https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Denyut Nadi Malaysia Dalam Selembar Kain Batik

Arif Rafhan mengangkat batik sebagai medium cerita tentang harmoni, identitas Malaysia, dan evolusi budaya melalui motif yang sarat makna - Bernama Pic

Di tengah semarak perayaan Hari Batik Malaysia 2025 di Kuala Lumpur, perhatian publik tertuju pada sebuah karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna. Arif Rafhan Othman, seniman visual berusia 48 tahun yang lebih dikenal sebagai Superdoofus, memamerkan sebuah karya batik yang seolah merangkum denyut nadi Malaysia—hidup, beragam, dan penuh harmoni. Baginya, batik bukan sekadar motif atau permainan warna; batik adalah ruang bercerita yang memungkinkan publik menelusuri lapisan sejarah, identitas, dan kemanusiaan yang membentuk masyarakat Malaysia hari ini.

Di hadapan media, lulusan UiTM itu menunjukkan bagaimana setiap motif dalam karyanya dipilih dengan teliti. Sebuah peta Malaysia tergambar dengan ragam motif yang mewakili elemen budaya berbagai etnis: kipas untuk komunitas Tionghoa, rumah ibadah sebagai simbol spiritualitas, hingga detail lain yang menyatukan identitas bangsa. Yang menjadi protagonis adalah bunga cempaka—motif yang ia sebut sebagai “tulang punggung harmoni” karena sering muncul sebagai elemen utama dalam batik Malaysia. “Kita ini federasi, bukan satu etnis. Karya ini menunjukkan bagaimana berbagai ras dan negeri bersatu sebagai satu negara,” ujarnya.

Keyakinan Arif pada kekuatan seni sebagai medium penyampai pesan membuat karya-karyanya melampaui estetika. Ia ingin batik tetap relevan, bukan sekadar tren sesaat. Ia mengingat bagaimana pada era 1990-an motif batik hanya digunakan sebagai hiasan fesyen, tanpa cerita yang menyertainya. Menurutnya, batik akan bertahan bukan karena tren, melainkan karena narasi yang mengikatnya dengan pengalaman masyarakat. Sejak terjun ke dunia ilustrasi pada 2014, ia pun menekankan pentingnya memadukan budaya lokal, pengalaman pribadi, dan isu sosial dalam setiap karyanya.

Salah satu contoh paling kuat adalah karyanya bertema solidaritas Palestina. Arif memadukan unsur batik Malaysia dengan Tatreez—sulaman tradisional Palestina—serta palet warna semangka yang melambangkan ketahanan. Hasilnya bukan hanya karya visual yang memukau, melainkan juga simbol hubungan emosional antara dua bangsa.

Pandangan Arif terhadap evolusi batik juga mencerminkan optimisme. Ia melihat batik kini tidak lagi terkurung dalam pola dan warna tradisional. Era digital dan perubahan selera global membuat batik berevolusi secara alami. Ia menyebut bahwa baik Malaysia maupun Indonesia kini bergerak menuju gaya-gaya baru, termasuk eksplorasi abstraksi, garis, titik, hingga pusaran yang sebelumnya tak lazim muncul dalam batik klasik. “Zaman berubah. Tidak mungkin orang terus membeli corak yang sama dari era 1940-an. Semua elemen seni berkembang,” katanya.

Melalui karya dan pemikiran Arif Rafhan, batik kembali berdiri sebagai medium lintas batas—menghubungkan budaya, menyuarakan solidaritas, dan merayakan keragaman. Dalam tangan seorang seniman, batik bukan hanya motif; ia adalah kisah yang terus hidup dan berevolusi bersama masyarakatnya.

Sumber

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Pameran Batik Tiga Negeri di Yogyakarta dorong perajin batik, hadirkan karya Afif Syakur, dan tegaskan batik sebagai seni masa depan.

Yogyakarta Dorong Perajin Batik Berinovasi Lewat Pameran “Batik Tiga Negeri”

Batiklopedia.com menghadiri New Look Atria Hotel Malang dan mengikuti media trip seru ke Coban Putri serta petik apel di Batu Malang.

Video: New Look Atria Hotel Malang