Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, industri fesyen dan kriya Indonesia terus menunjukkan kinerja positif. Namun, di balik pertumbuhan ekspor yang mencapai miliaran dolar Amerika Serikat, masih banyak pelaku industri kecil dan menengah (IKM) yang menghadapi tantangan untuk berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah melalui peluncuran Creative Business Incubator (CBI) 2026, program inkubasi bisnis yang dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku IKM fesyen dan kriya agar mampu membangun usaha yang lebih produktif, inovatif, dan berkelanjutan.
Kick Off Program CBI 2026 yang diselenggarakan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) secara daring pada Senin (20/7/2026) menjadi awal pembinaan bagi pelaku usaha melalui pembelajaran terstruktur, pendampingan intensif, hingga business pitching bersama akademisi dan praktisi industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan tantangan utama saat ini bukan hanya menciptakan wirausaha baru, tetapi memastikan mereka mampu berkembang menjadi pelaku usaha yang tangguh dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
“Pemerintah terus menghadirkan berbagai program pembinaan yang mampu memperkuat kapasitas pelaku IKM agar dapat tumbuh, naik kelas, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Agus.
Menurutnya, penguatan rantai pasok lokal dan program pendampingan menjadi faktor penting agar IKM mampu meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri sekaligus menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Agus menegaskan, mentorship bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi kebutuhan utama bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis sekaligus membangun karakter kewirausahaan yang mandiri, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan pasar.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan industri fesyen dan kriya masih menunjukkan performa yang menggembirakan. Pada Triwulan I 2026, nilai produk domestik bruto (PDB) sektor ini mencapai Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan sektor fesyen dan kriya naik dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.
Kinerja ekspor juga terus meningkat. Sepanjang Januari–April 2026, ekspor industri kriya mencapai USD228 juta, industri pakaian jadi USD2,78 miliar, serta industri tekstil USD1,04 miliar.
“Capaian tersebut menjadi peluang bagi IKM fesyen dan kriya untuk terus meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, serta memperluas akses pasar sehingga mampu naik kelas dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global,” kata Reni.
Program CBI 2026 juga membawa sejumlah kisah sukses alumni. Salah satunya Seminyak Leather asal Badung yang berhasil memperluas pasar hingga Amerika Serikat, Kanada, Eropa, dan Timur Tengah. Sementara Rappo dari Makassar sukses berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon melalui produk berbahan limbah plastik yang mendukung ekonomi sirkular.
Tahun ini, sebanyak 20 IKM akan mengikuti pembelajaran daring, kemudian delapan peserta terbaik akan menjalani inkubasi intensif di Bali. Melalui program tersebut, diharapkan lahir lebih banyak pelaku IKM fesyen dan kriya yang mampu memperkuat model bisnis, memperluas jaringan pasar, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

