https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

FIRMAN SAUQI, SAKSI HIDUP BATIK BANYUWANGI MASIF DIKEMBANGKAN

Di Banyuwangi, ia membuat brand usahanya, Godho Batik Banyuwangi. Keahliannya sebagai seniman lukis tercurah di batik buatannya.

Dirinya adalah pelukis pada awal karirnya sejak tahun 1991. Berada di Pulau Dewata, bakatnya dicurahkan di helai-helai kain dan menjanjikan sebagai komoditas dagang. Namun krisis moneter 1997 meluluhlantakkan usahanya hingga akhirnya ia pulang ke kota kelahirannya, Banyuwangi.

FIRMAN SAUQI TOKOH BATIK BANYUWANGI
Batiklopedia.com menyambangi workshop Firman Sauqi dan diajak berfoto bersama.

Di Banyuwangi, ia membuat brand usahanya, Godho Batik Banyuwangi. Keahlian melukisnya dipresentasikan ke batik yang lebih kompleks pembuatannya. Bahkan dirinya tidak menjadikan perbedaan membuat karya keduanya. Kemampuan menggambarnya menghasilkan motif-motif ciamik dengan teknik pewarnaan khas.

“Sejak di Bali kita pakai remasol. Dan pewarnaan batik saya akhirnya pakai remasol. Ini berbeda dengan batik buatan teman-teman lainnya yang pakai naftol. Bahkan mereka bingung saya pakai remasol.”

Ia pun memberitahukan caranya kepada pembatik Banyuwangi yang penasaran pewarnaan remasol.

Merugi

Di balik kelanggengan usahanya hingga kini, ia pernah merugi besar akibat mengekspor kain lukisnya sewaktu di Bali. Tepatnya di rentang 1996 – 1997 di masa krisis moneter.

“Sudah beberapa kontainer kami kirim kain lukis ke Italia melalui kolega saya bernama John Gregg. Rupanya orang Italia itu tidak membayar dan John Gregg tidak dapat menemukan pembelinya tersebut.”

Firman Sauqi mengalami kerugian sebesar Rp 450 juta.    

“Barang saya sudah nggak ada. Tetapi harus ada yang terjual. Untung teman-teman yang masih punya stok barang, waktu itu membantu saya memenuhi pesanan. Saya bertahan sampai tahun 2000 di Bali.

Kerugiannya tersebut tidak membuatnya jera. Namun kondisi terjepit harus disiasati dengan taktis. Di tahun 2001 Firman pulang kampung ke Banyuwangi, melanjutkan usaha kain lukisnya.



“Saat itu batik Banyuwangi masih sedikit pemainnya dan kebanyakan membuat motif-motif lawasan. Saya juga masih membuat batik dengan teknik colet. Alasannya, biar cepat terjual untuk memulihkan kondisi.”

Tapi Firman menyadari, ada pepatah Banyuwangi yakni, sing wareg yo wareg (yang kenyang ya kenyang). Artinya batik bisa sukses terjual jika sudah ada nama dan dekat dengan pasarnya. Kala itu yang banyak menggunakannya adalah dari kalangan pemerintah daerah.

“Hingga suatu ketika ada tender batik dengan motif gajah oling. Saya dicari-cari pengusaha yang memenangkan tender tersebut untuk bersedia memproduksinya. Kebetulan saya punya sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan sedang berwisata ziarah di Madura. Pengusaha itu menghubungi saya dan minta kesediaan saya memenuhi pesanannya.”

Bersama pengusaha itu, Firman Sauqi dibukakan jalan melalui koneksi-koneksi pengusaha tersebut. Hingga pada saat pecah Kongsi, Firman Sauqi tetap mendapatkan orderan dari koneksi-koneksinya tersebut.

Kandang Kuda

Waktu terus berjalan, usaha batik yang dibangun di Banyuwangi membutuhkan waktu lama untuk establish. Hingga pada akhirnya di tahun 2011, Firman Sauqi memberanikan diri membuat Godho Batik Banyuwangi.

“Showroom saya masih kendang kuda, belum seperti saat ini. Namun dari situ saya tahap demi tahap mulai dipercaya teman-teman hingga menjadi Ketua Asosiasi Sekarjagad Blambangan.”

Selama menjabat menjadi ketua, Firman Sauqi rajin menginformasikan dan mengedukasi pembatik Banyuwangi untuk turut dalam pameran-pameran. Program kerja tersebut didasarkan atas dukungan pemerintah daerah Banyuwangi mempromosikan dan memperkenalkan batik Banyuwangi ke masyarakat luar.

Firman Sauqi memasukan agenda kerja asosiasi ke dalam event ternama Banyuwangi yakni Banyuwangi Batik Festival.

“Intinya festival batik itu dibuat setiap tahunnya untuk mengenalkan satu-persatu motif yang ada di Banyuwangi. Event ini mulai terselenggara sejak tahun 2013 hingga kini.”

Tanggal Cantik

Firman Sauqi sadar, UMKM daerah tidak akan terdongkrak jika tidak ada peran dari pemda setempat. Ia memuji bupati Banyuwangi Azwar Anas yang banyak melahirkan program promosi dan publikasi Banyuwangi. Dan bupati selanjutnya masih tetap berpihak pada UMKM Banyuwangi.

“Bahkan waktu pas COVID saja, kami tidak kehilangan pasar. Karena ada program pemerintah, waktu itu setiap tanggal cantik, wajib belanja batik dan kerajinan lainnya. Tanggal cantik itu misalnya, tanggal 1 bulan 1, tanggal 2 bulan 2, setiap bulan sekali. Pegawai negeri Pemda yang jumlahnya ribuan itu wajib belanja barang kami dan setor nota pembelian ke pimpinannya masing-masing.”

Karena program tersebut, UMKM Banyuwangi tidak lumpuh total.

“Artinya yang sudah dibangun itu tetap dipertahankan dan dibantu eksistensi.”

Firman juga menuturkan pemda Banyuwangi sangat mendukung upaya UMKM naik kelas.

“Mulai dari perizinan usaha yang dipermudah, sertifikasi pelatihan dan sertifikasi lainnya seperti sertifikasi halal batik, kita semua dapat secara gratis. Pokoknya semua didukung.”

Puluhan Karyawan

Hingga saat ini, Godho Batik Banyuwangi telah memiliki 25 orang karyawan yang mendukung produksi 1200 helai kain batik perbulan. Meskipun demikian untuk memenuhi jumlah lebih dari 1200, Godho Batik Banyuwangi juga berkolaburasi dengan usaha batik lainnya. Intinya adalah saling dukung.

“Saya bisa sekarang ini karena doa istri saya dan 25 karyawan saya itu.”

Firman Sauqi selain menjadi mantan Ketua Asosiasi Sekar Jagad Banyuwangi, Namanya tertera pada keanggotaan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Untuk mendapatkan orderan, Firman Sauqi mengaku tidak saja untuk wilayah Banyuwangi dan Jawa Timur, tetapi juga orderan berskala nasional.

“Kami yang sudah mendapatkan Surat Keputusan (SK) keikutsertaan tender batik haji, berupaya untuk mendapatkan order tersebut meski kemarin-kemarin melalui Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Kementerian Agama RI. Hingga kini kami masih memperjuangkan batik asli andil bagian dalam pengadaan itu,” pungkasnya.    

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kenapa Jalan Daendels Berhenti Di Panarukan

KENAPA JALAN DAENDELS BERHENTI DI PANARUKAN?

Banyuwangi Batik Festival 2024

BANYUWANGI BATIK FESTIVAL MENGANGKAT BRAND BANYUWANGI KE KANCAH NASIONAL DAN INTERNASIONAL