Yogyakarta – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) MTs Negeri 6 Sleman tahun ajaran baru diisi dengan kegiatan edukatif berupa kunjungan ke sentra Batik Banyu Sabrang, Prambanan, Sleman. Dalam kegiatan tersebut, para siswa baru tidak hanya mengenal sejarah batik, tetapi juga mempraktikkan langsung proses membatik mulai dari mencanting hingga pewarnaan kain.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya sekolah mengenalkan warisan budaya Indonesia melalui pengalaman belajar di luar kelas. Kepala MTs Negeri 6 Sleman dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Batik Banyu Sabrang yang telah menerima rombongan siswa untuk mengikuti pembelajaran berbasis budaya.
“Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia kepada siswa baru, khususnya batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa. Kami berharap pengalaman ini memberikan manfaat besar dan menumbuhkan kecintaan terhadap batik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para peserta agar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh karena kesempatan belajar langsung di tempat produksi batik merupakan pengalaman yang tidak dimiliki semua sekolah.
“Siapa tahu nanti ada yang bercita-cita menjadi pengusaha batik, perajin, maupun desainer batik. Karena itu manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” tambahnya.
Owner Batik Banyu Sabrang, Hanang Mintarta, menjelaskan bahwa batik merupakan Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah diakui UNESCO pada 2 Oktober 2009. Pengakuan tersebut menjadi dasar diperingatinya Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.
Menurut Hanang, Yogyakarta juga menyandang predikat sebagai Kota Batik Dunia karena konsistensinya dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan tradisi batik. Berbagai kegiatan edukasi, termasuk kunjungan pelajar ke sentra batik, menjadi bagian dari upaya mempertahankan predikat tersebut.
“Kalau orang luar negeri mengenal batik, kita berharap mereka juga mengenal Yogyakarta sebagai salah satu pusat batik dunia. Karena itu kita harus bangga dan ikut melestarikannya,” kata Hanang.
Dalam sesi materi, Hanang memperkenalkan definisi batik sebagai teknik membentuk motif pada kain menggunakan malam panas atau lilin batik sebagai perintang warna. Ia menegaskan bahwa penggunaan malam menjadi unsur utama yang membedakan batik dengan kain bermotif lainnya.
Para siswa juga dikenalkan pada tiga jenis batik yang diakui UNESCO, yakni batik tulis, batik cap, dan batik kombinasi. Hanang memperlihatkan berbagai peralatan membatik seperti canting, malam, kain mori, wajan, gawangan, hingga bahan pewarna alami dan sintetis.
Selain teori, peserta memperoleh penjelasan mengenai tahapan produksi batik, mulai dari membuat sketsa motif menggunakan pensil, proses mencanting, pewarnaan menggunakan zat warna reaktif Remasol, fiksasi dengan waterglass, hingga pelorodan untuk menghilangkan lapisan malam sehingga motif batik tampak sempurna.
Memasuki sesi praktik, setiap siswa mendapatkan selembar kain untuk dihias menggunakan canting. Hanang bersama para pembatik mendampingi peserta secara langsung, mengajarkan cara memegang canting, mengendalikan aliran malam, hingga membuat motif sesuai kreativitas masing-masing.
Ia juga mengingatkan peserta agar berhati-hati menggunakan malam panas serta menjaga kerapian karya. Menurutnya, proses membatik mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kreativitas.
Melalui kegiatan MPLS di Batik Banyu Sabrang, MTs Negeri 6 Sleman tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap budaya Indonesia sejak dini. Pengalaman belajar langsung di sentra produksi batik diharapkan menjadi bekal bagi generasi muda untuk lebih menghargai proses panjang di balik selembar kain batik sekaligus turut menjaga kelestarian warisan budaya bangsa.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

