in

Limbah Batik Klampar Diolah dengan Reaktor Superadsorpsi ITS

Meta deskripsi: ITS menerapkan reaktor superadsorpsi untuk mengolah limbah batik di Klampar, Pamekasan, agar air buangan lebih jernih sebelum dilepas ke lingkungan.
Meta deskripsi: ITS menerapkan reaktor superadsorpsi untuk mengolah limbah batik di Klampar, Pamekasan, agar air buangan lebih jernih sebelum dilepas ke lingkungan.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menerapkan teknologi reaktor dekolorisasi untuk mengolah limbah batik di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan. Teknologi berbasis superadsorpsi tersebut digunakan untuk mengolah sisa pewarna dari proses pencucian dan perendaman kain sebelum limbah dibuang ke lingkungan.

Desa Klampar merupakan salah satu sentra Batik Madura di Kabupaten Pamekasan. Hampir 80 persen masyarakat di wilayah tersebut disebut berprofesi sebagai pengrajin batik. Besarnya aktivitas produksi juga menghasilkan limbah pewarna yang cukup banyak.

Sebelum intervensi teknologi dilakukan, limbah hasil produksi batik di Desa Klampar biasanya dibuang langsung ke saluran. Kondisi tersebut berpotensi mencemari lingkungan karena saluran pembuangan bermuara ke kawasan pertanian dan sumber air masyarakat.

Tim ITS kemudian menerapkan reaktor dekolorisasi yang terhubung dengan kolom matriks adsorben. Limbah hasil proses pencucian dan perendaman batik terlebih dahulu ditampung dalam reaktor berkapasitas 250 liter.

Setelah berada di dalam reaktor, limbah dialirkan melalui kolom yang berisi material adsorben. Sistem tersebut menggunakan prinsip gravitasi sehingga tidak memerlukan energi listrik untuk menarik air limbah menuju kolom pengolahan.

Dengan sistem tersebut, limbah dapat dialirkan secara terus-menerus melalui material adsorben untuk menghasilkan filtrat yang bebas pewarna.

Penerapan teknologi diawali dengan sosialisasi dan inventarisasi kelompok pengrajin batik. Tim kemudian menentukan lokasi pendirian reaktor dekolorisasi serta jalur pipa antar-pengrajin.

Masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai dampak pewarna sintetis terhadap manusia, hewan, lingkungan pertanian dan perairan. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan pengrajin menggunakan dekolorator dan limbah tidak kembali dialirkan ke persawahan maupun perairan.

Sebelum diterapkan di lapangan, reaktor terlebih dahulu diuji di Laboratorium Kimia Mikroorganisme. Dalam pengujian tersebut, tiga kolom reaktor masing-masing diisi dengan arang aktif, manganese dan silika. Sementara itu, tandon diisi dengan batu zeolit.

Limbah pewarna batik dimasukkan ke dalam tandon dan ditambahkan air agar tidak terlalu pekat. Tim juga menambahkan sedikit klorin untuk mempercepat proses penjernihan.

Setelah melalui proses tersebut, limbah yang diolah dengan reaktor menghasilkan air yang lebih jernih dalam waktu yang lebih singkat sehingga diharapkan lebih aman dibuang ke lingkungan.

Setelah pengujian laboratorium berhasil, tim ITS melakukan penggandaan reaktor dan memasangnya di Desa Klampar. Dalam instalasi tersebut, tim juga menambahkan bak penampung limbah yang ditanam di dalam tanah.

Bak tersebut dibuat untuk memudahkan warga memasukkan limbah ke sistem pengolahan. Limbah kemudian dialirkan menuju tandon untuk menjalani proses dekolorisasi.

Satu unit reaktor juga diserahkan kepada UMKM Batik Mawar di Desa Klampar. Tim berharap teknologi tersebut dapat memberikan dampak terhadap persoalan kontaminasi lingkungan pertanian dan perairan di sekitar sentra batik.

Tim pengabdian ITS selanjutnya melakukan evaluasi dan monitoring terhadap perangkat yang telah terpasang. Konsultasi juga dibuka bagi warga yang mengalami kendala dalam penggunaan reaktor.

Teknologi pengolahan limbah batik tersebut diharapkan dapat digunakan dalam jangka panjang dan menjadi salah satu model yang dapat diterapkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan limbah pewarna batik serupa.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Limbah batik di Desa Klampar, Pamekasan, diperkirakan mencapai 1 meter kubik per kelompok per hari dan mengalir ke sawah serta sungai.

Limbah Batik di Klampar Pamekasan Capai 1 Meter Kubik per Hari