Di balik kesibukan hotel yang tak pernah tidur, nama Melvin Jonathan Kindangen menorehkan jejak panjang. Lahir di Jakarta pada 1983, ia memulai perjalanan kariernya dari posisi paling dasar di industri hospitality, hingga kini menjabat Combo General Manager HARRIS & POP! Hotels & Convention Festival Citylink Bandung di bawah naungan The Ascott Limited.

Bagi Melvin, menjadi seorang General Manager bukanlah soal gelar semata. Itu adalah hasil dari sebuah proses panjang, penuh disiplin, jatuh bangun, dan keteguhan hati—layaknya batik yang indah hanya bisa lahir lewat panas, lilin, dan warna yang berlapis.
Dari Bar Trainee ke Dunia Internasional
Perjalanan Melvin dimulai jauh sebelum ia memimpin hotel berbintang. Dari trainee di Hard Rock Hotel Bali (1999), ia melangkah ke berbagai pengalaman internasional: Sofitel Miami, Four Seasons Jackson Hole, hingga WestCord Hotels di Belanda.
“F&B itu seperti angkatan darat,” kenangnya. “Mobilisasi umum, infantri. Semua serba cepat, keras, penuh disiplin. Dari sanalah saya belajar spontanitas dan kreativitas—meng-utilisasi resource yang ada.”
Disiplin ala F&B itulah yang membentuk instingnya: mengambil keputusan cepat, menghadapi tekanan, dan menyelesaikan krisis. Sebuah fondasi yang kelak sangat berguna ketika ia naik ke posisi manajerial.

Naik Kelas: Dari Outlet Manager ke Executive Level
Karier Melvin menanjak ketika bergabung dengan Hotel Indonesia Kempinski Jakarta (2010–2012). Sebagai Outlet Manager di Lobby Nirwana Lounge, ia mencetak pertumbuhan revenue 33% per tahun dan meraih gelar Manager of the Year 2012.
Setelah itu, ia dipercaya dalam berbagai proyek pre-opening hotel besar: Grand Mercure Jakarta Harmoni, Holiday Inn Jakarta Kemayoran, hingga Grand Mercure Jakarta Kemayoran. Melvin dipercaya menjadi Director of Food and Beverage, hingga ia terbiasa mengelola skala besar dengan kompleksitas tinggi.
“F&B melatih saya untuk melihat detail dan bergerak cepat. Tapi ketika jadi GM, saya harus belajar menyatukan semuanya—dari persuasi, mobilisasi, hingga negosiasi,” ujarnya.
Menjadi General Manager: Pontianak, Puncak, hingga Bandung
Lompatan besar datang ketika Melvin dipercaya menjadi General Manager Pesona Alam Resort & Spa di Puncak (2017–2019), lalu pindah ke HARRIS Hotel Pontianak (2019–2022).
Namun, tantangan terbesar datang ketika dunia dilanda pandemi COVID-19. Hotel sepi, revenue anjlok, dan ribuan pekerja industri hospitality menghadapi ketidakpastian.
“Saya potong gaji 80% duluan, biar tim lihat saya ikut berkorban. Ada yang 70%, 60%, 50%. Bahkan yang dirumahkan masih saya kasih 15% per bulan, biar mereka tetap bisa bertahan. Kapal harus jalan, walau badai besar,” kisahnya.
Strategi kepemimpinannya sederhana tapi bermakna: menyelamatkan moral tim lebih dulu. Baginya, krisis adalah ujian karakter. Seperti batik, warna indah tidak akan muncul tanpa panas yang membakar.

Filosofi: Pendidikan, Pengalaman, dan Hidayah
Bagi Melvin, ada tiga hal yang membentuk seorang pemimpin: pendidikan, pengalaman, dan hidayah. Pendidikan memberi teori, pengalaman mengasah keputusan, dan hidayah membuka jalan yang kadang tak terlihat.
“Saya percaya ada suara batin, intuisi, atau wahyu yang datang di luar nalar. Kadang teori bilang A, pengalaman bilang B, tapi hati kecil bilang C. Dan ternyata itu yang benar. Itulah yang membuat saya bisa bertahan,” katanya.
Prinsip hidupnya sederhana: takut akan Tuhan. Bagi Melvin, rasa takut pada Tuhan adalah fondasi moral yang menuntunnya dalam setiap keputusan, baik di pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Batik dan Jati Diri
Melvin memandang batik bukan sekadar kain, melainkan proses hidup. Dari mencanting, mencelup, hingga memanaskan malam, semua butuh kesabaran. Begitu pula manusia: warna sejati baru terlihat setelah melalui panas kehidupan.
Ia pun kerap memasukkan unsur batik dalam seragam hotel yang dipimpinnya. “Batik itu jati diri bangsa. Kalau kita tidak pakai, jangan kaget kalau nanti negara lain yang mengklaimnya,” tegasnya.
Bagi para pembatik, ia berpesan agar jangan menyerah. Adaptasi adalah kunci: batik bisa hadir bukan hanya di busana, tetapi juga fashion modern dan seragam. “Kita masih butuh pembatik, dan batik harus terus diperdengarkan ke seluruh dunia.”
Epilog
Melvin Jonathan Kindangen adalah contoh nyata bagaimana proses panjang—dari trainee F&B hingga General Manager—membentuk kepemimpinan yang tangguh. Filosofinya sederhana: kerja keras, adaptasi, dan takut akan Tuhan.
Seperti batik, perjalanan hidupnya adalah rangkaian canting, celupan, dan panas yang akhirnya melahirkan corak unik: seorang pemimpin hotel yang tidak hanya mengelola bisnis, tetapi juga menjaga manusia di dalamnya.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

