https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

BI Tegal Tak Lagi Fokus Inflasi? Budaya, Batik, dan Kuliner Kini Jadi Senjata Dongkrak Ekonomi

BI Tegal mengembangkan budaya, batik, kuliner, dan wisata sebagai strategi menggerakkan ekonomi masyarakat di eks Karesidenan Pekalongan.
BI Tegal mengembangkan budaya, batik, kuliner, dan wisata sebagai strategi menggerakkan ekonomi masyarakat di eks Karesidenan Pekalongan.

Tegal – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal memperluas strategi penguatan ekonomi daerah dengan menjadikan budaya, pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif sebagai penggerak baru pertumbuhan masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan aktivitas ekonomi di tengah tantangan ekonomi global sekaligus memperkuat daya saing potensi lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala, mengatakan pengembangan budaya tidak lagi dipandang semata sebagai upaya pelestarian tradisi, melainkan telah menjadi instrumen ekonomi yang mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor usaha.

“Kami ingin budaya lokal menjadi daya tarik wisata. Ketika wisatawan datang, mereka menggunakan transportasi, makan, membeli oleh-oleh, dan itu yang menggerakkan ekonomi,” ujar Bimala di sela kegiatan Networking dan Penguatan Sinergi Bank Indonesia dengan Media di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, setiap penyelenggaraan festival budaya berpotensi menggerakkan sektor transportasi, perhotelan, kuliner, perdagangan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Karena itu, BI Tegal terus mendorong berbagai agenda budaya agar memiliki dampak ekonomi yang lebih luas.

Salah satu contoh implementasi strategi tersebut adalah Festival Bubur Suro di Kota Pekalongan. BI Tegal bersama berbagai pemangku kepentingan mengemas festival tersebut dengan lebih atraktif melalui kirab budaya serta melibatkan berbagai komunitas, termasuk lomba burung berkicau atau Kicau Mania.

Bimala menjelaskan, kolaborasi tersebut tidak hanya meningkatkan jumlah pengunjung, tetapi juga melahirkan inovasi sosial melalui program wakaf produktif. Seluruh biaya pendaftaran peserta Kicau Mania disalurkan sebagai dana wakaf yang berhasil menghimpun sekitar Rp71 juta. Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya benih salak guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Yang menarik, biaya pendaftaran komunitas Kicau Mania langsung disalurkan untuk wakaf. Respons komunitas sangat baik dan hasilnya mencapai Rp71 juta,” katanya.

Selain budaya, BI Tegal juga memperkuat promosi sektor kuliner melalui program nasional QRIS Jelajah Indonesia yang pada 2026 mengusung tema kuliner. Berbagai makanan khas dari Kota Pekalongan, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes dipromosikan melalui media sosial sekaligus mendorong penggunaan transaksi digital berbasis QRIS.

“Kami ingin sektor kuliner ikut naik kelas. Harapannya kuliner-kuliner dari wilayah kerja kami bisa masuk final tingkat nasional sehingga mendapatkan pembinaan lebih lanjut,” ujar Bimala.

Komitmen pengembangan ekonomi kreatif juga diwujudkan melalui pembinaan kepada para perajin batik. BI Tegal bekerja sama dengan maestro batik Dudung Alisyahbana untuk memberikan pelatihan mulai dari pengembangan motif, teknik pewarnaan, hingga inovasi produk. Di sisi lain, pembinaan juga diarahkan kepada para pembatik artisan di Kabupaten Batang agar potensi batik daerah semakin dikenal.

Bimala menegaskan, keberhasilan pembangunan ekonomi daerah memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, komunitas, media, hingga masyarakat. Menurutnya, semakin luas promosi terhadap potensi budaya, pertanian, kopi, batik, dan kuliner daerah, semakin besar pula peluang meningkatnya kunjungan wisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami mengajak semua pihak ikut mempromosikan potensi daerah. Semakin banyak orang datang dan mengenal daerah ini, maka ekonomi masyarakat juga akan semakin bergerak,” pungkasnya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Siswa baru MTs Negeri 6 Sleman mengikuti MPLS di Batik Banyu Sabrang, belajar proses membatik dan pelestarian budaya Indonesia.

MPLS MTs Negeri 6 Sleman Belajar Membatik di Batik Banyu Sabrang, Siswa Kenali Proses Batik dari Canting hingga Pewarnaan

YBJB suarakan kembali regenerasi perajin batik

Jambore Batik Jawa Barat 2026 Digelar 24–25 Oktober, Pemilihan Duta Batik Siapkan Regenerasi Pecinta Batik