Bandung — Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) mulai menyiapkan Pameran Puspa Nuswantara 2027 yang akan berlangsung pada 2–6 Juli 2027. Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya menyampaikan rencana tersebut dalam acara launching di Rumah Batik Komar, Cigadung, Bandung, Jawa Barat, Kamis, 24 September 2026.
Pameran Puspa Nuswantara 2027 akan mengangkat tema “Karjagad Mozaik yang Tersembunyi”. Persiapan dilakukan sejak September 2026, atau sekitar 8,5 bulan sebelum pelaksanaan pameran.
Komarudin mengatakan persiapan lebih awal diperlukan agar penyelenggaraan Puspa Nuswantara tahun depan dapat berlangsung lebih maksimal. Ia juga menyinggung pengalaman penyelenggaraan pameran pada Juli 2026 yang menurutnya memberikan hasil di luar perkiraan.
“Dengan peluang pertama kali kami melakukan pameran tapi hasilnya luar biasa,” ujar Komarudin dalam sambutannya.
Kurator Kembali Dipercaya Menyusun Konsep Pameran
Dalam Puspa Nuswantara 2027, Abdul Syukur kembali dipercaya sebagai kurator. Komarudin menyebut kuratorial menjadi elemen penting untuk menerjemahkan kekayaan batik dari berbagai wilayah Indonesia ke dalam konsep pameran.
Tema Karjagad akan mengangkat gagasan mengenai keberagaman batik Indonesia. Komarudin mengaitkannya dengan konsep Sekar Jagad, yang menggambarkan keberagaman dari berbagai daerah.
Menurut penjelasan Komarudin, konsep Karjagad dalam kuratorial akan diposisikan seperti peta. “Jagad” dimaknai sebagai dunia, sehingga pendekatan tersebut diharapkan dapat memperlihatkan kekayaan batik Indonesia dalam satu kesatuan.
Melalui konsep tersebut, pameran diharapkan tidak sekadar menampilkan produk batik, tetapi juga memperlihatkan keberagaman karya dan tradisi batik dari berbagai daerah di Indonesia.
Perajin dan Pengusaha Batik Jadi Penjaga Tradisi
Dalam pidatonya, Komarudin juga menegaskan posisi APPBI dalam menjaga keberlangsungan batik tradisional Indonesia.
Ia menyatakan APPBI akan mempertahankan prinsip menghadirkan “asli batiknya, asli perajinnya dan asli harganya.”
Prinsip tersebut menjadi penegasan bahwa perajin dan karya batik tradisional tetap menjadi bagian penting dalam kegiatan APPBI.
“Kita sebagai penjaga tradisi batik Indonesia dan akan tetap menghadirkan batik-batik tradisional, karya-karya perajin batik,” ujar Komarudin.
Ia juga menyoroti dedikasi para perajin yang selama ini berkontribusi dalam mengangkat batik Indonesia ke tingkat dunia.
Pameran Batik Digelar Juli 2027
Puspa Nuswantara 2027 dijadwalkan berlangsung selama lima hari, yakni 2–6 Juli 2027. Komarudin mengajak masyarakat dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap batik Indonesia untuk hadir dalam pameran tersebut.
Launching di Rumah Batik Komar turut dihadiri sejumlah undangan dan mitra, antara lain perwakilan Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI), Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI), Yaysan Batik Jawa Barat (YBJB), serta sponsor utama BNI.
Bagi APPBI, penyelenggaraan Puspa Nuswantara 2027 menjadi kelanjutan dari kegiatan pameran yang telah berlangsung pada Juli 2026. Evaluasi terhadap penyelenggaraan sebelumnya menjadi bagian dari persiapan untuk meningkatkan pelaksanaan pameran berikutnya.
Dengan mengangkat tema “Karjagad Mozaik yang Tersembunyi”, Puspa Nuswantara 2027 akan membawa narasi mengenai keberagaman batik Indonesia melalui pendekatan kuratorial. Pameran tersebut sekaligus menjadi ruang bagi perajin dan pengusaha batik untuk memperlihatkan karya batik tradisional Indonesia kepada publik.

