in

Motif Batik Sukoharjo di Bulakan Didominasi Parang, Kawung hingga Kopi Pecah

Motif batik Sukoharjo di Bulakan berkembang dari parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo, tetapi desainnya dinilai perlu diperkuat.
Motif batik Sukoharjo di Bulakan berkembang dari parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo, tetapi desainnya dinilai perlu diperkuat.

Motif batik Sukoharjo yang berkembang di Bulakan banyak berkaitan dengan motif parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo. Motif-motif tersebut menjadi spesialisasi sejumlah pengrajin batik di wilayah tersebut, meski penelitian menunjukkan perlunya pengembangan desain untuk memperkuat karakter visual Bulakan.

Temuan tersebut berasal dari penelitian Fify Fitriani dan Setyawan, Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah, yang diterbitkan di Jurnal Rupa Volume 4 Nomor 1 pada Juni 2019.

Penelitian mencatat bahwa batik yang berkembang di Sukoharjo merupakan hasil pengembangan pola keraton dan pola pedesaan. Lingkungan sosial serta profesi masyarakat ikut memengaruhi perkembangan pola batik.

Di Bulakan, sekitar 85 persen motif yang berkembang disebut merupakan motif geometris yang merupakan pengembangan motif keraton. Batik di wilayah tersebut juga cenderung menggunakan desain dan warna yang mengarah pada karakter keraton Surakarta dengan latar kain berwarna gelap.

Selain motif geometris, terdapat desain buketan dengan unsur hewan dan sekar jagad. Namun, bentuk hewan dalam motif tersebut tidak selalu menyerupai bentuk aslinya. Penelitian mengaitkannya dengan keyakinan sebagian pembatik yang tidak memperbolehkan penggambaran makhluk hidup secara nyata.

Motif parang dan kawung juga menjadi bagian dari keterampilan khas pembatik Bulakan. Bahkan, penelitian menyebut pembatik di wilayah tersebut dapat membuat motif parang dan kawung secara langsung tanpa terlebih dahulu menggambar pola menggunakan pensil.

Persoalan muncul ketika motif yang diproduksi cenderung berulang dan kurang mengalami pengembangan. Penelitian mencatat kondisi tersebut dapat menjadi persoalan dalam perkembangan industri batik karena motif terus mengalami perubahan sesuai perkembangan zaman.

Bu Darsono, salah satu pengrajin yang menjadi bagian dari penelitian, menyampaikan persoalan pemasaran yang dihadapi produknya. Salah satu kendalanya adalah motif yang kurang memiliki ciri khas dibandingkan daerah lain. Ukuran motif yang besar juga menyulitkan ketika kain hendak digunakan sebagai pakaian.

Selain persoalan ukuran, pola geometris yang dibuat tanpa perhitungan ukuran yang konsisten menyebabkan sebagian motif memiliki ukuran berbeda-beda. Kondisi tersebut menyulitkan proses penyambungan motif ketika kain dibuat menjadi pakaian.

Penelitian kemudian mengembangkan desain dengan tetap mempertahankan motif yang telah dikuasai pembatik. Pengembangan dilakukan melalui penggabungan unsur baru yang berasal dari lingkungan Bulakan.

Motif kawung, kopi pecah dan lingkaran tahun kayu kemudian dipilih sebagai elemen utama pengembangan visual. Motif kawung yang sebelumnya dinilai terlalu polos dan berukuran besar dikembangkan dengan menambahkan unsur kopi pecah serta alur lingkaran tahun kayu.

Hasil pengembangan tersebut dikenal dalam penelitian sebagai Batik Grajen Kawung Kayu. Desain tersebut menggunakan jarak antarkawung sekitar 20 sentimeter dan tetap menggunakan pewarna alami tanpa pewarna sintetis.

Pengembangan motif tersebut memperlihatkan bahwa penguatan identitas batik Sukoharjo tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan motif lama, tetapi juga mengolah unsur lingkungan menjadi bagian dari visual batik.

Sumber informasi: Fify Fitriani & Setyawan, “Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah,” Jurnal Rupa Vol. 4 No. 1, Juni 2019.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Sukoharjo di Bulakan dikembangkan dengan pewarna alami dari limbah grajen dan desain berbasis kayu untuk memperkuat ciri khas daerah.

Batik Sukoharjo Dikembangkan dari Limbah Grajen untuk Perkuat Ciri Khas Bulakan

Teknik batik Sukoharjo di Bulakan menggunakan pewarna dari limbah grajen yang melalui perendaman dan perebusan hingga dua hari.

Teknik Batik Sukoharjo: Pewarna Grajen Diekstrak hingga Dua Hari