in

Batik Cirebon EB Batik: Dari Warisan Keluarga, Pasar Pria, hingga Transformasi Digital

Batik Cirebon EB Batik menembus generasi, mengembangkan batik pria, motif Nusantara, konten digital, dan AI tanpa meninggalkan karakter pesisir.
Batik Cirebon EB Batik menembus generasi, mengembangkan batik pria, motif Nusantara, konten digital, dan AI tanpa meninggalkan karakter pesisir.

Ketika berbicara tentang batik Cirebon, nama EB Batik menjadi salah satu usaha keluarga yang menarik untuk melihat bagaimana tradisi berhadapan dengan perubahan zaman. Berdiri sejak 1978, EB Batik telah melewati hampir lima dekade perjalanan, dari produksi batik tulis dan batik cap, pasar ekspor, perubahan nama usaha, hingga transformasi pemasaran melalui media digital.

Di balik perjalanan tersebut terdapat cerita regenerasi yang tidak selalu berjalan mulus. Hisyam Suleiman, generasi penerus EB Batik, mengaku pada awalnya tidak berencana meneruskan usaha batik keluarga. Dari empat bersaudara, tidak ada yang secara khusus menyatakan ingin melanjutkan usaha tersebut. Pada akhirnya, Hisyam memilih mengambil tanggung jawab itu.

Keputusan tersebut, menurut Hisyam, tidak datang secara tiba-tiba. Seorang mentor bisnis pernah mengingatkannya bahwa batik yang diwarisinya bukan semata-mata milik keluarga, tetapi juga bagian dari warisan Indonesia dan memiliki dimensi budaya sekaligus ekonomi.

Pemikiran itu kemudian mengubah cara pandangnya. Apalagi pendidikan yang ditempuhnya juga, menurut dia, tidak terlepas dari hasil usaha batik keluarga.

“Wah, iya juga. Nah, di situ saya sudah, oh ya sudah, saya putuskan untuk melanjutkan batik,” kata Hisyam dalam wawancara.

Seiring waktu, keputusan yang awalnya terasa seperti kewajiban tersebut berubah menjadi ketertarikan. Hisyam bahkan menggambarkannya sebagai proses “jatuh cinta” kepada batik.

Batik Cirebon EB Batik menembus generasi, mengembangkan batik pria, motif Nusantara, konten digital, dan AI tanpa meninggalkan karakter pesisir.

Dari Bengkel Motor Kembali ke Batik Cirebon

Perjalanan Hisyam sebelum masuk lebih dalam ke dunia batik juga tidak sepenuhnya berada di industri wastra. Ia sempat menjalankan bengkel motor. Dari keluarga, ia mengaku memang sejak awal dididik untuk berjualan.

Namun, pada 2014 ia mulai memegang usaha batik meskipun belum benar-benar memahami proses produksinya. Ketika ibunya mulai sakit pada 2016, Hisyam mulai belajar lebih serius. Ibunya sebelumnya berperan dalam produksi, sementara ayahnya menangani penjualan.

Setelah ibunya meninggal pada 2018, Hisyam semakin serius mempelajari produksi. Ia tidak hanya belajar dari keluarga, tetapi juga dari para pengrajin yang bekerja di EB Batik maupun pengrajin di luar EB.

Lima tahun, menurut Hisyam, dibutuhkan untuk mulai mendapatkan feel terhadap batik.

Jika dilihat dari garis bisnis keluarga, Hisyam menyebut dirinya sebagai generasi ketiga—setelah kakek dan ayahnya. Sementara dalam konteks EB Batik sebagai usaha yang berkembang dengan identitasnya sekarang, ia menyebut dirinya generasi kedua.

Data eksternal juga mencatat EB Batik berdiri pada 1978. Profil perusahaan menyebut usaha tersebut sebelumnya menggunakan nama Satria Remaja, kemudian berganti menjadi EB Batik Traditional pada 1999 dan membangun showroom batik.

Sementara profil EB Batik pada Festival Ekonomi Syariah Jawa menyebut produksi batik tulis dan cap telah berjalan sejak 1978 dan pada 1990 perusahaan memenuhi kebutuhan ekspor ke sejumlah negara, antara lain Thailand, Singapura, Malaysia, Jepang, dan Belanda.

Data tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan EB Batik tidak hanya bertumpu pada pasar lokal Cirebon. Sejak masa awal, usaha tersebut sudah memiliki pengalaman berhubungan dengan pasar luar negeri.

Mempertahankan Cirebon, Mengolah Motif Nusantara

Salah satu karakter yang menarik dari EB Batik adalah cara Hisyam memandang identitas Cirebon.

EB Batik tidak membatasi diri hanya pada motif yang secara langsung dikenal sebagai motif Cirebon. Hisyam mengatakan pihaknya dapat mengolah motif dari Madura, Pekalongan, Lasem, hingga daerah lainnya. Namun, motif tersebut diproses dengan karakter batik pesisir Cirebon.

Dengan pendekatan itu, EB Batik berusaha mempertemukan kekayaan motif Nusantara dengan identitas lokal.

“Motif boleh diambil dari mana saja, tetapi karakternya tetap Cirebon,” ujar Hisyam.

Menurutnya, warna menjadi salah satu unsur yang tidak mudah dilepaskan dari karakter Cirebon. Ia bahkan mengaitkan hasil pewarnaan dengan kondisi air dalam proses produksi. Eksperimen produksi membuatnya semakin memahami karakter warna Cirebon dan memilih mempertahankan karakter tersebut.

Pendekatan ini sejalan dengan informasi mengenai EB Batik dalam pemberitaan Karya Kreatif Indonesia 2026. Hisyam menyebut EB Batik membawa beragam motif Nusantara, tetapi tetap mengolahnya menggunakan style atau karakter batik pesisir Cirebon. Pada ajang tersebut, EB Batik disebut membawa ratusan pilihan motif.

Dengan demikian, identitas batik Cirebon bagi EB Batik bukan berarti membatasi sumber inspirasi. Justru berbagai motif dapat menjadi bahan eksplorasi, sementara karakter visual Cirebon menjadi benang merahnya.

Batik Cirebon EB Batik menembus generasi, mengembangkan batik pria, motif Nusantara, konten digital, dan AI tanpa meninggalkan karakter pesisir.

Batik Pria Menjadi Ceruk Pasar

Perjalanan bisnis EB Batik juga menemukan fokus melalui proses evaluasi yang tidak selalu menghasilkan keputusan benar pada percobaan pertama.

Hisyam bercerita, pada awalnya ia melihat produk perempuan masih kurang sehingga jumlahnya ditambah. Sebaliknya, produk laki-laki dikurangi. Hasilnya ternyata tidak sesuai harapan.

Strategi kemudian dibalik. Produk laki-laki diperbanyak, sedangkan produk perempuan mengikuti.

Hisyam melihat pasar batik laki-laki ternyata memiliki potensi yang kuat. EB Batik kemudian semakin fokus pada batik tulis dan busana laki-laki.

Dalam wawancara, ia menyebut segmen laki-laki menjadi salah satu penopang perkembangan EB Batik. Fokus tersebut juga terlihat dalam aktivitas EB Batik di KKI 2026, ketika perusahaan membawa batik Nusantara dengan karakter pesisir Cirebon dan menekankan pengembangan pasar busana pria.

Fokus itu bukan berarti EB Batik meninggalkan konsumen perempuan. Hisyam mengatakan produk perempuan tetap ada, tetapi menjadi bagian yang mengikuti strategi utama perusahaan.

Dari Marketplace ke Cerita di Media Sosial

Transformasi digital EB Batik dimulai jauh sebelum media sosial menjadi kanal utama penjualan.

Hisyam mengatakan perubahan sistem telah dimulai sekitar 2013. Pada awalnya ia mengerjakan proses tersebut sendiri, kemudian membangun tim. Pada 2019, timnya sudah lebih lengkap dan EB Batik mulai mengembangkan e-commerce.

Pandemi COVID-19 kemudian mendorong perusahaan memperkuat kanal media sosial dan penjualan online.

Namun, perubahan ekosistem digital pada 2022–2023 membuat strategi tersebut kembali dievaluasi. Bagi Hisyam, marketplace ternyata tidak selalu cocok untuk produk batik bernilai tinggi.

Batik tulis dan batik cap yang memiliki nilai seni membutuhkan penjelasan. Konsumen tidak cukup hanya melihat foto dan harga.

“Untuk menjual batik bernilai tinggi, kita harus bercerita,” ujarnya.

Pada 2025, pendekatan tersebut kemudian diperkuat melalui konten Instagram dan TikTok.

Hisyam tidak menggunakan gaya komunikasi generasi sebelumnya. Ia memilih berbicara dengan gaya yang lebih langsung dan edukatif. Targetnya terutama anak muda usia 25 tahun ke atas.

Batik tidak hanya dijelaskan sebagai benda budaya yang indah. Ia mencoba menjelaskan bagaimana batik dibuat, mengapa motif tertentu muncul, bagaimana memilih batik, dan apa yang membuat sebuah kain memiliki nilai.

Pendekatan itu menjadi bagian dari strategi edukasi sekaligus pemasaran.

Penelitian mengenai strategi penjualan EB Batik yang diterbitkan Journal Versa pada 2024 juga mengidentifikasi kualitas produk, inovasi, media sosial, pelayanan, dan optimalisasi showroom sebagai aspek penting dalam pengembangan bisnis EB Batik.

Batik Cirebon EB Batik menembus generasi, mengembangkan batik pria, motif Nusantara, konten digital, dan AI tanpa meninggalkan karakter pesisir.

Ketika Doodle Menjadi Batik Tulis

Eksperimen EB Batik dengan generasi muda juga terlihat dari penerjemahan desain doodle ke dalam teknik batik tulis.

Menurut Hisyam, doodle biasanya dekat dengan dunia gambar digital dan komputer. EB Batik mencoba membawa karakter tersebut ke dalam batik tulis.

Eksperimen itu memiliki pesan yang sederhana: teknologi dan tradisi tidak harus saling berlawanan.

Karya yang lahir dari dunia digital masih dapat diterjemahkan menggunakan teknik tradisional. Bagi Hisyam, cara tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk membuat anak muda melihat batik dari perspektif berbeda.

AI Membantu, tetapi Rasa Tetap Manusia

Eksplorasi teknologi EB Batik kini juga memasuki wilayah kecerdasan buatan atau AI.

Hisyam menyebut hampir 60 persen pekerjaan di kantornya telah bersinggungan dengan AI. Ia mendorong tim untuk mengenal teknologi tersebut karena AI dapat membantu mempercepat dan memudahkan pekerjaan.

Namun, ia memberikan batas yang tegas antara teknologi dan proses kreatif manusia.

Menurut Hisyam, AI dapat menghasilkan gambar yang terlihat bagus di layar, tetapi belum tentu dapat diwujudkan menjadi batik tulis. Ada desain yang secara visual menarik tetapi memiliki garis atau struktur yang sulit diterapkan dalam proses membatik.

Karena itu, AI baginya adalah alat bantu, bukan pengganti manusia.

“Batik itu harus ada rasanya,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi menarik dalam konteks batik Cirebon. Teknologi dapat membantu proses eksplorasi visual, tetapi karakter teknik, tangan pembatik, bahan, pewarnaan, dan keputusan kreatif tetap membutuhkan manusia.

Regenerasi Dimulai dari Nilai Ekonomi

Bagi Hisyam, persoalan terbesar regenerasi batik bukan semata-mata ketidaktertarikan anak muda.

Menurutnya, banyak anak muda sebenarnya belum mengetahui proses batik. Karena tidak mengetahui prosesnya, batik kemudian mudah dianggap kuno atau bahkan tidak menarik.

Ketika prosesnya diperlihatkan, respons dapat berubah.

Hisyam mengaku sering mendapatkan komentar dari masyarakat yang baru menyadari bagaimana rumitnya proses pembuatan batik setelah melihat kontennya.

Karena itu, ia melihat edukasi sebagai investasi jangka panjang. Anak muda perlu mengenal batik terlebih dahulu sebelum diharapkan menjadi pembatik, pengusaha, desainer, kolektor, atau konsumen batik.

Namun edukasi saja tidak cukup.

Menurut Hisyam, regenerasi juga harus dibangun melalui nilai ekonomi. Profesi pembatik harus mampu memberikan penghasilan yang layak. Tanpa itu, sulit mengharapkan generasi baru memilih membatik sebagai pekerjaan. Ia juga melihat adanya ruang bagi pemerintah untuk membantu melalui regulasi, termasuk persoalan standardisasi harga.

Membeli dan Memakai sebagai Bentuk Pelestarian

Bagi Hisyam, pelestarian batik pada akhirnya kembali kepada konsumen.

Ia menyarankan anak muda mengenal batik dari tingkatan yang paling mudah. Membeli batik printing terlebih dahulu, menurutnya, bukan persoalan. Konsumen dapat berkembang secara bertahap dari batik dengan harga terjangkau, kemudian mengenal batik cap dan akhirnya batik tulis dengan nilai lebih tinggi.

“Dan satu-satunya cara melestarikan batik adalah membelinya dan memakainya,” ujar Hisyam.

Kalimat tersebut merangkum cara pandangnya terhadap masa depan batik Cirebon: tradisi harus tetap hidup dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

EB Batik sendiri masih mempertahankan kerja sama dengan pengrajin lain. Ketika membutuhkan karakter batik tertentu yang lebih sesuai dengan keahlian pengrajin lain, EB Batik memilih bekerja sama daripada mengerjakan semuanya sendiri.

Bagi Hisyam, pembagian pekerjaan tersebut bukan berarti kehilangan identitas. Produk boleh datang dari berbagai tangan, tetapi karakter EB Batik tetap dijaga.

Secara eksternal, profil EB Batik yang diterbitkan dalam katalog Brilianpreneur juga mencatat bahwa usaha tersebut mendukung sembilan desa perajin lokal dan mengembangkan kain hingga busana ready-to-wear. (Google Cloud Storage)

Di sisi lingkungan, EB Batik juga tercatat mulai menerapkan sistem penyaringan limbah pewarna. Inisiatif tersebut digagas sejak 2021 dan mulai direalisasikan pada 2022 sebagai upaya mengurangi dampak limbah produksi batik.

Pada akhirnya, kisah EB Batik memperlihatkan bahwa batik Cirebon tidak harus memilih antara tradisi dan perubahan. Keduanya dapat berjalan bersama: motif Nusantara tetap diolah melalui karakter pesisir Cirebon, batik tulis tetap menjadi produk bernilai seni, pasar pria menjadi ceruk yang digarap secara serius, media sosial digunakan untuk bercerita, sementara AI dimanfaatkan sebagai alat bantu.

Bagi Hisyam, tantangan berikutnya bukan sekadar bagaimana menjual lebih banyak batik. Yang lebih penting adalah membuat generasi baru tahu, tertarik, membeli, memakai, dan akhirnya ikut menjaga batik. Dengan cara itu, warisan keluarga tidak berhenti pada satu generasi, tetapi terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar Cirebon.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik BNI menjadi bagian identitas kerja dan digunakan dua hari sepekan. Reni Haryati juga menyoroti dukungan BNI terhadap budaya Indonesia.

Batik BNI Jadi Identitas Kerja, Dipakai Dua Hari dalam Sepekan