Bandung — Batik menjadi bagian dari identitas kerja di lingkungan BNI sekaligus sarana untuk mempertahankan tradisi Indonesia. Hal tersebut disampaikan Reni Haryati, Branch Manager BNI KCP Itenas, Bandung, Jawa Barat, saat menghadiri peluncuran Puspa Nuswantara 2027 di Rumah Batik Komar, Cigadung, Bandung.
Reni mengatakan, hubungan BNI dengan Batik Komar dan Komarudin Kudiya telah berlangsung cukup lama. Kerja sama tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan dan perhatian terhadap nasabah.
“Terutama kami ada kerjasama terkait atensi-atensi untuk nasabah. Itu sudah kerjasama lama dengan Batik Komar,” ujar Reni.
Menurut Reni, penggunaan batik di lingkungan BNI juga telah menjadi bagian dari identitas institusi. Batik digunakan sebagai seragam kerja sebanyak dua hari dalam sepekan. Bahkan, menurutnya, pada periode tertentu penggunaan batik pernah mencapai tiga hari kerja dalam seminggu.
Batik dan Identitas Indonesia
Reni mengaku baru pertama kali menghadiri langsung kegiatan peluncuran Puspa Nuswantara 2027. Sebelumnya, ia mengetahui kegiatan tersebut melalui informasi dari Komarudin.
Pertunjukan seni yang ditampilkan dalam acara tersebut kemudian memberikan pengalaman tersendiri bagi Reni. Meski mengaku bukan seorang yang secara khusus menggemari seni, pertunjukan tersebut membuatnya melihat kembali kekayaan budaya Indonesia.
Menurut Reni, Indonesia memiliki kekayaan, identitas, dan tradisi yang perlu dipertahankan. Ia mengaitkan pengalaman tersebut dengan pentingnya menjaga kebersamaan dan nilai Bhinneka Tunggal Ika.
“Indonesia itu masih punya kekayaan yang luar biasa, masih punya identitas yang luar biasa, masih punya tradisi yang luar biasa,” ujarnya.
Reni mengatakan pengalaman menyaksikan pertunjukan tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya mencintai dan mempertahankan tradisi Indonesia. Ia bahkan mengaitkan hal tersebut dengan rasa nasionalisme.
“Saya tinggal di Indonesia, saya harus mempertahankan tradisi Indonesia, saya harus mencintai Indonesia,” katanya.
BNI Dukung Kegiatan Budaya
Reni juga menyampaikan bahwa BNI memiliki dukungan terhadap berbagai kegiatan yang berkaitan dengan budaya dan tradisi Indonesia. Ia menyebut keterlibatan BNI dalam sejumlah kegiatan, termasuk kegiatan di Graha Manggala Siliwangi.
Menurutnya, kegiatan yang memiliki sifat kenusantaraan menjadi salah satu ruang bagi BNI untuk memberikan dukungan. Ia mengaitkan hal tersebut dengan posisi BNI sebagai bank negara.
“Untuk event-event yang sifatnya untuk budaya dan tradisi Indonesia, sangat support,” kata Reni.
Batik untuk Formal dan Kasual
Secara pribadi, Reni mengaku tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap batik berdasarkan makna setiap motif. Namun, ia memilih melestarikan batik karena melihatnya sebagai bagian dari tradisi Indonesia.
Bagi Reni, batik juga memiliki kelebihan dari sisi penggunaan. Batik dapat digunakan dalam situasi formal maupun kasual sehingga relatif mudah disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan.
“Menurut saya batik itu yang lebih bisa mewakili pekerjaan. Dari sisi formal bisa, casual bisa,” ujarnya.
Dalam hal kepemilikan, Reni menyebut koleksi batiknya masih disesuaikan dengan kemampuan. Ia mengatakan pernah membeli batik karya seorang desainer yang juga merupakan rekan di BNI dengan harga normal lebih dari Rp2 juta hingga Rp3 juta, tetapi memperoleh harga lebih rendah karena hubungan pertemanan.
Pembelian batik oleh Reni juga tidak dilakukan secara rutin dalam periode tertentu. Kebutuhan membeli batik lebih banyak muncul ketika terdapat acara khusus, terutama kegiatan yang menghadirkan direksi atau pejabat daerah dalam kerja sama BNI dengan perguruan tinggi.
Dengan demikian, bagi Reni, batik BNI bukan hanya soal busana kerja, tetapi juga berkaitan dengan identitas institusi, kenyamanan dalam bekerja, serta upaya mempertahankan tradisi budaya Indonesia.


