Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APBBI) bukanlah organisasi yang lahir dari birokrasi formal. Ia tumbuh dari obrolan ringan, dari keresahan kolektif para pembatik yang telah menekuni dunia batik sejak era 1990-an. Semuanya memiliki satu kesamaan: lahir sebagai perajin sebelum akhirnya menjadi pengusaha.
Dari Akar Rumput, Untuk Akar Rumput
Nama APBBI sengaja disusun dengan “perajin” di depan, bukan sekadar kosmetik, melainkan cerminan struktur dan semangat organisasinya. Berbeda dari organisasi batik lain yang lebih elitis, APBBI menyuarakan suara rakyat jelata batik—para perajin yang bekerja di ruang-ruang sempit, dengan keterampilan tangan, bukan hanya strategi dagang.
“Kalau sudah jadi pengusaha tapi bukan dari perajin, itu bukan APBBI,” tegas Agus Purwanto, mantan Humas APPBI yang kini menjabat Wakil Ketua 1 APPBI. Filosofi ini menjaga kemurnian niat APBBI: memperjuangkan ruang tumbuh dan pengakuan bagi perajin batik di Indonesia.
Lahir di Masa Sulit, Bertahan di Tengah Pandemi
APBBI resmi terbentuk tepat menjelang pandemi COVID-19. Tanpa dana struktural, tanpa sokongan birokrasi, asosiasi ini sempat vakum. Namun, dari keterbatasan justru muncul inovasi. Salah satunya adalah program Zoom mingguan, yang pada puncaknya menjadi wadah edukasi, promosi, dan solidaritas ekonomi.
“Awalnya, kita minta peserta webinar membayar Rp 75.000. Dana itu disalurkan untuk membantu perajin yang benar-benar terdampak,” kenang Agus. Program ini berlanjut hingga 2022 dan pernah mencatat transaksi fantastis hingga Rp 75 juta dalam satu sesi Zoom. Para pecinta batik ikut berpartisipasi dengan membeli produk secara langsung dari perajin yang bahkan tinggal di daerah terpencil.
Satu kisah mengharukan datang dari seorang perajin di Pamekasan. Berbulan-bulan tanpa omzet saat pandemi, ia menjual batik Rp125.000 lewat Zoom dan berhasil. Ia harus berjalan kaki dua jam dari pegunungan ke kantor pos untuk mengirim pesanan—sebuah simbol perjuangan di masa krisis.
Mengembangkan Program Nyata: Buku dan Lingkungan
Selepas pandemi, APBBI tak tinggal diam. Bersama Ketua Umum Komarudin Kudiya, asosiasi ini mendorong pembuatan buku edukatif tentang batik ramah lingkungan dan menggagas alat pengolah limbah skala kecil. Dengan dana mandiri atau hibah dari pihak ketiga seperti OREO, APBBI berhasil menyalurkan alat pengolah limbah ke berbagai daerah di Jawa dan Madura.
Salah satu capaian penting adalah kolaborasi dengan industri makanan global, OREO, yang mendanai program pelatihan batik untuk pelajar dan menyediakan alat limbah portabel ke sejumlah desa. Semuanya disalurkan kembali ke perajin, tanpa mengambil keuntungan.
Sertifikasi Halal: Dari Perdebatan ke Pemahaman
Kontroversi sempat muncul saat isu sertifikasi halal untuk batik menjadi perdebatan publik. Sebagian seniman dan pelaku batik menilai hal ini tidak relevan. Namun APBBI memilih sikap moderat. Mereka tidak frontal menolak, namun juga tidak serta merta menerima.
Bagi APBBI, penting untuk memahami bahwa sertifikasi halal bukan bentuk pengekangan, melainkan peluang—selama dijalankan dengan bimbingan yang memadai dan tidak membebani pelaku UKM. Bahkan beberapa anggota telah merekomendasikan perajin untuk mendapatkan sertifikasi halal secara gratis dari pemerintah.
Menenun Kekuatan Lokal Menuju Jejaring Nasional
Meskipun belum punya struktur formal seperti organisasi nasional lainnya, APBBI aktif mendorong pembentukan paguyuban daerah di Cirebon, Lampung, Jambi, Serang, dan lainnya. Dengan semangat bottom-up, semua inisiatif datang dari perajin sendiri. APBBI hanya menyediakan kerangka legal, AD/ART, dan pendampingan moral.
“Kami tidak mengakuisisi organisasi daerah. Kami hadir sebagai mitra. Semua berasal dari suara perajin sendiri,” tegas Agus.
Mimpi Global yang Tak Terlupakan
Meski belum masuk ranah global secara struktur, cita-cita APBBI tidak kecil. Masih ada mimpi untuk menjadikan APBBI sebagai kekuatan budaya nasional yang mampu bersaing di dunia internasional. Namun, mereka menyadari satu hal: kekuatan global harus dibangun dari akar lokal yang kokoh.
APBBI bukan organisasi yang mengejar proyek, bukan pula alat politik. Ia adalah komunitas jiwa—yang mengikat para perajin dengan rasa percaya, saling bantu, dan cinta pada batik sebagai jati diri bangsa.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

