Hubungan budaya antara Indonesia dan Arab Saudi memasuki babak baru melalui pertemuan strategis antara Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan Menteri Kebudayaan Kerajaan Arab Saudi, Bader bin Abdullah bin Farhan Al Saud. Pertemuan yang berlangsung di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi kedua negara dalam pembangunan kebudayaan.
Kedua negara menegaskan kesamaan visi dalam menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama pembangunan nasional. Arab Saudi telah lebih dahulu membentuk kementerian kebudayaan pada 2018 sebagai bagian dari transformasi nasionalnya, sementara Indonesia menyusul pada 2024 dengan menjadikan kebudayaan sebagai sektor strategis yang berdiri mandiri.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan memiliki peran penting sebagai soft power sekaligus perekat di tengah dinamika global. Ia juga menyoroti bahwa hubungan Indonesia dan Arab Saudi yang telah terjalin selama 76 tahun tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga berakar pada kesamaan nilai dan kedekatan budaya.
“Indonesia adalah negara megadiversity, keragaman ini mencerminkan kekuatan budaya yang hidup dan terus berkembang,” ujar Fadli Zon.
Sejumlah agenda prioritas kerja sama pun disepakati, mulai dari kolaborasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di UNESCO, penguatan kerja sama museum, hingga pengembangan ekonomi kreatif yang mencakup film, sastra, musik, fesyen, dan program residensi seniman.
Isu strategis lainnya adalah dukungan Indonesia terhadap ekstensi Warisan Budaya Takbenda Arabic Calligraphy: Knowledge, Skills, and Practices yang melibatkan Arab Saudi. Indonesia telah mengajukan permohonan resmi melalui jalur diplomatik dan berharap dukungan penuh dari pihak Arab Saudi.
Di sektor museum dan warisan budaya, kedua negara melihat peluang luas untuk kolaborasi, termasuk dalam konservasi koleksi, pertukaran kurator, digitalisasi, hingga pengembangan pameran bersama. Indonesia juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan situs arkeologi yang saat ini menjadi fokus baru Arab Saudi.
Sementara itu, sektor industri kreatif menjadi salah satu bidang yang paling menjanjikan. Kolaborasi perfilman, misalnya, berpotensi dikembangkan melalui koproduksi yang mengangkat tema sejarah kedua negara, pertukaran talenta, hingga penguatan jejaring industri. Pertumbuhan industri film di Indonesia yang signifikan turut membuka peluang investasi, termasuk pengembangan infrastruktur bioskop.
Kerja sama juga mencakup bidang kriya, fesyen, dan sastra, termasuk program residensi seniman dan pertukaran budaya. Arab Saudi sendiri menunjukkan minat untuk menjalin kolaborasi literasi, termasuk melalui pengembangan penerjemahan karya antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab, serta standardisasi bahasa melalui pusat bahasa nasional mereka.
Dalam rangkaian kunjungan, delegasi Arab Saudi turut mengunjungi Museum Nasional Indonesia untuk meninjau koleksi sejarah Nusantara, termasuk pameran awal peradaban dan jejak masuknya Islam di Indonesia. Kunjungan dilanjutkan ke Galeri Nasional Indonesia yang menampilkan karya seni rupa, termasuk lukisan maestro seperti Raden Saleh dan Affandi, serta pameran seni kontemporer karya seniman perempuan Indonesia.
Turut mendampingi dalam pertemuan ini antara lain Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo serta sejumlah pejabat tinggi dari kedua negara.
Pertemuan ini ditutup dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas, termasuk percepatan implementasi program konkret. Kunjungan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat peran kebudayaan sebagai jembatan diplomasi dan penguat hubungan Indonesia–Arab Saudi di masa depan.

