https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Sultan Agung Hanyakrakusuma (Bagian 2): Upaya Mataram Mengusir Belanda dari Batavia

Kisah Sultan Agung membawa Mataram mencapai puncak kejayaan melalui ekspansi wilayah, budaya, dan politik Islam di Jawa.

Ketika Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram hampir ke seluruh Pulau Jawa, muncul satu kekuatan baru yang mengganggu ambisinya. Kekuatan tersebut adalah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC yang bermarkas di Batavia.

Kehadiran VOC dipandang Sultan Agung sebagai ancaman serius. Selain menguasai perdagangan internasional, VOC juga berpotensi memecah persatuan wilayah Jawa yang sedang dibangun Mataram.

Bagi Sultan Agung, penyatuan Jawa tidak mungkin tercapai selama Batavia masih berada di bawah kendali Belanda.

Persiapan Serangan Besar

Setelah menaklukkan banyak wilayah di Jawa Timur dan Jawa Barat, Sultan Agung mulai memusatkan perhatian ke Batavia.

Persiapan dilakukan secara matang. Pasukan dalam jumlah besar dihimpun dari berbagai daerah bawahan Mataram. Logistik perang juga dipersiapkan untuk mendukung operasi militer jarak jauh.

Tujuan utama serangan ini bukan sekadar menaklukkan Batavia, tetapi juga menghentikan pengaruh VOC yang semakin kuat di Nusantara.

Serangan Pertama Tahun 1628

Pada tahun 1628, Sultan Agung mengirim pasukan besar ke Batavia. Komando utama dipercayakan kepada Tumenggung Bahureksa dengan dukungan sejumlah panglima lainnya.

Jumlah pasukan diperkirakan mencapai sekitar 10.000 orang. Angka tersebut menunjukkan keseriusan Mataram dalam menghadapi VOC.

Namun medan perang yang jauh dari pusat kerajaan menjadi tantangan besar. Jalur logistik sulit dipertahankan, sementara VOC memiliki benteng pertahanan yang kokoh.

Serangan pertama akhirnya gagal karena pasukan Mataram mengalami kekurangan bahan makanan dan perlengkapan perang.

Strategi Baru dalam Serangan Kedua

Kegagalan pertama tidak membuat Sultan Agung menyerah. Ia segera menyusun strategi baru untuk serangan berikutnya.

Lumbung-lumbung padi dibangun di wilayah Karawang dan Cirebon sebagai basis logistik. Sultan Agung memahami bahwa faktor perbekalan menjadi penyebab utama kegagalan sebelumnya.

Pada tahun 1629, pasukan kedua dikirim dengan jumlah sekitar 14.000 orang di bawah pimpinan Adipati Ukur dan Adipati Juminah.

Namun VOC berhasil mengetahui strategi tersebut. Mereka menghancurkan lumbung-lumbung padi yang menjadi sumber logistik pasukan Mataram.

Akibatnya, serangan kedua kembali mengalami kegagalan.

Dampak Besar bagi VOC

Meski gagal merebut Batavia, serangan Sultan Agung tidak sepenuhnya sia-sia.

Pasukan Mataram berhasil membendung dan mengotori aliran Sungai Ciliwung. Kondisi ini memicu wabah penyakit yang menyebar di Batavia.

Wabah tersebut menimbulkan korban besar di kalangan VOC, termasuk Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen yang meninggal pada masa wabah berlangsung.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Mataram tetap mampu memberikan tekanan serius kepada VOC meskipun tidak berhasil menaklukkan Batavia secara militer.

Mengapa Mataram Gagal?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan ekspedisi Sultan Agung.

Pertama, jarak antara pusat Mataram dan Batavia sangat jauh sehingga menyulitkan distribusi logistik.

Kedua, VOC memiliki teknologi pertahanan dan benteng yang lebih modern.

Ketiga, koordinasi pasukan dari berbagai daerah tidak selalu berjalan efektif.

Keempat, kekuatan laut VOC jauh lebih unggul dibandingkan armada Mataram.

Walaupun demikian, perlawanan Sultan Agung menjadi salah satu bentuk resistensi terbesar terhadap kolonialisme Eropa pada abad ke-17.

Perjuangan yang Menginspirasi

Serangan Sultan Agung ke Batavia menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara tidak tinggal diam menghadapi kekuatan asing.

Semangat perlawanan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai gerakan anti-kolonial pada masa berikutnya.

Meskipun tidak berhasil mengusir VOC, Sultan Agung membuktikan bahwa dominasi Belanda dapat ditantang oleh kekuatan lokal yang terorganisasi.

Dalam sejarah Indonesia, perjuangan Sultan Agung tetap dikenang sebagai simbol keberanian, kemandirian, dan semangat mempertahankan kedaulatan bangsa.

Sumber: Susilo, Agus & Asmara, Yeni. Sultan Agung Hanyakrakusuma dan Eksistensi Kesultanan Mataram. Jurnal Diakronika, Vol. 20 No. 2, 2020.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kisah Sultan Agung membawa Mataram mencapai puncak kejayaan melalui ekspansi wilayah, budaya, dan politik Islam di Jawa.

Sultan Agung Hanyakrakusuma (Bagian 1): Arsitek Kejayaan Kesultanan Mataram dan Pemersatu Tanah Jawa

Kisah Sultan Agung membawa Mataram mencapai puncak kejayaan melalui ekspansi wilayah, budaya, dan politik Islam di Jawa.

Sultan Agung Hanyakrakusuma (Bagian 3): Kalender Jawa Islam, Sastra, dan Identitas Mataram