in

Motif Batik Sukoharjo Jamu Gendhong Padukan Figur Mbok Jamu dan Warna Sogan

Motif Batik Sukoharjo jamu gendhong memadukan figur mbok jamu, rempah, buketan, kembangan, dan isen-isen dengan warna sogan klasik setempat.
Motif Batik Sukoharjo jamu gendhong memadukan figur mbok jamu, rempah, buketan, kembangan, dan isen-isen dengan warna sogan klasik setempat.

Motif batik jamu gendhong di Kabupaten Sukoharjo memadukan figur mbok jamu dengan unsur tradisi batik gaya Surakarta. Pengembangan visual tersebut diperkuat penggunaan warna sogan serta teknik pewarnaan colet yang menghasilkan komposisi warna lebih beragam.

Penelitian Danang Priyanto dan Septianti mencatat bahwa batik jamu gendhong merupakan salah satu perkembangan motif batik yang mengangkat kearifan lokal Sukoharjo. Motif tersebut mengambil inspirasi dari keberadaan tradisi jamu gendhong yang berkembang terutama di wilayah Nguter.

Dalam aspek warna, penelitian mengidentifikasi dua komposisi utama, yaitu warna klasik sogan dan komposisi warna dinamis.

Komposisi klasik sogan terdiri dari putih, hitam dan cokelat sogan. Warna tersebut dapat diperoleh menggunakan material alam maupun material sintetis.

Untuk pewarna alam, warna biru tua diperoleh dari nila atau indigofera. Sementara warna sogan diperoleh dari campuran kayu soga yang terdiri dari teger, tingi dan jambal.

Hasil warna dari bahan tersebut dapat menghasilkan beberapa variasi cokelat, mulai dari cokelat gelap, cokelat kemerahan, cokelat kekuningan hingga cokelat keabu-abuan. Hasil akhirnya bergantung pada komposisi ramuan sogan dan proses fiksasi pada pencelupan.

Selain pewarna alam, penelitian mencatat penggunaan zat warna sintetis seperti napthol AS dan remasol.

Napthol AS digunakan untuk mencapai karakter warna sogan klasik. Sementara remasol digunakan untuk menghasilkan variasi warna dinamis, antara lain merah, merah muda, merah marun, oranye, kuning, hijau, biru dan hitam.

Perbedaan komposisi warna juga memengaruhi teknik produksi.

Pada komposisi sogan yang terdiri atas biru tua dan cokelat digunakan teknik tutup celup. Proses tersebut dilakukan melalui pencelupan, kemudian dilanjutkan dengan tahapan mbironi dan nembok untuk mempertahankan bagian warna tertentu agar tidak tercampur dengan warna berikutnya.

Sementara untuk menghasilkan warna yang lebih dinamis digunakan teknik colet dengan pewarna remasol. Teknik ini memungkinkan banyak warna diterapkan dalam satu lembar kain.

Dalam proses tersebut digunakan waterglass sebagai bahan fiksasi warna. Setelahnya dilakukan kembali tahapan mbironi dan nembok. Tahap akhir dilakukan melalui pencelupan menggunakan warna sogan dari zat warna napthol AS.

Pengembangan teknik tersebut juga terlihat pada produksi Batik Badut Bagus di Tawangsari. Penelitian mencatat proses pewarnaannya menggunakan metode colet bolak-balik dengan obat warna produksi Jepang. Pelorodan dilakukan menggunakan tepung kanji yang dicairkan untuk menjaga warna yang telah dikunci agar tidak terlalu banyak luntur.

Sementara itu, Batik Adi Busana di Bekonang pernah mengembangkan batik jamu gendhong menggunakan pewarna alam dari bakau. Dalam prosesnya digunakan tawas dan tunjung sebagai bahan fiksasi untuk menghasilkan karakter warna yang lebih pekat atau cerah sesuai kebutuhan.

Pada akhirnya, pengembangan warna menjadi bagian dari upaya mempertahankan karakter batik jamu gendhong sekaligus mengembangkan tampilannya. Penelitian menyebut teknik coletan khas pesisiran tetap dikomposisikan dengan warna sogan yang menjadi kekhasan batik klasik gaya Surakarta.

Sumber: Danang Priyanto & Septianti, DESKOVI: Art and Design Journal, Vol. 8 No. 1, Juni 2025.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Jamu Gendong menjadi ikon batik Sukoharjo. Motifnya menampilkan mbok jamu, rinjing, gendhul, empon-empon, bunga, dan isen-isen daerah.

Batik Jamu Gendong Sukoharjo Tampilkan Sosok Mbok Jamu hingga Empon-empon

Batik Sukoharjo dari Bekonang dan Tawangsari mengembangkan motif jamu gendhong melalui teknik colet, sogan, batik tulis, dan batik cap khas.

Batik Sukoharjo di Bekonang dan Tawangsari Kembangkan Motif Jamu Gendhong