in

Pewarna Batik dan Ancaman Limbah Cair, IPAL Jadi Kunci Pengelolaan

Penggunaan pewarna batik menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Pengolahan melalui IPAL menjadi langkah penting.
Penggunaan pewarna batik menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Pengolahan melalui IPAL menjadi langkah penting.

Penggunaan pewarna batik sintetis tidak hanya berkaitan dengan warna dan efisiensi produksi. Proses pewarnaan juga menghasilkan limbah cair yang perlu dikelola agar tidak mencemari lingkungan. Pengolahan limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL menjadi salah satu langkah yang disebut dalam kajian mengenai penggunaan pewarna kimia dalam pembuatan batik.

Kajian Audrey Ayu Kirana dari Universitas Ciputra membahas penggunaan pewarna kimia dalam proses produksi batik sekaligus persoalan limbah tekstil yang dihasilkan. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi literatur dan observasi terhadap proses produksi batik serta limbah yang dihasilkan.

Dalam industri batik, pewarna sintetis seperti Naphtol, Indigosol, dan Remazol banyak digunakan karena dinilai lebih murah dan praktis. Penggunaan bahan tersebut juga memberikan pilihan warna yang lebih beragam dibandingkan pewarna alami.

Namun, penggunaan pewarna kimia memiliki konsekuensi berupa limbah tekstil. Limbah tekstil dalam kajian tersebut dibedakan menjadi limbah cair dan limbah padat. Limbah cair industri antara lain berasal dari air bekas proses pewarnaan tekstil.

Persoalan lingkungan muncul apabila limbah cair hasil produksi dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan. Kajian tersebut menyoroti kondisi limbah cair dari industri tekstil dan batik yang dapat dibuang ke sungai tanpa proses pengolahan terlebih dahulu.

Pekalongan menjadi salah satu contoh yang dibahas dalam penelitian. Wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan produsen batik di Indonesia. Materi penelitian mengutip laporan mengenai pencemaran perairan akibat limbah cair serta kondisi sumur warga yang turut terdampak.

Selain Pekalongan, Sungai Citarum juga dibahas dalam kajian tersebut. Pada Februari 2018, patroli yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat bersama tim patroli Sungai Citarum menemukan air di sekitar pabrik yang berwarna, lebih kental, dan memiliki bau menyengat.

Sampel air kemudian dibawa ke laboratorium untuk penelitian lebih lanjut. Dalam materi disebutkan adanya indikasi puluhan pabrik yang membuang limbah ke Citarum dan penyidikan terhadap sejumlah pabrik lainnya.

Kajian tersebut juga mencatat adanya perusahaan yang ditutup karena membuang limbah cair langsung ke sungai tanpa melalui IPAL terlebih dahulu. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pengolahan limbah sebelum pembuangan.

Limbah tekstil yang tidak diolah juga dikaitkan dengan berbagai dampak lingkungan. Materi menyebut pencemaran dapat berdampak pada biota air dan mengaitkannya dengan keberadaan limbah B3 atau Bahan Beracun dan Berbahaya.

Salah satu bahan yang disebut dalam kajian adalah chromium yang digunakan sebagai bahan dalam cat pigmen untuk tekstil. Karena itu, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam proses produksi batik yang menggunakan pewarna sintetis.

Penggunaan pewarna sintetis sendiri masih menjadi bagian dari produksi batik karena pertimbangan waktu, biaya, dan efisiensi. Karena itu, pengurangan dampak lingkungan dapat diarahkan pada pengelolaan limbah.

Dalam kesimpulannya, kajian tersebut menyarankan pembangunan IPAL pada masing-masing produsen serta pengolahan limbah melalui IPAL sebelum dibuang ke sungai maupun tempat pembuangan akhir. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi batik sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Pewarna batik sintetis seperti Naphtol, Indigosol, dan Remazol banyak digunakan karena pilihan warna, biaya, dan proses aplikasinya.

Pewarna Batik Sintetis Jadi Pilihan Industri karena Lebih Praktis dan Ekonomis

Limbah batik di Desa Klampar, Pamekasan, diperkirakan mencapai 1 meter kubik per kelompok per hari dan mengalir ke sawah serta sungai.

Limbah Batik di Klampar Pamekasan Capai 1 Meter Kubik per Hari