https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Herry Daryanto: Menjaga Sirung di Tanah Karawangan

Di sebuah sudut Kabupaten Karawang, berdiri sebuah Workshop Batik Karawang yang lahir bukan dari garis keturunan perajin, melainkan dari kegelisahan seorang aparatur negara yang merasa warisan budaya bangsanya perlahan terabaikan. Di tempat sederhana itu, regenerasi sedang disiapkan. Sang anak, Rysta, mulai dilibatkan. “Memang sedang saya siapkan regenerasinya,” ujarnya. Workshop ini bukan sekadar ruang produksi, melainkan ruang kesinambungan.

Kisah lahirnya Batik Karawang, regenerasi, filosofi motif, dan perjuangan menjaga warisan budaya di tengah industrialisasi.

Awal Keprihatinan: Ketika Klaim Budaya Mengusik Kesadaran

Kegelisahan itu bermula sekitar 2009, ketika konflik klaim budaya antara Indonesia dan negara tetangga mencuat ke publik. Banyak orang bereaksi emosional. Namun ia memilih bersikap rasional. Setelah menelusuri akar persoalan, ia menemukan fakta menarik: banyak perajin batik di negara tersebut ternyata dulunya warga Indonesia yang bekerja di perkebunan, lalu menjadi warga negara setempat. Mereka tetap melestarikan budaya leluhur—budaya Jawa dan batik.

Temuan itu bukan membuatnya marah, melainkan malu.

“Mereka menjaga warisan, sementara kita kurang merasa memiliki.”

Ia memberi ilustrasi sederhana: seperti memiliki kekasih yang selalu kita klaim milik kita, tetapi tidak pernah kita rawat, tidak kita pahami kebiasaannya. Ketika orang lain merawatnya dengan baik, kita justru marah. Dari refleksi itulah muncul gagasan menghadirkan ruang sosialisasi kembali heritage batik di Karawang.

Kisah lahirnya Batik Karawang, regenerasi, filosofi motif, dan perjuangan menjaga warisan budaya di tengah industrialisasi.

Dari PNS ke Penggerak Batik

Hampir 46 tahun ia mengabdi sebagai PNS, terakhir di Dinas Koperasi. Nasionalisme mungkin tumbuh dari pengalaman birokrasi itu. Namun ia menegaskan, kepedulian terhadap batik bukan monopoli pegawai negeri.

Sahabatnya, Komarudin Kudiya dari Rumah Batik Komar, memiliki kepedulian besar karena latar keluarga perajin batik. Sementara dirinya tidak punya latar belakang batik sama sekali.

Sekitar 2015, Bupati Karawang mengumpulkan kepala OPD dan menyampaikan keinginan membangun Kampung Batik. Ia menyampaikan pendapat yang jujur: sulit membangun kampung batik jika sumber daya manusianya nol. Harus ada tempat edukasi terlebih dahulu.

Dari situlah workshop ini dipersiapkan.

Ia berkonsultasi dengan Komarudin Kudiya, yang mendukung penuh bahkan siap memberikan pelatihan hingga benar-benar bisa. Sejak 2015, tempat itu difokuskan sebagai ruang edukasi batik Karawang. Sebelumnya belum ada gerakan terstruktur.

Kisah lahirnya Batik Karawang, regenerasi, filosofi motif, dan perjuangan menjaga warisan budaya di tengah industrialisasi.

Edukasi Antusias, Produksi Tersendat

Respon masyarakat terhadap edukasi sangat positif. Anak TK hingga mahasiswa datang belajar. Bahkan mahasiswa yang menulis skripsi dan tesis menjadikan workshop itu sebagai rujukan.

Namun tantangan muncul ketika masuk tahap profesional.

Karawang kini dikenal sebagai kawasan industri besar. Pabrik-pabrik berdiri megah. Hasil kerja instan lebih menarik bagi anak muda dibanding proses membatik yang panjang, sabar, dan penuh risiko.

Dari ratusan peserta pelatihan, hanya sekitar tujuh orang yang benar-benar serius. Enam di antaranya sudah layak produksi. Kebanyakan ibu-ibu. Peserta laki-laki lebih banyak saat pelatihan, tetapi jarang bertahan karena faktor ekonomi.

Ia berharap suatu saat ada pihak yang memiliki kemampuan finansial dan kepedulian untuk mengoordinasikan para perajin yang sudah dididik. Bukan untuk membesarkan dirinya, tetapi agar ekosistem batik Karawang benar-benar tumbuh.

Kisah lahirnya Batik Karawang, regenerasi, filosofi motif, dan perjuangan menjaga warisan budaya di tengah industrialisasi.

Mandiri Tanpa Bergantung

Dukungan pemerintah daerah diakuinya cukup, terutama dalam pelatihan SDM. Setiap tahun ada anggaran pelatihan, meski 2025 sempat ia tolak demi evaluasi.

Namun workshop itu tidak bergantung pada dana pemerintah.

Ia memiliki usaha toko suku cadang dan ternak ayam. Keuntungannya disisihkan untuk membeli bahan batik dan membiayai operasional. Prinsipnya sederhana: selama sehat dan masih diberi umur, tempat ini akan tetap ada.

Tawaran CSR pun kerap ia tolak. Jika ingin membantu, kirimkan peserta dan biayai transport serta konsumsi mereka. Edukasi biar menjadi tanggung jawabnya.

Batik dan Kesadaran Historis

Ia sering prihatin melihat minimnya minat masyarakat menghadiri kegiatan sejarah di Karawang. Padahal daerah ini memiliki banyak situs penting seperti Candi Jiwa dan Candi Blandongan.

Sejarah, baginya, bukan sekadar masa lalu. Ia adalah cermin perjalanan hidup.

Batik dan kehidupan agraris pun tidak bisa dipisahkan. Setelah masa tanam hingga panen, masyarakat di sentra batik mengisi waktu dengan membatik. Batik lahir dari ritme tani.

Masalahnya bukan pada sistem, tetapi pada pola hidup.

Gaya Hidup atau Hidup Gaya?

Ia membedakan “gaya hidup” dan “hidup gaya”.

Gaya hidup adalah pilihan orang mampu. Hidup gaya adalah paksaan orang yang belum mampu mengikuti tren. Anak SMA memaksa minta gawai mahal, orang tua berutang ke bank emok, gali lubang tutup empang.

Negara bisa membantu lewat bantuan sosial, tetapi jika pola pikir tidak berubah, sulit maju. Ia sedih melihat orang antre bantuan turun dari motor terbaru, sementara yang rumahnya hampir roboh tak kebagian.

Refleksi sosial ini tidak terpisah dari gagasannya tentang batik. Bagi dia, membatik adalah latihan kesadaran.

Membatik: Melatih IQ, EQ, dan SQ

Dalam membatik dibutuhkan imajinasi—merangsang IQ.
Dibutuhkan kesabaran dan ketekunan—mengasah EQ.
Dibutuhkan kesadaran makna hidup—menyentuh SQ.

Tidak ada pembatik emosional. Jika marah, canting bisa rusak, malam meleler, kain gagal. Namun kegagalan pun bisa diolah menjadi motif baru. Dari kesalahan lahir inovasi.

Dulu batik bersifat sakral. Kini lebih terbuka. Semua boleh memakai batik. Perubahan zaman tak perlu ditolak mentah-mentah. Bahkan celana sobek pun menggerakkan ekonomi.

Seratus Motif dan Dua Identitas

Ia telah menciptakan sekitar 100 motif. Tidak dipatenkan. Siapa pun boleh meniru, asal jujur menyebut sumbernya.

Dua motif ingin ia dorong sebagai identitas Karawang.

1. Motif Sirung (Tunas)

Sirung berarti tunas dalam bahasa Sunda. Filosofinya merujuk pada sejarah Karawang sebagai tempat lahirnya naskah Proklamasi. Karawang adalah tunas kemerdekaan Indonesia.

Sirung adalah harapan. Tumbuh perlahan, tetapi pasti.

2. Motif Padi Gendang

Karawang dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Jika Karawang gagal panen, dampaknya luas. Istilah “Goyang Karawang” bukan soal tari Jaipongan atau Topeng Banjet. Itu istilah pemerintah pusat untuk menggambarkan situasi ketika produksi pangan Karawang terganggu.

Jika Karawang goyang, pusat ikut goyang.

Selain itu ada motif Padi Gendang, menggabungkan identitas agraris dan kesenian berbasis gendang—ruh penari terletak pada pukulan gendang.

Ada pula motif teratai yang tumbuh di rawa-rawa Karawangan, motif eceng gondok yang bertransformasi dari hama menjadi sumber ekonomi, serta unsur Ujang dan daun talas yang melambangkan karakter Sunda.

Ia tidak mengklaim padi atau teratai sebagai khas Karawang. Yang membedakan adalah bentuk dan filosofi.

Bukan Produsen, Tapi Pendidik

Ia jarang memakai batik buatannya sendiri. Bahkan melarang promosi berlebihan. Karena jika pesanan membludak, belum tentu bisa memenuhi.

“Kami bukan produsen massal. Kami pendidik.”

Ia ingin membangun SDM terlebih dahulu. Jika suatu saat para perajin tumbuh banyak, ia siap menjadi penyalur kain dan pewarna. Bahkan sudah menyiapkan instalasi pengolahan limbah agar pewarnaan tidak mencemari lingkungan.

Refleksi Usia dan Makna Hidup

Kini usianya 65 tahun. Ia menyebut usianya itu sebagai bonus.

Husnul khatimah, baginya, bukan harus wafat di masjid. Jika meninggal saat mengajar membatik, itu pun baik. Dulu saat menjadi ASN, rapat harus jas dan dasi. Kini ia memilih hidup lebih merdeka.

Yang penting esensinya sampai.

Ia tidak ingin ide besar berlebihan. Ia hanya ingin berbagi lewat batik, membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang mencintai warisan budaya.

Selama ada kesadaran dan kemauan menjaga, batik Karawang akan tetap tumbuh.

Seperti sirung.

Tunas kecil yang pelan-pelan menguat, menembus tanah, mencari cahaya—dan suatu hari menjadi pohon yang menaungi generasi berikutnya.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif Batik Weton Selasa Kliwon padukan api biru dan ether, simbol tradisi Cirebon dalam struktur tambal kanoman.

Ini Penampakan Motif Batik Weton Selasa Kliwon

Motif Batik Weton Minggu Pahing karya Nurohmad hadirkan api, matahari, harimau dan cakra dalam struktur sarung filosofis.

Motif Batik Weton Minggu Pahing: Api, Matahari, dan Harimau dalam Struktur Sarung