Di balik selembar kain batik Bekasi, ada cerita panjang tentang keberanian, keraguan, dan perjuangan yang kerap luput dari sorotan. Menjadi perajin batik di wilayah yang bukan basis budaya batik seperti Bekasi adalah sebuah pilihan yang sejak awal penuh risiko. Namun justru di sanalah letak perjuangannya: merawat identitas di tengah keterbatasan.

“Yang lebih cantik dari ini sebenarnya ada,” ujar Denal, pemilik usaha batik Bekasi dengan brand Canting Ayu. Namun keindahan itu sering kali terhenti di kepala. Bukan karena ide habis, melainkan karena keberanian berspekulasi yang tak selalu dimiliki semua perajin. Banyak yang ragu ketika pesanan datang. Pertanyaan yang muncul bukan soal desain, melainkan soal modal: sanggup atau tidak meng-handle pesanan ini?
Pesanan batik sering kali membutuhkan dana awal yang tidak kecil. Bagi UMKM dengan modal terbatas, keputusan itu berat. Ada yang akhirnya memilih tidak merespons order. Ada pula yang mundur karena khawatir modal tidak kembali cepat. Dalam kondisi seperti ini, sang perajin harus mencari investor lain, atau bahkan mengerjakannya sendiri dengan segala keterbatasan.
Masalah tidak berhenti di produksi. Pembayaran menjadi tantangan berikutnya. Jika berhadapan dengan sektor pemerintahan atau institusi besar, pembayaran bisa mundur satu hingga enam bulan. Pola ini sulit diterima oleh mitra kerja atau investor kecil yang terbiasa dengan sistem “barang datang, uang langsung cair”. Akibatnya, usaha sering mandek—menunggu modal kembali sebelum bisa produksi lagi.
Padahal, jika modal memadai, perajin bisa menyetok barang, memajang karya di etalase toko, bahkan masuk pusat perbelanjaan strategis. Permintaan sebenarnya ada. Namun realitas modal membuat banyak peluang berlalu begitu saja.
Batik, berbeda dengan produk fesyen lain, menuntut biaya besar sejak awal. Bagi sebagian perajin, lebih aman bermain di baju jadi ketimbang kain batik. Menjahit saja sudah mahal, apalagi membatik. Menjual batik cap di harga Rp300 ribu terasa berat ketika pasar dibanjiri batik printing di bawah Rp100 ribu. Jalan tengahnya adalah kualitas: jahitan rapi, bahan bagus, tampilan butik, agar batik bisa dijual di kisaran Rp400–500 ribu. Masalahnya kembali ke modal—bahannya mahal, jahitannya mahal, dan stok seratus potong saja sudah terasa sangat berat.
Denal mengungkapkan, kenyataan lain yang dihadapi perajin batik Bekasi adalah ketergantungan pada order pemerintah. Di luar itu, pasar umum masih sangat terbatas. Masyarakat sering tidak membedakan batik tulis, cap, atau printing. Selama motifnya menarik dan harganya murah, itulah yang dipilih. Tanpa kebijakan yang lebih kuat, batik lokal sulit bersaing di pasar bebas.
Dukungan kebijakan sebenarnya pernah digagas. Ada himbauan penggunaan batik, ada kerja sama dengan dinas, ada pula program pelatihan. Namun banyak yang tidak berkelanjutan. Order dari perusahaan swasta hampir tidak ada. Regulasi yang lebih mengikat belum terwujud.
Di sisi lain, perjalanan batik Bekasi juga menyimpan kisah pertumbuhan. Dulu, jumlah perajin cukup banyak—lebih dari sepuluh unit usaha. Kini, yang bertahan tinggal dua atau tiga. Bekasi memang bukan daerah batik, dan sejak awal, batik di sini seperti “dipaksakan” lahir sebagai identitas baru.
Program pemerintah daerah di masa lalu sempat memberi angin segar. Para pelaku UMKM kriya dilatih membatik, bahkan belajar ke sentra-sentra batik seperti Bandung, Pekalongan, Cirebon, hingga Semarang. Dari sanalah lahir upaya meramu batik Bekasi: harga terjangkau ala Pekalongan, kualitas mendekati Cirebon.
Namun tantangan motif masih besar. Motif Bekasi harus mengangkat unsur lokal agar diterima pemerintah daerah, sementara variasinya terbatas. Akibatnya, ketika dibawa keluar daerah, batik Bekasi kalah bersaing dari segi keragaman.
Di tengah segala keterbatasan itu, perajin bertahan dengan mengerjakan hampir semua lini sendiri—dari desain, pengecapan, pewarnaan, hingga menjahit dan memasarkan. Batik dikelola secara kolektif dalam kelompok atau koperasi, sementara produk baju jadi menjadi penopang pribadi agar dapur tetap mengepul.
“Kalau ditanya, apakah hidup dari batik itu mungkin?” jawabannya jujur: berat. Tapi harapan tetap ada. Batik bukan sekadar komoditas, melainkan identitas budaya. Selama masih ada perajin yang memilih bertahan, kisah batik Bekasi belum selesai—ia hanya menunggu keberpihakan yang lebih nyata.

