https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Yogyakarta Dorong Perajin Batik Berinovasi Lewat Pameran “Batik Tiga Negeri”

Pameran Batik Tiga Negeri di Yogyakarta dorong perajin batik, hadirkan karya Afif Syakur, dan tegaskan batik sebagai seni masa depan.

Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat kreativitas batik Nusantara. Suasana hangat dan penuh warna mewarnai pembukaan pameran “Batik Tiga Negeri” di Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) Kota Yogyakarta, Rabu (3/12). Di tengah deretan motif yang memikat, Kepala Disperindagkop UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menyampaikan pesan penting kepada para perajin batik: inovasi adalah kunci masa depan batik.

Dengan semangat optimis, Karyadi menegaskan bahwa pasar nasional memiliki potensi luar biasa yang tidak kalah besar dibanding pasar global. Ia mendorong perajin batik di Yogyakarta untuk membaca peluang tersebut, memperhatikan selera konsumen di dalam negeri, dan terus melahirkan karya yang kreatif serta relevan.

“Kota Yogyakarta sedang mendorong perajin-perajin batik untuk selalu berinovasi dan meningkatkan kualitas desain,” ujar Karyadi. Ia berharap pameran ini menjadi ruang belajar dan inspirasi bagi IKM dan UMKM batik untuk naik kelas.

Pameran yang berlangsung hingga 9 Desember ini menampilkan 25 karya batik besutan seniman Afif Syakur. Deretan Batik Tiga Negeri Tempo Dulu, motif Keong Sari, hingga Satria Wibawa terpajang sebagai wujud pertemuan tradisi dan eksplorasi kreatif masa kini.

Afif menjelaskan bahwa konsep Batik Tiga Negeri mengacu pada teknik pewarnaan yang dilakukan di tiga daerah: Lasem, Pekalongan, dan Yogyakarta/Solo. Dalam kesempatan yang sama, ia meluncurkan bukunya “Batikku Tiga Negeri”, sebagai bentuk dokumentasi sekaligus refleksi perjalanan kreatifnya.

“Batik bukan masa lalu saja, tapi masa kini dan masa depan. Batik masa depan menurut saya tidak ada batasnya,” ungkap Afif dengan semangat.

Pembukaan pameran juga dihadiri GKBRAy Adipati Paku Alam X, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap karya Afif. Menurut beliau, batik yang dibuat dengan cinta, pemahaman budaya, dan proses panjang akan selalu lahir sebagai karya seni yang melampaui waktu.

“Inilah warisan yang sesungguhnya—lebih dari sekadar produk pakai habis,” tutur GKBRAy.

Melalui pameran ini, Kota Yogyakarta tidak hanya memperlihatkan keindahan batiknya, tetapi juga menegaskan bahwa regenerasi dan inovasi adalah pondasi penting bagi keberlanjutan wastra Nusantara. Dan dari PDIN Yogyakarta, gema kreativitas itu kembali menyebar, menyapa para pecinta batik dari berbagai kalangan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Inovasi Batik Kura-Kura memadukan tradisi batik dengan algoritma digital, menghadirkan motif baru melalui teknologi turtle graphics.

Batik Kura-Kura: Teknologi Digital Untuk Memperkaya Teknik Tradisi

Arif Rafhan mengangkat batik sebagai medium cerita tentang harmoni, identitas Malaysia, dan evolusi budaya melalui motif yang sarat makna - Bernama Pic

Denyut Nadi Malaysia Dalam Selembar Kain Batik