Klaim Malaysia terhadap budaya batik muncul dari beberapa faktor yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan politik. Beberapa alasan yang menjelaskan mengapa Malaysia mengklaim batik diantaranya adalah sebagai berikut:

Warisan Budaya Bersama
Malaysia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan dalam budaya, termasuk dalam seni dan tradisi. Batik, sebagai teknik dan seni pembuatan kain, telah ada di kedua negara. Malaysia menganggap batik sebagai bagian dari warisan budaya mereka yang juga dipengaruhi oleh sejarah dan interaksi antara kedua negara.
Pengakuan Internasional
Di tahun 2008 masyarakat Indonesia dihebohkan oleh sikap Malaysia yang menyebutkan bahwa batik adalah warisan kebudayaan asli Negeri Jiran. Masyarakat Indonesia pun mendesak Pemerintah Indonesia untuk mendaftarkan batik sebagai warisan asli Indonesia ke UNESCO.
Pemerintah Indonesia resmi mendaftarkan batik ke dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO pada 3 September 2008. Pada 9 Januari 2009, UNESCO resmi menerima pendaftaran tersebut dan melakukan pengujian tertutup pada 11-14 Mei 2009.
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO resmi mengukuhkan batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui sidang Intergovernmental Committee for the Safeguard of the Intangible Cultural Heritage. Setelah penetapan oleh UNESCO tersebut, kasus pengakuan batik sebagai warisan budaya asli Malaysia pun selesai.
Promosi Pariwisata
Batik sering kali dipromosikan sebagai salah satu daya tarik budaya dalam industri pariwisata Malaysia. Bahkan pada 2021 silam, Miss World Malaysia Lavanya Sivaji, menyebutkan bahwa batik berasal dari negaranya. Hal itu diungkapkan saat membagikan momen malam final Miss World Malaysia 2021 melalui akun Instagram pribadinya.
“Kain batik melambangkan keragaman di antara orang Malaysia dengan berbagai warna, cetakan, dan desainnya. Oleh karena itu, saya mempersembahkan kepada Anda gaun malam saya untuk Miss World Malaysia 2021 yang terbuat dari kain batik Malaysia,” tulis Lavanya Sivaji melalui unggahan di Instagram.
Pernyataan tersebut pun langsung mendapatkan kecaman dari Masyarakat Indonesia utamanya warganet Indonesia. Mereka menegaskan bahwa batik adalah kebudayaan asli Indonesia, bukan Malaysia.
Merespons hal tersebut, Sivaji pun langsung menyampaikan permintaan maaf.
Kebangkitan Identitas Nasional
Dalam konteks globalisasi, banyak negara, termasuk Malaysia, berusaha untuk memperkuat identitas nasional mereka. Mengklaim batik sebagai bagian dari budaya mereka membantu meningkatkan rasa kebanggaan nasional dan identitas budaya di kalangan masyarakat Malaysia.
Perbedaan dalam Teknik dan Desain
Meskipun teknik dasar pembuatan batik mirip, Malaysia memiliki teknik dan desain batik yang khas. Mereka mengembangkan gaya batik mereka sendiri, yang membedakannya dari batik Indonesia. Ini memberikan dasar bagi klaim bahwa batik adalah bagian dari warisan budaya mereka.
Politik dan Hubungan Diplomatik
Klaim atas warisan budaya seringkali dipicu oleh isu politik dan hubungan antara negara. Ketegangan atau perbedaan antara Indonesia dan Malaysia dalam konteks budaya bisa memicu klaim semacam ini.
Klaim Malaysia atas batik menunjukkan kompleksitas hubungan antara budaya dan identitas nasional. Meskipun batik berasal dari Indonesia dan diakui sebagai warisan budaya Indonesia, pengaruh budaya yang saling berinteraksi di antara negara-negara di kawasan ini telah menciptakan ruang bagi klaim yang beragam.
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di:

