in

Batik Cap Modular Kembangkan Motif Kontemporer dari Landscape Kampung Naga

Batik cap modular dikembangkan untuk menghasilkan motif kontemporer dengan inspirasi landscape alam dan bangunan tradisional Kampung Naga.
Batik cap modular dikembangkan untuk menghasilkan motif kontemporer dengan inspirasi landscape alam dan bangunan tradisional Kampung Naga.

Teknik batik cap modular dikembangkan sebagai pendekatan untuk menghasilkan variasi motif batik kontemporer yang lebih beragam. Teknik tersebut diterapkan dalam penelitian Fita Ghonnia, Ahda Yunia Sekar Fardhani, dan Jeng Oetari dari Program Studi Kriya, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Telkom.

Penelitian berjudul Penciptaan Motif Batik Kontemporer Menggunakan Teknik Batik Cap Modular dengan Inspirasi Landscape Alam Kampung Naga tersebut mengeksplorasi kemungkinan pengembangan motif melalui modul-modul cap yang dapat disusun menjadi berbagai komposisi.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan, batik cap memiliki kelebihan dari sisi proses produksi karena dapat menghasilkan produk dalam jumlah lebih banyak, pengerjaan lebih cepat, serta harga penjualan relatif lebih terjangkau. Namun, teknik tersebut juga memiliki keterbatasan pada variasi motif yang cenderung berupa pengulangan.

Konsep modular kemudian digunakan untuk membuka kemungkinan komposisi motif yang lebih beragam. Modular stamp merupakan cap berupa modul-modul satuan yang ketika disatukan dapat menghasilkan desain yang lebih rumit dan kompleks. Konsep tersebut sebelumnya telah dikembangkan dalam penelitian mengenai block printing dan kemudian diterapkan pada teknik batik cap.

Penelitian ini memilih landscape alam Kampung Naga sebagai sumber inspirasi visual. Kampung Naga dipandang memiliki potensi kearifan lokal melalui keberadaan bangunan adat dan lingkungan alam yang masih asri. Letaknya di kaki perbukitan juga memberikan karakter visual berupa bentang alam berkontur dan garis-garis lengkung.

Bangunan tradisional di kawasan tersebut kemudian dipelajari sebagai sumber penciptaan modul. Peneliti mengidentifikasi sejumlah elemen visual, termasuk bangunan pemukiman, Bale Patemon, bedug, pepohonan, kolam, dan saung lisung. Elemen tersebut selanjutnya diolah menjadi bentuk-bentuk modul untuk menciptakan motif baru.

Eksplorasi dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari eksplorasi awal, eksplorasi lanjutan, eksplorasi terpilih, hingga eksplorasi komposisi cap modular pada kain. Proses tersebut dilakukan secara digital maupun manual.

Dari proses eksplorasi, peneliti menghasilkan enam modul terpilih. Modul tersebut terdiri atas bangunan pemukiman dan pohon, bangunan pemukiman, Bale Patemon dan bedug, pepohonan, serta kolam dan saung lisung. Penerapan digital menggunakan perbandingan skala 1:10 untuk mempermudah penerapan desain pada ukuran kain sebenarnya.

Komposisi enam modul kemudian menghasilkan beberapa variasi motif. Skema warna diambil dari pattern board yang mengacu pada landscape Kampung Naga. Garis menggunakan canting kuas juga ditambahkan untuk memberikan batas antara lahan terasering bukit dan aliran sungai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa batik cap modular dapat digunakan untuk mengembangkan motif kontemporer dengan komposisi yang dapat ditumpuk dan dikombinasikan. Pengembangan tersebut kemudian diarahkan pada produk kain panjang dan scarf panjang.

Penelitian ini menempatkan landscape dan bangunan tradisional Kampung Naga bukan hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai sumber pembentukan modul yang dapat dikembangkan menjadi motif batik kontemporer.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

UNESA memperkenalkan batik melalui pelatihan topeng batik di Vietnam untuk membangun dialog antarbudaya dan memperkuat kerja sama akademik.

Batik Jadi Media Diplomasi Budaya UNESA di Vietnam, Perkuat Dialog Antarbangsa

Batik Jawa Barat berkembang sebagai ruang pertemuan identitas lokal, budaya visual, kreativitas desain, dan kebutuhan fashion modern.

Batik Jawa Barat Jadi Ruang Pertemuan Identitas Lokal dan Fashion Modern