https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Talk Show Batik Story Revolusi Batik Indonesia Hadapai Era 4.0

Revolusi Batik Indonesia, Batik Story Bekasi

Era teknologi 4.0 bergulir cepat. Ditambah pasca pandemi yang sempat meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian nasional dan dunia, berdampak pada populasi perajin batik yang berkurang drastis. Kini Indonesia tengah menghadapi resesi ekonomi dunia, namun pengusaha dan perajin batik tetap berdiri tegak meski dengan tenaga yang tersisa. Revolusi Batik Indonesia menghadapi perubahan-perubahan tersebut.

Talk Show Revolusi Batik Indonesia di Batik Story Bekasi yang digelar di Lagoon Avenue Mall Bekasi menghadirkan Ketua Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya, Ketua Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) Sendy Ramania Wurandani, Pembina Komunitas Batik Bekasi (Kombas) Barito Hakim Putra, Ketua Karang Taruna Kota Bekasi H. Darkam, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bekasi Mardani Ahmad, serta pembatik Bekasi Fairuz Adi Nugroho.

“Mendengar istilah revolusi, identik dengan perubahan yang terjadi besar-besaran. Secara pengertian, revolusi adalah perubahan yang berlangsung secara cepat baik disengaja maupun tidak disengaja, ujar Ketua Asosiasi Pengusaha dan Perajin Batik Indonesia Komarudin Kudiya.

Berkaitan dengan Hari Batik Nasional, revolusi yang terjadi adalah tradisionalisme di tengah kemajuan pesat teknologi.

Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Ramania Wurandani juga membeberkan terjadi pengurangan jumlah perajin Jawa Barat yang semula 12 ribu orang kini menjadi 6 ribu orang. Sepinya produksi di masa pandemi mempercepat pengurangan tersebut dan membuat perajin beralih ke profesi lain.

“Revolusi batik Indonesia di masa 4.0 meski terjadi, tetapi jangan mengabaikan nilai-nilai yang ada di dalam batik. Tidak serta merta beralih ke batik yang lebih praktis seperti tekstil motif batik atau printing, tetapi justru harus dibangkitkan rasa bangga mengenakan batik Indonesia sebenarnya,”tutur Sendy.

Ketua Karang Taruna Kota Bekasi H. Darkam tergugah dengan materi Revolusi Batik Indonesia dan bersedia menggiatkan penggunaan batik bagi generasi muda Bekasi agar tetap lestari.

Secara umum, Pembina Komunitas Batik Bekasi Barito Hakim Putra membeberkan tentang sejarah batik Bekasi. Diawali dengan semangat membuat batik Bekasi, sumberdaya yang dibentuk oleh semangat yang sama, hingga akhirnya batik Bekasi dinobatkan sebagai batik khas Bekasi oleh pemerintah daerah Bekasi.

Ketua KNPI Kota Bekasi Mardani Ahmad pun sepakat, semangat batik tidak boleh padam dan akan terus ditularkan ke generasi muda Bekasi agar batik tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan ini, pembatik Bekasi Fairuz Adi Nugroho yang tuna rungu didapuk menjelaskan tentang kisah karirnya menjadi pembatik dan menjuarai berbagai lomba batik oleh Sendy Ramania Wurandani dan Komarudin Kudiya. Alhasil, melihat kemolekan batik buatan Fairuz Adi Nugroho, karya batik Bekasi yang dibawanya dibeli oleh Komarudin Kudiya dan Sendy Ramania Wurandani sebagai bentuk apresiasi karyanya.

Program Batik Story Bekasi merupakan pembuka jalan event Batik Story lainnya yang akan digelar di berbagai tempat di Nusantara. Batik Story Bekasi digelar atas jasa sponsor perusahaan kontraktor penyediaan jasa pengerukan overburden dan hauling batu bara PT Padil Jaya Pertama, Yamaha Motor, Kokola Biskuit, Probaby, dan Morinaga.

Tentang Revolusi Batik Indonesia

Batik merupakan sebuah karya seni khas Indonesia yang berbentuk kain dan dilengkapi dengan motif atau corak yang beragam. Motif pada kain batik memiliki ciri khasnya masing-masing sesuai dengan daerah asal pembuatan batik.

Batik pun dinilai menjadi sebuah karya seni bernilai tinggi bukan hanya karena keberagaman motifnya saja, melainkan juga proses pembuatan batik yang dikerjakan menggunakan tangan dan teknik yang cukup rumit.

Pengakuan dari UNESCO di tahun 2009 membawa banyak hal baik bagi Indonesia, seperti semakin dikenalnya batik di mancanegara.

Di era revolusi industri 4.0 eksistensi batik terancam menurun karena produksi kain batik masih menggunakan cara tradisional dan tidak praktis. Pembuatan kain batik melibatkan banyak tenaga kerja manusia.

Menurut Eskani dkk (2019), jumlah pekerja di industri batik bahkan mencapai 212 ribu orang, padahal, di era revolusi industri 4.0, industri produksi lebih menggantungkan segala pekerjaan pada teknologi-teknologi canggih. Hal ini menjadi salah satu faktor utama kurangnya daya saing industri batik di era revolusi industri 4.0.

Demi menyelamatkan eksistensi batik, dibutuhkan strategi perubahan dan penyesuaian bagi industri batik itu sendiri.

Perlu peranan generasi muda untuk berkontribusi secara langsung dalam memberikan ide-ide inovatif mereka baik dalam bidang industri maupun teknologi. Dengan adanya strategi penyesuaian dan kolaborasi antara stakeholder dan generasi muda diharapkan dapat memperbaiki eksistensi industri batik sehingga dapat sejalan dengan era revolusi industri 4.0 yang terjadi.

Revolusi Batik Di Era Kepemimpinan Para Presiden RI

Batik Di Era Presiden Sukarno

Di era kepemimpinan Presiden Sukarno, batik diangkat dari dasar idealisme membangun persatuan bagi bangsa. Presiden Sukarno memprakarsai penciptaan motif batik yang membawa pesan persatuan Indonesia.

Pesan tersebut dirangkum dalam selembar kain batik yang dibuat oleh Go Tik Swan seniman batik asal Solo yang dinamai dengan Batik Indonesia karena desain coraknya merupakan gabungan dari corak dan gaya batik dari seluruh Indonesia.

Batik Di Era Presiden Suharto

Presiden Suharto berkontribusi besar mempopulerkan batik hingga mancanegara. Di zaman itu, dilakukan proses internalisasi identitas nasional melalui simbol batik. Hal ini terinspirasi oleh kebijakan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan ditetapkan pada 14 Juli 1972 yang menetapkan batik sebagai pakaian resmi untuk pria di wilayah DKI Jakarta.

Seragam Korpri merupakan implementasi untuk menempatkan batik sebagai simbol dari identitas nasional. Aming Prayitno, seniman lukis, adalah desainer logo Korpri. Logo ini lalu di-batik-kan secara “cap” atau printing, dan kemudian dipakai sebagai pakaian wajib PNS dalam tugas sehari-hari mereka.

Dalam banyak kesempatan menyambut kunjungan tamu kenegaraan, Presiden Soeharto hampir selalu mengenakan kameja batik. Batik sering dipilih sebagai gift bagi para tamu negara dalam beberapa momen peristiwa yang penting.

Tahun 1986, Presiden AS Ronald Reagan mengadakan kunjungan tak resmi selama empat hari di Bali dalam rangka menghadiri KTT ASEAN. Dalam momen itu Presiden AS ke-40 beserta istri hadir pada jamuan malam mengenakan baju batik.

Presiden Reagan mengenakan kameja batik dengan motif Sidoluhur, sedangkan first lady mengenakan baju batik merah cerah. Iwan Tirta merupakan perancang batik bagi Ronald Reagan ini.

Tahun 1990, Nelson Mandela diberikan cinderamata batik oleh Presiden Suharto dan menjadi momen perkenalan pertama Mandela dengan batik. Ketika itu, dia masih menjabat sebagai wakil ketua Kongres Nasional Afrika. Pada 1997 Mandela mengenakan batik itu kembali ketika datang kembali ke Indonesia, sebagai Presiden Afrika Selatan.

Dalam acara kenegaraan di berbagai forum baik nasional maupun internasional, bahkan dalam sidang di forum PBB sekalipun, Mandela hadir mengenakan kameja batik. 

Masyarakat Afrika Selatan sendiri menyebut kameja batik Mandela, “Madiba shirts.” Madiba adalah nama klan dari Mandela. Yusuf Surtee, seorang pemasok pakaian untuk Mandela selama beberapa dekade, mengatakan bahwa desain Madiba ini ialah permintaan Mandela didasarkan pada model kemeja seperti yang pernah diberikan Presiden Suharto dulu.

Tahun 1994, ketika Indonesia menjadi tuan rumah KTT APEC, batik menjadi dress code peserta KTT. Desainer Iwan Tirta dipilih sebagai desainer untuk membuat 18 motif batik untuk 18 kepala negara peserta APEC, termasuk Indonesia, sesuai warna budaya negara masing-masing dengan kombinasi sentuhan corak batik etnis Jawa.

Batik Di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 

Badan PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan atau UNESCO, menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) tanggal 2 Oktober 2009. Maka, kini kita mengenal Hari Batik Nasional digelar setiap tanggal 2 Oktober.

Di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, batik menjadi anak emas first lady Ani Yudhoyono. Beragam kegiatan batik mulai tingkat nasional dan internasional digelar untuk mengukuhkan pada dunia bahwa batik adalah local genius Indonesia.  Bahkan batik tidak hanya diproduksi di Pulau Jawa saja. Dari 34 provinsi di masa Presiden SBY, 33 provinsi memiliki motif batiknya sendiri.

Batik Di Era Presiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo juga melanjutkan langkah presiden sebelumnya. Presiden Jokowi mengenakan kemeja batik bercorak parang barong dalam KTT APEC di Beijing, Cina, pada 2014. Kemeja batik bercorak parang barong ini, dulunya khusus dikenakan oleh raja-raja dan kerabat keraton.

Pada forum Annual Meeting IMF – World Bank di Bali pada Oktober 2018, Presiden Jokowi pun kembali menggunakan batik sebagai dress code pada acara

tersebut. “Diplomasi batik” merupakan momen yang luar biasa yang memiliki dampak strategis bagi bangsa Indonesia pada sidang DK PBB di New York.

Dipilihnya batik sebagai dress code merupakan bentuk penghormatan para anggota DK PBB kepada Indonesia selaku Presidensi DK PBB untuk bulan Mei 2019. Pada momen itu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres hadir dan menggunakan batik.

Tonggak yang penting dalam era pemerintahan Presiden Jokowi adalah melakukan pembatikan dengan 74 pembatik dari seluruh Indonesia. Goresan pertama cucuk canting pada kain batik sepanjang 74 meter di salah satu peron Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta.

Jokowi dan Ibu Negara melakukannya sebagai penanda dimulainya bulan kemerdekaan, Agustus 2019. Jokowi dan Ibu Negara menggambar pola Gurdo. Itu pola Garuda Nusantara. Selanjutnya, 74 pembatik dari sentra-sentra produksi batik Indonesia meneruskannya.

Batik Sebagai Simbol Bela Negara

Dapat disimpulkan bahwa dalam perbatikan terkandung semangat unsur bela negara. Bela negara dalam hal ini mencakupi semangat merawat, melestarikan, dan bangga terhadap kekayaan batik sebagai kekayaan budaya bangsa. Implementasinya adalah perasaan penuh percaya dalam dalam menggenakan batik dalam berbagai kesempatan sebagai identitas bangsa.

BATIK STORY Bekasi – Revolusi Batik Indonesia

Sebagai produk budaya, batik berasimilasi dengan kebudayaan daerah lain. Tidak saja Pulau Jawa yang memiliki batik khas, bahkan dari ujung Sabang sampai Merauke telah memiliki motif batiknya masing-masing.

BATIK STORY kali ini berusaha mengungkap fakta bahwa Kota / Kabupaten Bekasi punya motif batik khas yang harus dilestarikan dan dikembangkan oleh masyarakatnya. Tujuannya selain sebagai identitas diri, juga menyokong perekonomian para perajinnya.

Di lain sisi, BATIK STORY Bekasi merupakan langkah awal pembuatan roadmap batik yang digerakkan oleh generasi muda Indonesia.

Sebagai produk tradisional dalam bentuk kerajinan, batik Bekasi punya cerita panjang dalam proses pengakuannya. Dan tidak semua masyarakat Bekasi tahu atau mau tahu tentang sejarah tersebut. BATIK STORY Bekasi adalah upaya me-rewind kembali perjuangan itu agar ada dasar kuat menjaga dan mengembangkan tradisi yang sudah berjalan hingga saat ini.    

Dalam hal teknik pembuatan batik tulis ada nilai-nilai kehidupan perbatikan itu sendiri. Nilai-nilai kehidupan tersebut sangat unik. Keunikan ini akan menciptakan manfaat (value) yang dicari pelanggan dan memberikan keuntungan untuk keberlangsungan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Peserta Lomba Mewarnai Motif Batik Bekasi

PT. Padil Jaya Pertama Buat Seru Lomba Mewarnai Motif Batik Bekasi

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, meresmikan Museum Batik Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah

Ingin Ngelmu Batik? Datang Saja Ke Museum Batik Indonesia TMII