Motif menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah karya batik. Perpaduan bentuk, garis, dan isen menghasilkan susunan visual yang membentuk karakter sebuah kain batik.
Penjelasan tersebut terdapat dalam penelitian Chelsea Yulianita dan Gregorius Genep Sukendro mengenai motif Batik Jogja dan Batik Solo. Penelitian menyebutkan bahwa unsur ornamen motif batik terdiri atas tiga bentuk utama, yakni motif utama, motif tambahan, dan isen-isen motif.
Motif utama merupakan ragam hias yang menjadi unsur penentu sebuah motif. Ornamen utama pada umumnya mempunyai arti atau makna sehingga susunannya membentuk jiwa atau arti keseluruhan motif.
Salah satu contoh yang digunakan dalam penelitian adalah motif Sidomukti. Motif tersebut memiliki beberapa ornamen utama, yaitu kupu-kupu, singgasana, dan meru.
Masing-masing ornamen mempunyai makna. Kupu-kupu melambangkan harapan yang indah. Singgasana yang berbentuk seperti tahta melambangkan kedudukan tinggi dan keinginan untuk dihormati. Sedangkan meru berbentuk seperti gunung dan melambangkan keagungan yang abadi dalam diri pemakainya.
Selain motif utama terdapat motif tambahan. Unsur ini tidak memiliki arti dalam pembentukan sebuah motif dan berfungsi sebagai pengisi bidang.
Pada motif Sidomukti, bunga menjadi salah satu motif tambahan. Bunga digunakan sebagai simbol keindahan dan kecantikan.
Unsur ketiga adalah isen-isen motif. Isen-isen merupakan gabungan titik dan garis yang digunakan untuk mengisi ornamen atau bidang di antara ornamen lainnya.
Pada motif Sidomukti, sejumlah isen-isen yang ditemukan antara lain cecek, cecek pitu, sawut, dan ukel. Cecek berupa titik kecil sebagai pengisi motif. Cecek pitu merupakan titik yang berjumlah tujuh. Sawut menjadi pengisi daun berbentuk garis, sedangkan ukel merupakan hiasan daun berbentuk keriting.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa motif batik tersusun dari berbagai elemen yang saling melengkapi. Motif utama membangun karakter dan makna, motif tambahan mengisi bidang, sedangkan isen-isen memberikan detail pada ornamen.
Dalam penelitian tersebut, struktur visual batik juga berkaitan dengan komunikasi non-verbal. Pesan dan tanda disampaikan melalui simbol serta gambar yang terdapat pada motif tanpa harus menggunakan kata-kata.
Sementara itu, komunikasi verbal tetap berperan dalam menjelaskan makna motif kepada masyarakat. Pengrajin dapat memberikan informasi kepada karyawan maupun pelanggan, sedangkan museum dapat menjelaskan karakteristik dan filosofi motif kepada pengunjung.
Dengan demikian, pemahaman terhadap struktur motif menjadi bagian penting dalam membaca pesan yang terkandung dalam batik. Bentuk, garis, ornamen dan isen-isen bukan sekadar elemen dekoratif, tetapi menjadi bagian dari sistem visual yang membawa informasi budaya.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa batik dapat dibaca melalui dua jalur komunikasi, yaitu penjelasan verbal mengenai motif dan pesan non-verbal yang melekat pada visual kain.

