Di mata banyak pelaku UMKM, ekspor sering dipandang sebagai puncak kesuksesan. Begitu mendapat kesempatan mengikuti pameran internasional atau menerima permintaan dari luar negeri, rasa bangga pun muncul. Namun menurut Syamsul Huda, pemilik Perada Batik sekaligus pelaku ekspor yang telah bertahun-tahun menembus pasar global, ada satu kesalahan mendasar yang masih sering dilakukan para pengusaha.
Mereka terlalu sibuk membuat produk yang mereka sukai, tetapi lupa memikirkan apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar.
“Banyak orang membuat produk karena mereka menyukainya. Itu tidak salah. Tetapi kalau ingin masuk pasar yang lebih luas, apalagi ekspor, produknya tidak bisa lagi dibuat hanya berdasarkan selera pribadi,” demikian pesan yang berulang kali ditekankan Huda.
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi titik awal yang membedakan antara pengrajin yang sekadar bertahan dengan pelaku usaha yang mampu berkembang hingga pasar internasional.
Produk Bagus Belum Tentu Dibeli

Menurut Huda, kualitas produk memang penting, tetapi kualitas saja tidak cukup.
Banyak pelaku usaha kecewa setelah mengikuti pameran karena merasa telah membawa produk terbaik, tetapi tidak ada buyer yang melakukan pemesanan. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa pasar sedang lesu atau pamerannya kurang berhasil.
Padahal persoalannya belum tentu di sana.
Sering kali masalah utamanya justru karena produk yang dibawa tidak sesuai dengan kebutuhan pembeli.
Pasar memiliki logika yang berbeda dengan pembuat produk. Seorang pengrajin boleh saja menganggap motif tertentu sangat indah atau desain tertentu sangat unik. Namun buyer memiliki pertimbangan lain, mulai dari fungsi produk, tren desain, ukuran, warna, hingga harga yang sesuai dengan target konsumennya.
Karena itu, Huda menilai pelaku usaha harus mulai mengubah cara berpikir.
Membuat produk bukan lagi semata-mata soal kebanggaan pribadi, tetapi tentang kemampuan menjawab kebutuhan pasar.
Pameran Bukan Tempat Berjualan
Pengalaman Huda mengikuti pameran internasional sejak awal tahun 2000-an mengubah cara pandangnya terhadap bisnis.
Saat pertama kali mengikuti pameran internasional, ia membawa produk berbahan eceng gondok yang dipadukan dengan kayu. Respons pasar cukup baik. Namun pengalaman paling berharga justru bukan nilai transaksi yang diperoleh selama pameran.
Ia menyadari bahwa pameran sesungguhnya adalah tempat membangun hubungan.
Tidak sedikit buyer yang datang hanya melihat-lihat, bertukar kartu nama, lalu pulang tanpa membeli apa pun.
Bagi sebagian peserta pameran, kondisi itu mungkin dianggap kegagalan.
Namun Huda justru melihatnya sebagai investasi jangka panjang.
Menurutnya, satu percakapan singkat di booth dapat berkembang menjadi kerja sama bertahun-tahun kemudian. Hubungan bisnis internasional dibangun melalui kepercayaan, bukan sekadar transaksi sesaat.
Karena itu, mengikuti pameran seharusnya tidak hanya mengejar omzet harian, tetapi juga membangun jejaring yang akan membuka peluang di masa depan.
Setiap Negara Memiliki Selera Berbeda

Salah satu pelajaran terbesar yang diperoleh Huda selama menjadi eksportir adalah bahwa tidak ada pasar yang benar-benar sama.
Buyer dari Jepang memiliki ekspektasi berbeda dengan buyer dari Eropa. Demikian pula pembeli dari Taiwan ataupun Amerika.
Perbedaan tersebut bukan hanya soal desain, tetapi juga standar kualitas, spesifikasi produk, hingga cara mereka menjalankan bisnis.
Karena itulah Huda selalu mendorong pelaku usaha untuk melakukan riset sebelum memasuki negara tujuan ekspor.
Menurutnya, kesalahan terbesar bukanlah gagal menjual produk, melainkan datang ke pasar tanpa memahami siapa calon pembelinya.
Di era digital seperti sekarang, proses riset sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan dua dekade lalu.
Berbagai informasi mengenai tren desain, standar produk, preferensi konsumen, hingga regulasi perdagangan dapat diakses melalui internet.
Masalahnya, tidak semua pelaku usaha bersedia meluangkan waktu untuk mempelajarinya.
Standardisasi Bukan Pilihan
Huda juga menekankan pentingnya standardisasi.
Banyak pelaku usaha menganggap setiap produk kerajinan boleh berbeda karena dibuat secara manual.
Padahal ketika memasuki pasar ekspor, buyer justru menginginkan konsistensi.
Produk pertama, kedua, hingga keseratus harus memiliki mutu yang sama.
Karena itu, sebelum berbicara tentang ekspor, pelaku usaha harus memastikan proses produksinya sudah mampu menghasilkan kualitas yang stabil.
Standardisasi tidak hanya berlaku pada kualitas bahan baku, tetapi juga ukuran, warna, finishing, hingga proses pengemasan.
Menurut Huda, kemampuan menjaga konsistensi inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa buyer bersedia melakukan pemesanan berulang.
Jangan Abaikan Regulasi
Selain memahami pasar, Huda mengingatkan pentingnya mempelajari regulasi negara tujuan.
Setiap negara memiliki ketentuan yang berbeda mengenai produk impor.
Ada yang menuntut sertifikasi tertentu, ada yang memiliki standar keamanan produk, dan ada pula yang mengatur penggunaan material tertentu.
Karena itu, pelaku usaha tidak boleh hanya fokus membuat produk yang indah.
Mereka juga harus memahami seluruh persyaratan administratif maupun teknis agar produknya dapat diterima di negara tujuan.
Regulasi terus berubah.
Karena itu, belajar menjadi bagian yang tidak boleh berhenti.
Kolaborasi Lebih Penting daripada Gengsi
Menariknya, Huda mengaku perjalanan bisnisnya tidak dibangun dengan berjalan sendiri.
Saat merintis usaha, ia memilih berkolaborasi dengan beberapa pengrajin yang telah memiliki kemampuan produksi dan modal masing-masing.
Model kerja sama tersebut membuat kapasitas produksi dapat berkembang tanpa harus memikul seluruh beban sendiri.
Pengalaman itu mengajarkan bahwa kolaborasi sering kali lebih efektif daripada memaksakan diri mengerjakan semuanya secara mandiri.
Ketika memperoleh pesanan dalam jumlah besar, jaringan mitra produksi menjadi kekuatan utama untuk memenuhi permintaan buyer tepat waktu.
Bagi Huda, kolaborasi bukan tanda kelemahan, melainkan strategi agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Ekspor Berawal dari Perubahan Cara Berpikir
Huda merangkum beberapa hal yang menurutnya wajib dipersiapkan oleh siapa pun yang ingin memasuki pasar internasional.
Produk harus memenuhi standar, baik untuk pasar lokal maupun global.
Karakter buyer harus dipahami.
Perkembangan desain harus terus diikuti.
Regulasi negara tujuan harus selalu diperbarui.
Semua itu tidak dapat dicapai tanpa kemauan untuk terus belajar.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ekspor bukan sekadar soal mengirim barang ke luar negeri.
Ekspor adalah proses panjang yang dimulai dari perubahan cara berpikir.
Bukan lagi memproduksi apa yang kita sukai, melainkan menghadirkan produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran paling berharga dari perjalanan Syamsul Huda bersama Perada Batik: pasar internasional tidak mencari produk yang paling indah menurut pembuatnya, tetapi produk yang paling mampu menjawab kebutuhan konsumennya.


