Di sebuah sudut kota Surabaya, terdapat sebuah ruang yang bukan hanya butik, tetapi juga rumah bagi cerita-cerita tentang batik tulis. Di balik ruang ini berdiri sosok hangat bernama Nani Djojo—yang perjalanan hidupnya dengan batik tak pernah direncanakan menjadi bisnis, tapi justru tumbuh dari cinta yang mendalam, sejak masa kanak-kanak.
Cinta Dari Nenek
Sejak kecil, Ibu Nani telah akrab dengan batik. Ia tumbuh bersama sosok nenek yang selalu tampil anggun dalam balutan kebaya dan kain batik. Dari sanalah benih ketertarikan itu muncul. Bukan karena filosofi atau nilai budaya yang dalam—belum saatnya—melainkan karena kenangan sederhana: kain batik nenek yang nyaman untuk tidur siang.
“Waktu kecil, saya suka selimutan pakai kain batik nenek. Rasanya hangat dan tenang,” kenangnya sambil tersenyum. Namun, seiring waktu, selera itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam—lebih estetis. Ketika kuliah di jurusan arsitektur pada 1980-an, ia menyadari bahwa batik bukan sekadar kain, tapi karya desain yang kompleks. Setiap lekuk dan pola menyimpan keindahan visual yang selaras dengan ilmu desain yang ia pelajari.
Mati Suri dan Bangkitnya Batik
Namun, pada dekade 1990-an, batik sempat mengalami masa surut. Orang mulai meninggalkan batik tulis, beralih ke batik cetak atau bahkan tekstil bermotif batik. “Batik seperti kehilangan martabatnya. Banyak dipakai sebagai daster. Kainnya pun rayon yang mudah kusut. Saya jadi enggan memakainya,” ujar Nani.
Hingga pada 2009, sebuah tonggak penting terjadi: UNESCO mengakui batik sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Indonesia. Momentum ini mengubah segalanya. Batik kembali menggeliat. Instansi pemerintah, sekolah, dan masyarakat mulai memakainya lagi—meski sebagian besar masih dalam bentuk printing. Tapi arah kebangkitannya mulai terlihat.
Dari Kolektor ke Perantara
Tahun 2013, setelah lama tinggal di luar negeri, Nani pulang ke Indonesia. Keinginannya sederhana: mencari kegiatan yang berarti. Tapi ketika ia kembali bersentuhan dengan batik, yang semula hanya koleksi pribadi, berubah menjadi jembatan antara pembatik dan pecinta batik.
Ia dan suaminya sering melakukan perjalanan ke desa-desa batik di Jawa. Di sana, ia tidak hanya membeli kain, tapi juga menyerap cerita, filosofi, dan semangat para pembatik. “Saya selalu tanya: ini motifnya menceritakan apa? Apa inspirasinya? Dari situ saya jadi semakin jatuh cinta,” ujarnya. Koleksi batiknya pun membengkak tak terhitung jumlahnya.
Merasa tak enak hati terus-menerus mengandalkan “sumber dana” dari suami, ia mulai menawarkan beberapa batiknya ke teman-teman. Tak disangka, banyak yang menyukai seleranya. “Ternyata selera saya nyambung dengan mereka. Dan akhirnya saya menjadi penghubung—antara para pembatik dengan teman-teman yang menyukai batik.”
Dari situlah Ageng Batik lahir: bukan hanya sebagai butik, tapi sebagai ruang temu antara karya perajin daerah dan para pencinta kain.
Pandemi: Membalik Tantangan Menjadi Kesempatan
Ketika pandemi melanda, banyak aktivitas terhenti, termasuk kegiatan jalan-jalan dan bertemu pelanggan di butik. Namun, Ageng Batik tidak berhenti. Dengan bantuan generasi muda yang lebih melek teknologi, Ibu Nani membawa Ageng ke ranah digital.
Mulai dari video call dengan pembatik, kurasi desain secara daring, hingga promosi dan penjualan lewat media sosial dan video tutorial, semuanya dilakukan untuk mempertahankan koneksi antara perajin dan konsumen.
“Akhirnya kita bikin video styling dan tutorial. Supaya teman-teman tetap bisa belajar dan pakai batik dengan baik. Kita juga bisa tetap menyampaikan semangat batik meskipun lewat layar,” jelasnya.
Batik Itu Seperti Lukisan
Bagi Ibu Nani, batik tulis adalah karya tunggal, seperti lukisan. Maka ia pun selalu menyarankan agar kain tidak dipotong sembarangan. “Sayang kalau sampai dipotong. Hati ini rasanya sakit,” candanya. Maka dari itu, ia sering mendorong pelanggannya untuk memakai batik sebagai kain utuh, dengan cara yang kreatif dan elegan. Bahkan batik bisa jadi gaun pesta, jika dipadukan dengan petticoat atau bahan pelapis lainnya.
Harapannya Batik Jadi Busana Sehari-hari
Ke depan, harapan Ibu Nani sederhana namun besar: agar batik menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Saya ingin suatu hari nanti, 60 persen masyarakat Indonesia menjadikan batik sebagai busana sehari-hari. Bukan hanya untuk acara resmi, tapi juga keseharian,” ujarnya.
Baginya, batik bukan sekadar tren atau produk budaya, tetapi jalan untuk membangun ekonomi rakyat. “Dengan memakai batik, kita membantu para pembatik terus berkarya. Kita saling menghidupi.”
Cinta yang Terus Menyala
Perjalanan Nani Djojo bersama batik adalah bukti bahwa kecintaan yang tulus bisa menjelma menjadi kontribusi yang nyata. Dari sekadar selimut masa kecil, batik kini menjadi bagian dari misinya untuk menghubungkan budaya, ekonomi, dan manusia.
Melalui Ageng Batik, ia tidak hanya menjual kain. Ia menyampaikan rasa. Dan seperti motif batik yang rumit namun harmonis, kisahnya mengajarkan bahwa cinta, jika dirawat dengan ketekunan, bisa menjelma menjadi karya yang abadi.
Sumber: Youtube

