Oleh: Iwan Santosa
Batik telah menjadi bagian dari perjalanan panjang budaya Nusantara selama ratusan tahun. Namun, di tengah era modern yang serbadigital, muncul pertanyaan penting: apakah batik akan tetap bertahan sebagai tradisi kuno, atau justru mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi?
Pertanyaan itu semakin menarik ketika melihat bagaimana batik tradisi terus hidup, bahkan berkembang, melalui sentuhan inovasi. Di tangan para pengulik kreatif, batik ternyata bisa โdipertemukanโ dengan sains dan teknologi. Salah satu inovasi yang kini tengah mencuri perhatian publik adalah Batik Kura-Kura, sebuah pendekatan baru yang dikenalkan melalui inisiatif Resona Saintek Maranatha sebagai bagian dari program Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia.
Program yang digagas Universitas Kristen Maranatha ini mendapat dukungan dari Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek). Tujuannya tak sekadar memperkenalkan inovasi, tetapi juga mempopulerkan sains dan teknologi yang aplikatif serta bermanfaat nyata bagi masyarakat luas.
Tidak mengherankan bila inovasi Batik Kura-Kura langsung mengundang perhatian pengrajin, pelaku usaha batik, hingga komunitas seni dan budaya di Bandung Raya. Banyak yang penasaran, hingga ingin mengetahui โrahasiaโ di balik cara kerja kura-kura virtual ini.

Penghasil Motif Batik
Inovasi Batik Kura-Kura berakar dari konsep yang sebelumnya telah dikenal dalam dunia ilmu komputer dan teknologi informasi. Para peneliti Universitas Kristen Maranatha mengembangkan konsep tersebut hingga melahirkan metode baru dalam menciptakan motif batik secara digital.
Secara prinsip, Batik Kura-Kura adalah program komputer yang memvisualisasikan seekor โkura-kura virtualโ yang bergerak sambil menggambar. Kura-kura ini mengikuti serangkaian perintah algoritmik untuk menciptakan pola batik. Metode ini memanfaatkan algoritma turtle graphics.
Dalam artikel โKura-Kura Pembatik Lestarikan Batik Lokal dengan Turtle Graphics Inovatifโ (Ratnadewi & Santosa, 2025), dijelaskan bahwa turtle graphics pertama kali dikembangkan oleh Seymour Papert, salah satu pencipta bahasa pemrograman Logo. Bahasa tersebut kemudian diterapkan pada sebuah robot setengah bulat (diciptakan William Walter pada 1940-an) yang digerakkan menggunakan serangkaian perintah sederhana. Karena bentuk dan pergerakannya yang lambat, robot itu dijuluki โturtle robotโ.
Para peneliti MaranathaโRatnadewi dan Agus Prijono dari Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas, serta Ariesa Pandanwangi dari Fakultas Humaniora dan Industri Kreatifโmengembangkan metode ini untuk menghasilkan motif-motif batik dari berbagai daerah. Penelitian yang telah dipublikasikan sejak 2020-an menunjukkan bahwa turtle graphics tidak hanya dapat menggambar motif batik, tetapi juga mampu mendukung upaya pelestarian batik secara digital.


Cara Kerja Batik Kura-Kura
Pada mulanya, turtle graphics dibuat menggunakan bahasa pemrograman Logo. Kini, metode ini berkembang luas dan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan adalah Python. Para peneliti Batik Kura-Kura pun memanfaatkan Python sebagai platform utama untuk mengembangkan inovasi ini.
Cara kerjanya sangat sederhana: kura-kura virtual diberi perintah seperti maju, mundur, putar kiri, atau putar kanan. Kombinasi perintah-perintah tersebut akan membentuk pola tertentu.
Misalnya, untuk menggambar sebuah kotak:
- โMaju dua langkah lurus,โ
- โPutar kanan 90 derajat,โ
- โUlangi langkah pertama dan kedua hingga membentuk empat sisi.โ
Ketika dijalankan dalam kode Python, kura-kura virtual akan bergerak sesuai instruksi dan meninggalkan jejak berupa gambar geometris atau pola. Berdasarkan prinsip dasar itu, para peneliti mengembangkan instruksi yang lebih kompleks untuk menghasilkan motif-motif batik tradisional dan kontemporer, seperti motif Kawung, motif khas Batang, Purwakarta, Bondowoso, Banyumas, hingga motif daerah Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dari Algoritma Menjadi Kain Batik
Menariknya, kode program untuk menghasilkan motif batik ini berukuran kecil dan bisa dijalankan berulang kali oleh siapa pun yang memahami dasar-dasar Python. Setelah motif dasar tercipta, tahap selanjutnya adalah menerapkannya pada kain melalui teknik batik tulis atau batik cap.
Di sinilah terjadi perpaduan unik antara teknologi digital dan tradisi autentik. Algoritma menghasilkan pola dasar, sementara proses membatik tetap menggunakan teknik tradisional dengan perintang lilin. Hasilnya adalah Batik Kura-Kura, produk inovasi yang tetap menghormati akar tradisi sekaligus membuka peluang baru bagi regenerasi dan kreativitas.
Inovasi ini terbuka untuk dipelajari dan diterapkan oleh komunitas, mahasiswa, pengrajin, maupun masyarakat umum yang ingin mengembangkan motif batik dengan pendekatan baru. Melalui kolaborasi sains, teknologi, dan budaya, inovasi ini menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan sekaligus berkembang dengan cara yang relevan di masa depan.
Tentang Penulis
Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR adalah praktisi media dan kehumasan, Ketua Pelaksana Resona Saintek UK Maranatha, serta Anggota Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia. Tulisan ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia, didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).

