dua paket, yakni pewarna panas dan pewarna dingin. Pencelupan dimulai dari warna panas kemudian dilanjutkan dengan warna dingin hingga warna muncul pada kain. Proses tersebut dapat dilakukan beberapa kali sesuai jumlah warna yang dikehendaki.

Setelah pewarnaan selesai, proses remekan dilakukan. Kain diblok menggunakan kuas dan canting, kemudian diremuk secara manual sampai malam retak. Retakan tersebut menjadi karakter visual utama yang membedakan batik remekan dari batik tulis lainnya. Dalam tahap ini digunakan malam bekas yang telah diolah kembali dengan tambahan gondorukem.

Kondisi lingkungan juga berperan dalam proses tersebut. Penelitian menyebut suhu yang lebih dingin diperlukan agar malam mudah retak. Desa Pandansari dinilai sesuai karena berada di kawasan Waduk Selorejo, dengan suhu yang dalam sumber penelitian disebut berkisar 24–26 derajat Celsius.

Tahap terakhir adalah penglorodan menggunakan air panas dan tambahan kanji. Proses tersebut membantu melepaskan malam dari kain sehingga motif terlihat lebih jelas. Menariknya, malam hasil penglorodan tidak langsung dibuang. Malam dibekukan, direbus kembali, kemudian diberi gondorukem dan dipersiapkan untuk digunakan lagi dalam proses remekan.

Penelitian menyimpulkan pembuatan batik remekan Ngantang terdiri dari enam tahap utama. Proses remekan masih dikerjakan menggunakan tangan secara manual sehingga membutuhkan waktu relatif lama. Penelitian tersebut juga mencatat kebutuhan akan peralatan khusus yang dapat mempercepat proses remekan tanpa menghilangkan karakter produksinya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik remekan Ngantang menghasilkan motif retak melalui teknik manual dengan malam bekas yang diolah kembali memakai gondorukem.

Batik Remekan Ngantang Manfaatkan Malam Bekas untuk Membentuk Motif Retak