in

Batik Kediri Dikembangkan dengan Teknik Tulis, Cap, dan Pewarna Alami

Batik Kediri menggunakan teknik tulis, semi tulis, cap, dan printing, dengan pewarna alami maupun sintetis untuk menghasilkan beragam motif.
Batik Kediri menggunakan teknik tulis, semi tulis, cap, dan printing, dengan pewarna alami maupun sintetis untuk menghasilkan beragam motif.

Kediri – Batik Kediri berkembang melalui beragam teknik produksi dan pilihan pewarnaan yang mendukung kreativitas perajin. Penelitian mengenai keberadaan batik di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengidentifikasi teknik batik tulis, semi tulis, cap, dan printing, serta penggunaan bahan pewarna alami maupun sintetis.

Temuan tersebut tercatat dalam penelitian Mujiono dan Dharsono berjudul “Keberadaan Batik Kediri Jawa Timur” yang diterbitkan dalam Jurnal Seni Budaya Volume 13 Nomor 1, Juli 2015.

Keberagaman teknik tersebut memperlihatkan variasi cara perajin menghasilkan batik. Pada saat yang sama, pengembangan motif tetap dipengaruhi oleh sumber inspirasi lokal, mulai dari alam, sejarah, pariwisata, hingga produk unggulan pertanian.

Empat Teknik Produksi Batik Kediri

Penelitian tersebut mengidentifikasi empat teknik produksi batik Kediri, yakni batik tulis, batik semi tulis, batik cap, dan batik printing.

Batik tulis merupakan salah satu bentuk produksi yang mengandalkan pengerjaan menggunakan canting. Batik semi tulis menggabungkan unsur pengerjaan tulis dengan teknik lain, sedangkan batik cap menggunakan alat cap untuk membentuk pola.

Sementara itu, batik printing menggunakan proses pencetakan motif pada kain.

Keberadaan berbagai teknik tersebut menunjukkan bahwa batik Kediri tidak hanya dikembangkan dalam satu bentuk produksi. Pilihan teknik memberikan variasi dalam proses pengerjaan dan memungkinkan motif diterapkan pada beragam produk.

Dalam perkembangannya, batik juga mengalami perluasan fungsi. Selain digunakan sebagai kain panjang atau jarit untuk upacara adat, batik dimanfaatkan sebagai bahan pakaian sehari-hari, seragam, busana pesta, selendang, aksesori, dan cendera mata.

Pewarna Alami dari Tumbuhan

Penelitian tersebut mencatat bahwa pewarnaan alami masih digunakan oleh perusahaan Batik Citaka Dhomas.

Bahan pewarna yang disebutkan meliputi kulit kayu mahoni, kulit pohon mangga, daun mangga, daun jambu biji, dan kulit buah jolawe.

Penggunaan bahan-bahan tersebut menunjukkan pemanfaatan sumber daya alam dalam proses penciptaan warna batik. Bahan pewarna diperoleh dari bagian tumbuhan yang kemudian digunakan untuk menghasilkan warna pada kain.

Selain pewarna alami, perusahaan batik di Kediri juga menggunakan bahan sintetis. Bahan yang disebut dalam penelitian antara lain garam napthol, indigosol, campuran napthol dan indigosol, serta remasol.

Kedua kelompok pewarna tersebut menjadi bagian dari variasi proses produksi batik Kediri. Penelitian ini tidak memberikan perbandingan kuantitatif mengenai jumlah perajin yang menggunakan masing-masing jenis pewarna.

Teknik dan Motif Berjalan Berdampingan

Keberagaman teknik produksi juga berjalan seiring dengan pengembangan motif. Batik Kediri memiliki pola klasik seperti Wahyu Tumurun, Babon Angrem, Semen Romo, Sidoluhur, Sidomukti, dan Sidomulyo.

Di samping itu, terdapat motif kreasi yang mengambil inspirasi dari Gunung Kelud, Monumen Simpang Lima Gumul, Air Terjun Dolo, flora, fauna, dan produk unggulan seperti mangga podang serta nanas podang.

Motif abstrak juga dikembangkan melalui permainan garis dan perpaduan warna, seperti motif Flores yang disebut dalam penelitian.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa karakter batik tidak hanya ditentukan oleh teknik pengerjaan, tetapi juga oleh gagasan, struktur motif, pilihan warna, dan nilai budaya yang ingin disampaikan.

Pelestarian Membutuhkan Pembinaan Perajin

Pengembangan batik Kediri dalam penelitian tersebut juga dikaitkan dengan kegiatan pembinaan pemerintah daerah. Pelatihan membatik, lomba desain, dan studi banding menjadi bagian dari upaya meningkatkan keterampilan serta memperluas wawasan perajin.

Kreativitas dalam mengolah motif dan teknik produksi menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga keberadaan batik di tengah perubahan kebutuhan masyarakat.

Dengan memadukan keterampilan produksi, sumber inspirasi lokal, dan pengembangan desain, batik Kediri memiliki ruang untuk terus digunakan dalam berbagai kebutuhan tanpa meninggalkan keterkaitannya dengan identitas budaya daerah.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Jambore Batik Jawa Barat 2026 menghadirkan 10 pasang finalis Duta Batik yang berebut gelar dan hadiah puluhan juta rupiah di Bandung.

Jambore Batik Jawa Barat 2026, 10 Pasang Finalis Berebut Gelar Duta Batik dan Hadiah Puluhan Juta Rupiah

Situs Trowulan di Mojokerto menyimpan peninggalan yang dikaitkan dengan Majapahit, termasuk Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu.

Cagar Budaya Situs Trowulan, Jejak Kejayaan Majapahit di Mojokerto