Batik bukan sekadar kain bermotif; ia adalah cermin budaya, sejarah, dan identitas. Di tengah pesatnya perkembangan kota Bekasi, hadir sekelompok pengrajin dan pecinta batik yang tergabung dalam Komunitas Batik Bekasi, yang berkomitmen untuk melestarikan dan mengembangkan batik sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

Awal Mula Komunitas
Komunitas Batik Bekasi mulai tumbuh sejak sekitar tahun 2013, saat batik khas Bekasi mulai dikenal luas dan diakui secara resmi oleh pemerintah daerah. Salah satu tokoh sentral dalam komunitas ini adalah Barito Hakim Putra, yang aktif mempromosikan batik Bekasi sejak 2009. Bersama dengan para pengrajin lainnya, komunitas ini membentuk wadah bernama KOMBAS (Komunitas Batik Bekasi) untuk memperkuat jaringan dan kolaborasi.
Misi dan Kegiatan
Komunitas Batik Bekasi memiliki misi utama:
- Melestarikan budaya lokal melalui motif batik yang menggambarkan ikon-ikon kota Bekasi, seperti Gedung Juang, Golok Kembar, dan Tari Topeng.
- Meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan pengrajin, melalui pelatihan, workshop, dan program pendampingan.
- Membangun kesadaran generasi muda terhadap nilai budaya lewat edukasi batik di sekolah dan komunitas.
Kegiatan komunitas meliputi produksi batik tulis dan cap, pelatihan bagi anak muda dan disabilitas, serta partisipasi dalam pameran seni dan UMKM di tingkat lokal maupun nasional.
Tantangan dan Harapan
Meskipun sudah memiliki banyak pencapaian, komunitas ini masih menghadapi tantangan seperti minimnya SDM terampil, persaingan industri tekstil modern, dan kurangnya regenerasi pengrajin muda. Oleh karena itu, pelatihan intensif dan program pengembangan usaha terus digalakkan agar batik Bekasi tetap eksis dan berkembang.
Kolaborasi dan Dukungan
Dukungan dari pemerintah daerah, seperti kebijakan mewajibkan ASN memakai batik lokal pada hari tertentu, sangat membantu eksistensi komunitas ini. Selain itu, kerja sama dengan institusi pendidikan dan pelaku industri kreatif memperluas jangkauan batik Bekasi di pasar.

Komunitas Batik Bekasi adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat hidup berdampingan dengan modernitas, selama ada semangat kolaborasi, pelestarian, dan cinta pada budaya sendiri. Mereka bukan hanya membuat kain, tetapi menenun sejarah dan harapan dalam setiap motifnya.

