Industri tekstil Indonesia diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan dalam satu dekade mendatang. Berdasarkan laporan pasar terbaru, nilai pasar tekstil nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar USD 39,3 miliar pada 2025 menjadi USD 54,9 miliar pada 2035 dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 3,4 persen selama periode 2026–2035.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh kuatnya pasar domestik, kapasitas produksi yang terintegrasi, serta peran Indonesia sebagai salah satu pusat manufaktur tekstil di kawasan Asia Tenggara.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa segmen fashion dan apparel masih menjadi kontributor terbesar industri tekstil nasional dengan pangsa pasar mencapai sekitar 56,7 persen pada 2025. Permintaan berasal dari konsumsi dalam negeri yang terus meningkat serta pasar ekspor yang tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan sektor ini.
Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena didukung rantai pasok yang lengkap, mulai dari pemintalan benang, penenunan, pencelupan, hingga produksi garmen. Keunggulan tersebut menjadi modal penting dalam menjaga daya saing industri tekstil nasional di tengah persaingan global.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan sektor tekstil melalui berbagai kebijakan investasi dan penguatan industri manufaktur bernilai tambah. Fokus pengembangan diarahkan pada tekstil teknis, inovasi bahan baku, serta produk yang memenuhi standar keberlanjutan global.
Dalam aspek bahan baku, serat alam masih mendominasi pasar dengan pangsa sekitar 57,3 persen pada 2025. Kapas tetap menjadi bahan utama dalam produksi pakaian dan kain tenun. Namun demikian, penggunaan serat sintetis ramah lingkungan dan material daur ulang menunjukkan tren peningkatan seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk berkelanjutan.
Dari sisi teknologi produksi, tekstil woven atau tenun masih menjadi metode yang paling banyak digunakan dengan pangsa pasar sekitar 49,9 persen. Industri tenun nasional ditopang oleh sentra-sentra produksi utama yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sementara itu, tekstil rajut dan nonwoven terus mencatat pertumbuhan, terutama untuk memenuhi kebutuhan sektor olahraga, kesehatan, dan industri.
Laporan tersebut juga menyoroti perkembangan tekstil teknis (technical textiles) sebagai salah satu segmen dengan prospek pertumbuhan paling menjanjikan. Produk tekstil teknis digunakan dalam berbagai sektor seperti otomotif, konstruksi, filtrasi, transportasi, hingga layanan kesehatan. Segmen ini dinilai memiliki nilai tambah dan margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan tekstil konvensional.
Dari sisi perdagangan internasional, industri tekstil Indonesia masih menunjukkan kinerja positif. Nilai ekspor sektor ini tercatat mencapai lebih dari USD 13 miliar per tahun dan menyerap lebih dari 2,5 juta tenaga kerja. Pada kuartal pertama 2024, permintaan ekspor tekstil Indonesia meningkat 7,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, volume ekspor pakaian jadi tumbuh 3,08 persen secara tahunan.
Meski memiliki prospek pertumbuhan yang positif, industri tekstil nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain persaingan dari negara produsen lain, kebutuhan modernisasi teknologi, tuntutan standar keberlanjutan dari pasar global, serta dinamika perdagangan internasional yang dapat memengaruhi kinerja ekspor.
Namun demikian, kombinasi antara pertumbuhan konsumsi domestik, peningkatan permintaan terhadap produk ramah lingkungan, serta pengembangan tekstil teknis diperkirakan akan menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan industri tekstil Indonesia hingga 2035.

