Jakarta — Di tengah gelombang kesadaran global terhadap keberlanjutan, batik tak lagi hanya dianggap sebagai kain tradisional bermotif indah. Ia telah berevolusi menjadi simbol gaya hidup masa kini—berwawasan budaya sekaligus peduli lingkungan. Dari lemari pakaian hingga runway digital, batik kini hadir dengan wajah baru, menyapa generasi muda yang tak hanya bangga mengenakannya, tapi juga turut merancang masa depannya.

“Batik bukan lagi sekadar pakaian upacara. Bagi generasi muda, batik telah menjadi simbol identitas dan ekspresi budaya yang bisa dibanggakan,” ujar Doddy Rahadi, Staf Ahli Menteri Bidang Iklim Usaha dan Investasi Kementerian Perindustrian, dalam talkshow Community Engagement yang menjadi bagian dari Industrial Festival feat. Gelar Batik Nusantara 2025. Talkshow ini mengangkat tema “Batik dan Keberlanjutan: Lestarikan Tradisi, Lestarikan Bumi” sebagai bagian dari kampanye mendorong industri batik yang ramah lingkungan dan relevan dengan zaman.
Potensi Besar dari Bonus Demografi
Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi, dengan 67,5 persen penduduknya berada pada usia produktif. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potensi kreatif yang luar biasa. “Generasi muda adalah agen penting dalam mewujudkan sustainability, termasuk di sektor industri kreatif seperti batik,” kata Doddy. Ia menyoroti kemampuan anak muda dalam memanfaatkan teknologi digital dan semangat inovasi sebagai kekuatan utama dalam melestarikan batik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga 2022, lebih dari 958 ribu unit IKM fesyen beroperasi di Indonesia, menyerap lebih dari 1,6 juta tenaga kerja, mayoritas dari kalangan muda. Di tangan mereka, batik mengalami perubahan makna. Tak lagi kaku dan eksklusif, batik kini menjelma menjadi bahan utama fashion kasual, streetwear, hingga lini busana yang mengusung sustainable fashion.
Dari Pewarna Alami hingga Label Lokal
Perubahan paradigma ini didukung oleh banyak brand lokal yang mengusung etika keberlanjutan dalam produksi mereka. Salah satunya adalah KaIND, label fashion yang menggabungkan kearifan lokal dengan prinsip ramah lingkungan.
“KaIND berangkat dari keyakinan bahwa kearifan lokal merupakan fondasi penting dalam membangun industri fashion masa depan,” jelas Melie Indarto, Founder KaIND. Dengan pendekatan yang etis, estetis, dan berdampak sosial, KaIND berkomitmen pada pelestarian budaya sekaligus perawatan bumi.
Penerapan pewarna alami, efisiensi energi, dan transparansi rantai pasok menjadi bagian dari upaya menjadikan batik bukan hanya produk cantik, tapi juga etis. Kementerian Perindustrian pun mendorong pendekatan serupa melalui kampanye dan festival, sembari mengedukasi konsumen muda agar lebih sadar terhadap asal-usul dan dampak dari produk yang mereka kenakan.
Menjadi Gerakan, Bukan Sekadar Mode
Lebih dari sekadar gaya, keberlanjutan dalam industri batik kini menjadi gerakan kolektif. “Kita harus membangun hubungan emosional yang lebih dalam,” tutur Doddy. “Melestarikan batik bukan sekadar mempertahankan kain bermotif indah. Ini tentang merawat identitas bangsa, menghormati perajin, dan bertanggung jawab terhadap bumi tempat kita berpijak.”
Industrial Festival 2025 pun menghadirkan lebih dari sekadar pameran kain. Ada Kompetisi Konten Kreatif dan peluncuran Sayembara Maskot Industri yang terbuka bagi publik, termasuk mahasiswa, untuk merancang maskot yang mewakili semangat industri 4.0 di Indonesia—berakar pada budaya, bertumbuh lewat inovasi.
Dari Lestari Menjadi Inspirasi
Batik kini tidak hanya hidup di museum dan hari Jumat. Ia ada di punggung skater muda, dalam jaket anak band, di galeri daring para desainer muda, dan dalam narasi keberlanjutan yang terus digelorakan.
Dengan semangat kolektif, ekosistem batik yang lestari dan inovatif sedang dibangun hari demi hari—dengan benang-benang yang ditenun oleh tangan generasi muda. Masa depan batik Indonesia bukan hanya tentang mempertahankan warisan, tapi juga tentang menciptakan inspirasi yang berdampak global.
Dan semuanya dimulai dari satu motif: keberanian untuk berubah, tanpa melupakan akar.
Sumber: https://voi.id/berita/501513/bonus-demografi-generasi-muda-didorong-ambil-peran-lewat-industri-kreatif

