in

Batik Muara Enim Kembangkan Pewarna Alami dari Kulit Kopi dan Daun Duku

Perajin mengerjakan Batik Kujur di sentra produksi Batik Muara Enim. Batik Kujur menjadi salah satu produk batik yang mengangkat sejarah, budaya dan kekayaan alam Bumi Serasan Sekundang. Foto: Sumatera Express
Perajin mengerjakan Batik Kujur di sentra produksi Batik Muara Enim. Batik Kujur menjadi salah satu produk batik yang mengangkat sejarah, budaya dan kekayaan alam Bumi Serasan Sekundang. Foto: Sumatera Express

Pengembangan Batik Muara Enim mulai diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam lokal sebagai bahan pewarna alami. Dua bahan yang menjadi potensi utama adalah kulit buah kopi robusta dari Kecamatan Semende dan pucuk daun duku dari Kecamatan Ujan Mas.

Pemanfaatan bahan lokal tersebut dibahas dalam penelitian berjudul Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim karya Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi dari Balitbangda Muara Enim. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Jurnal Integritas Serasan Sekundang, Volume 5 Nomor 1 Tahun 2023, halaman 46–58.

Penelitian menyebut pengrajin batik di Muara Enim mulai menggali potensi daerah untuk memperoleh bahan pewarna alami yang dapat digunakan pada kain batik dengan motif khas daerah. Kulit buah kopi robusta dipilih karena Kecamatan Semende merupakan salah satu wilayah penghasil kopi di Muara Enim. Sementara pucuk daun duku berasal dari Kecamatan Ujan Mas yang memiliki banyak kebun duku.

Kulit kopi memiliki kandungan tanin yang berpotensi digunakan sebagai bahan pewarna tekstil. Penelitian yang dikutip dalam artikel tersebut menyebut pulp kopi kering mengandung tanin sebesar 1,8–8,56 persen dari berat keringnya. Tanin merupakan senyawa yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil dan cenderung menghasilkan warna cokelat.

Sementara itu, daun duku juga telah diteliti sebagai salah satu bahan pewarna alami untuk batik. Pengolahan daun duku disebut dapat menghasilkan warna cokelat krem pada kain sutera, katun, dan tenun serat nanas. Pengujian yang dikutip penelitian menunjukkan hasil uji cuci dan uji sinar daun duku tergolong baik dalam aspek ketahanan warna.

Pemanfaatan pewarna alami menjadi bagian dari upaya mengembangkan batik yang berbasis potensi daerah. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pewarna alami dapat diperoleh dari berbagai bagian tumbuhan, seperti akar, batang, kulit, daun, bunga, dan buah. Bahan pembawa warna dapat digunakan secara langsung atau terlebih dahulu melalui proses ekstraksi maupun fermentasi.

Di Muara Enim, pengembangan pewarna alami berjalan beriringan dengan penguatan motif lokal. Penelitian mencatat keberadaan Batik Kujur, Batik Serasan, dan Batik Kopi sebagai tiga jenis batik yang diproduksi oleh industri kecil dan menengah. Ketiganya mengangkat kearifan lokal Bumi Serasan Sekundang.

Penelitian menyimpulkan bahwa pemanfaatan pewarna alami di Muara Enim didorong oleh kesadaran lingkungan, kesehatan, tuntutan pasar, serta ketersediaan bahan baku. Penggunaan bahan lokal tersebut dinilai berpotensi mengurangi pencemaran sekaligus membuka peluang pasar dan meningkatkan nilai jual produk batik.

Sumber informasi: Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi, “Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim,” Jurnal Integritas Serasan Sekundang, Vol. 5 No. 1, 2023, hlm. 46–58. (Jurnal Integritas Serasan Sekundang)

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif batik tersusun dari motif utama, motif tambahan, dan isen-isen yang membentuk karakter visual sekaligus membawa makna.

Mengenal Struktur Motif Batik: Motif Utama, Tambahan, dan Isen-Isen

Meta deskripsi: Batik klasik berkembang melalui revitalisasi dan inovasi. Keduanya melahirkan batik pola klasik dan batik pola kreasi dengan karakter berbeda.

Revitalisasi dan Inovasi Membentuk Dua Jalur Perkembangan Batik Klasik