https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Runi dan Telaga Batik Bekasi: Meronakan Identitas Bekasi Lewat Warna Benderang

Kisah Runi membangun Telaga Batik Bekasi dari pelatihan UMKM, memberdayakan warga, dan merajut identitas batik lokal. Foto IG Telaga Batik

Runi tidak pernah merencanakan hidupnya untuk menjadi pembatik. Perjalanannya ke dunia batik bermula dari sebuah program pelatihan pemerintah Kabupaten Bekasi pada 2016–2017. Bersama ratusan peserta lain, ia datang tanpa latar belakang batik—berbekal pengalaman di konveksi dan kecintaan pada dunia budaya.

Kisah Runi membangun Telaga Batik Bekasi dari pelatihan UMKM, memberdayakan warga, dan merajut identitas batik lokal. Foto IG Telaga Batik
Kisah Runi membangun Telaga Batik Bekasi dari pelatihan UMKM, memberdayakan warga, dan merajut identitas batik lokal. Foto IG Telaga Batik

Dari sekitar 250 peserta, hanya segelintir yang bertahan. Runi adalah salah satunya. Bersama beberapa rekan, ia bahkan sempat belajar langsung ke Batik Komar di Bandung. Ilmu yang didapat kala itu masih terasa setengah-setengah, tetapi cukup untuk menyalakan keyakinan: Bekasi layak memiliki batik dengan identitasnya sendiri.

Awalnya, semua terasa seperti keterlanjuran. Namun kecintaan pada budaya membuat Runi terus melangkah. Anak-anaknya tumbuh di lingkungan sanggar tari, sementara dirinya mulai bertanya, mengapa daerah yang begitu urban seperti Bekasi tidak bisa bicara lewat kain batik?

Berbeda dengan sebagian rekan seangkatannya yang memilih jalur printing, Runi memutuskan bertahan sebagai pengrajin batik cap dan tulis. Baginya, batik bukan sekadar produk, melainkan proses dan pemberdayaan. Printing mungkin lebih cepat dan menguntungkan, tetapi tidak sejalan dengan semangat awal pelatihan: menghidupkan pengrajin.

Workshop Telaga Batik berdiri menyatu dengan rumah. Proses produksi tersebar di rumah-rumah warga sekitar—batik tulis, pewarnaan, hingga penjahitan. Edukasi pun menjadi napas utama. Hingga kini, sekitar 47 warga belajar batik secara bergilir di aula RW. Tidak rutin setiap hari, tetapi cukup untuk menumbuhkan keterampilan dan rasa memiliki.

Ilmu batik Runi tidak datang secara instan. Selain pelatihan formal, guru terbesarnya adalah kesalahan dan pencarian mandiri. Peralatan yang berbeda antara tempat pelatihan dan rumah memaksanya bereksperimen. Dua tahun kemudian, pelatihan lanjutan membuat banyak hal terasa “klik”. Dari situ, Telaga Batik mulai menemukan ritmenya.

Motif-motif Telaga Batik berangkat dari kearifan lokal Kabupaten Bekasi. Rumah Lio, Muara Gembong, Gedung Joang, golok, hingga kehidupan urban seperti budaya ngopi, hadir dalam ragam visualnya. Ada yang mengkritik karena dianggap bukan budaya lama. Namun bagi Runi, budaya adalah sesuatu yang hidup dan terus berkembang.

Kabupaten Bekasi belum memiliki pakem motif batik resmi. Kekosongan itulah yang justru diisi Telaga Batik. Beberapa motif bahkan telah didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual, sebagai upaya menjaga identitas dan karya.

Dalam urusan pasar, Runi memilih bersikap realistis. Ia sadar banyak masyarakat belum bisa membedakan batik dan kain printing. Karena itu, strategi harga menjadi kunci. Batik cap Telaga Batik dijual terjangkau—bahkan di bawah Rp200.000—agar cepat berputar. Bagi Runi, margin kecil bukan masalah selama roda produksi terus berjalan dan tenaga kerja sejahtera.

Produksi Telaga Batik bisa mencapai ratusan lembar per bulan, terutama saat momen besar seperti Hari Jadi Kabupaten Bekasi. Tujuh tenaga tetap dan beberapa tenaga lepas—semuanya warga sekitar—menjadi tulang punggung. Upah mereka relatif lebih tinggi dari standar. “Mahal tapi berkah,” begitu prinsip Runi.

Persaingan di dunia batik Bekasi tidak selalu sehat. Ada yang mengklaim sebagai pengrajin padahal hanya toko, bahkan membawa nama instansi. Runi memilih tidak larut. Ia percaya kualitas dan karakter akan berbicara sendiri. Batik Telaga memiliki DNA visual yang mudah dikenali, terutama lewat warna-warna berani.

Warna memang menjadi ciri khas Telaga Batik. Menurut Runi, karakter orang Bekasi itu “nyohor”—tidak ingin tenggelam. Maka batiknya pun hadir dengan warna kuat. Pernah ia mencoba warna pastel demi pasar luar daerah, tetapi kain itu tak laku hingga setahun. Sejak itu ia kembali percaya pada identitas sendiri.

Nama Telaga Batik diambil dari wilayah tempatnya tinggal, yang dikelilingi kawasan bernama telaga. Sebuah penegasan bahwa karya ini lahir dari tanahnya sendiri.

Runi, perempuan kelahiran 1978 ini, masih menyimpan kegelisahan: soal ilmu. Ia merasa masih harus terus belajar. Namun satu hal pasti—dengan jati diri yang kuat, Telaga Batik telah menjadi bukti bahwa batik Bekasi bukan sekadar mungkin, tetapi nyata dan hidup.


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kisah Pak Heri Susanto, perajin batik warna alam Bekasi, membangun usaha mandiri sejak 2017 hingga bertahan dan tumbuh di masa pandemi.

Heri Susanto: Dari Dump Truck ke Batik – Jalan Mandiri Merawat Warna Alam Bekasi

Panggung Maestro ke-10 di Gedung Kesenian Jakarta rayakan maestro seni lakon dan regenerasi budaya Nusantara lintas generasi.

Panggung Maestro ke-10 Rayakan Regenerasi Seni Lakon di Gedung Kesenian Jakarta