in

Revitalisasi dan Inovasi Membentuk Dua Jalur Perkembangan Batik Klasik

Meta deskripsi: Batik klasik berkembang melalui revitalisasi dan inovasi. Keduanya melahirkan batik pola klasik dan batik pola kreasi dengan karakter berbeda.
Meta deskripsi: Batik klasik berkembang melalui revitalisasi dan inovasi. Keduanya melahirkan batik pola klasik dan batik pola kreasi dengan karakter berbeda.

Perkembangan batik klasik menghadapi perubahan teknologi, selera masyarakat, dan kebutuhan industri. Dalam materi Dharsono, perkembangan tersebut melahirkan dua bentuk konservasi batik, yaitu revitalisasi dan inovasi.

Revitalisasi menghasilkan batik pola klasik, sedangkan inovasi menghasilkan batik pola kreasi. Kedua pendekatan tersebut memiliki karakter berbeda dalam hubungan dengan pakem dan filosofi batik klasik.

Pada revitalisasi, pengerjaan batik secara keseluruhan masih mengacu kepada batik klasik. Acuan tersebut mencakup teknik dan filosofi, meskipun pembuatannya dapat menggunakan bahan pewarna sintetis.

Batik pola klasik dapat disebut sebagai batik tiruan. Dalam bahasa Jawa digunakan istilah tiron atau putran. Penamaan batik semacam itu sering menggunakan akhiran “-an” untuk menunjukkan tiruan terhadap batik klasik yang menjadi acuannya.

Contoh yang disebut dalam materi antara lain Srikatonan, Sidomukten, Truntuman, Sawatan, dan Gurdhan.

Berbeda dari revitalisasi, inovasi menghasilkan batik pola kreasi. Batik kreasi tidak lagi sepenuhnya mengacu kepada batik klasik.

Teknik pewarnaan dan teknik pembatikan dapat digunakan secara lebih bebas, termasuk cap, printing, dan pewarna sintetis.

Secara filosofis, batik kreasi mengacu kepada estetika modern. Penciptaannya berdasarkan konsepsi seni modern sehingga struktur batik tidak lagi harus mengikuti filsafat atau falsafah tertentu.

Batik kreasi lebih menekankan ekspresi personal. Kreator dapat menyusun motif berdasarkan unsur desain, prinsip desain, dan asas desain.

Dengan demikian, pencipta batik tidak lagi terikat secara ketat oleh pakem, falsafah, maupun filsafat batik klasik. Kondisi tersebut membuat batik semakin variatif dan bebas.

Perbedaan kedua pendekatan tersebut menunjukkan adanya dua cara dalam mempertahankan keberlanjutan batik. Revitalisasi berusaha menjaga hubungan dengan bentuk dan filosofi klasik, sedangkan inovasi membuka ruang bagi ekspresi dan estetika modern.

Perubahan teknologi juga menjadi bagian dari dinamika tersebut. Materi mencatat bahwa sekitar 1978, proses produksi tradisional batik daerah mendapatkan tekanan kuat dari teknologi pencetakan modern. Perubahan tersebut berpengaruh terhadap struktur tenaga kerja industri.

Batik daerah kemudian mengalami kemunduran dan kebangkrutan di sejumlah tempat sebelum sebagian produksinya digantikan batik printing atau batik meteran pabrikan.

Namun, dinamika tersebut tidak berarti berakhirnya batik klasik. Materi justru menunjukkan adanya proses pelestarian, pengembangan, dan penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat.

Batik klasik kemudian tetap memiliki ruang sebagai produk yang memiliki karakter khusus, sementara batik kreasi berkembang mengikuti estetika modern.

Kedua jalur tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan batik tidak hanya bergantung pada mempertahankan bentuk lama, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan hubungan dengan sejarah dan kebudayaannya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Perajin mengerjakan Batik Kujur di sentra produksi Batik Muara Enim. Batik Kujur menjadi salah satu produk batik yang mengangkat sejarah, budaya dan kekayaan alam Bumi Serasan Sekundang. Foto: Sumatera Express

Batik Muara Enim Kembangkan Pewarna Alami dari Kulit Kopi dan Daun Duku

Pengusaha batik APPBI menyiapkan Puspa Nuswantara 2027 di Bandung untuk mengangkat kekayaan batik tradisional dan perajin Indonesia.

Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia Siapkan Puspa Nuswantara 2027 dengan Tema Karjagad Mozaik yang Tersembunyi