Persoalan limbah batik menjadi perhatian di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Aktivitas produksi batik yang menjadi sumber ekonomi mayoritas masyarakat menghasilkan limbah pewarna dari proses pencucian dan perendaman kain. Limbah tersebut sebelumnya dibuang langsung ke saluran yang bermuara ke sawah dan sungai di sekitar permukiman.
Kondisi tersebut ditemukan dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Desa Klampar. Wilayah ini dikenal sebagai Kampung Batik di Kabupaten Pamekasan dan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan penghasilan dari aktivitas membatik.
Berdasarkan penelusuran dan wawancara tim pengabdi, Desa Klampar memiliki sekitar 1.100 penduduk. Lebih dari 80 persen masyarakat disebut menggantungkan sumber ekonomi dari batik. Perempuan juga disebut menjadi salah satu penopang utama perkembangan batik di desa tersebut.
Dalam kegiatan produksi, pengrajin batik Klampar menggunakan pewarna sintetis dari kelompok Remazol dan Naftol. Kedua bahan tersebut telah digunakan secara masif selama sekitar 15 tahun. Pengrajin juga menggunakan bahan kimia lain seperti HCl dan hipoklorit sebagai bahan pemudar.
Remazol dan Naftol digunakan untuk menghasilkan warna batik dengan identitas Madura yang kuat. Kedua jenis pewarna tersebut memiliki varian warna dasar yang dapat dikombinasikan atau diformulasikan untuk menghasilkan turunan warna baru.
Namun, proses tersebut menghasilkan sisa cairan pewarna yang masih pekat. Tim pengabdi menemukan air buangan dari proses perendaman dan pencucian batik mengalir langsung menuju sawah dan sungai di sekitar wilayah tersebut.
Sebagian pengrajin memang membuat sumur untuk menampung limbah batik. Namun, warga mengkhawatirkan limbah dapat merembes dan memasuki sumur air bersih.
Kondisi menjadi perhatian karena sungai di sekitar permukiman juga digunakan sebagai sumber air bersih, termasuk untuk kebutuhan minum ternak. Saluran pembuangan limbah batik yang bermuara ke sungai dinilai dapat mengancam kondisi kesehatan warga dan ternak.
Materi penelitian mencatat kebiasaan tersebut telah berlangsung selama belasan tahun. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah keterbatasan pengetahuan pengrajin mengenai bahaya bahan kimia dan teknik pengolahan limbah.
Bahkan, sisa pencucian atau perendaman batik yang dibuang tanpa perlakuan sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 1 meter kubik per kelompok pengrajin setiap hari. Limbah tersebut bermuara ke lingkungan pertanian dan sumber air warga, yakni sawah dan sungai.
Tim pengabdi menilai edukasi dan alih teknologi diperlukan agar masyarakat memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan limbah batik. Senyawa kimia sintetis juga disebut memiliki resistensi tinggi terhadap mikroorganisme dekomposer sehingga kontaminasi perlu diminimalkan sejak awal.
Sebagai bagian dari solusi, tim ITS mengembangkan teknologi reaktor dekolorisasi yang dilengkapi material superadsorpsi untuk mengolah limbah pewarna batik sebelum dilepaskan ke lingkungan.


