Eksplorasi batik cap modular dalam penelitian Universitas Telkom dilakukan melalui tahapan pembuatan cap, tracing, pengecapan, pewarnaan, hingga pelorodan. Proses tersebut menghasilkan kain bermotif kontemporer yang mengambil inspirasi dari landscape Kampung Naga.
Penelitian Fita Ghonnia, Ahda Yunia Sekar Fardhani, dan Jeng Oetari sebelumnya melakukan eksplorasi desain secara digital dan manual. Setelah komposisi modul dan motif ditentukan, modul tersebut direalisasikan menjadi cap menggunakan material kayu.
Penggunaan kayu menjadi bagian dari pengembangan teknik cap. Dalam kajian penelitian disebutkan, canting cap umumnya dibuat dari tembaga berbentuk seperti stempel. Seiring perkembangan, material kayu juga digunakan karena dinilai lebih ekonomis dan proses pembuatannya lebih mudah.
Setelah cap dibuat, proses berikutnya adalah tracing pada lembaran kain. Tahap ini dilakukan dengan menggambarkan garis dan memberikan tanda pada bagian kain yang akan ditempeli cap. Penempatan cap mengikuti komposisi desain yang sebelumnya telah dibuat dalam ukuran sebenarnya.
Tahap pengecapan menggunakan kain mori primissima dan tencel. Malam batik terlebih dahulu dilelehkan, kemudian cap ditempatkan di atas malam yang telah dipanaskan sebelum digunakan untuk mencetak motif pada kain.
Setelah proses pengecapan selesai, kain memasuki tahap pewarnaan. Penelitian menggunakan pewarna remasol dengan teknik colet. Setelah pewarnaan, dilakukan proses fiksasi menggunakan waterglass agar warna dapat terikat pada serat kain.
Teknik colet memberikan ruang bagi peneliti untuk mengaplikasikan warna pada bagian-bagian motif yang telah terbentuk. Dalam pengembangan motif, skema warna ditentukan berdasarkan pattern board yang mengambil referensi visual landscape Kampung Naga.
Tahap berikutnya adalah pelorodan. Proses ini dilakukan untuk melepaskan malam atau lilin batik dari kain. Lembaran kain dimasukkan ke dalam air yang telah direbus hingga mendidih dan dicampur dengan soda ash.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan batik cap modular tidak berhenti pada pembuatan modul. Desain yang telah dibuat secara digital harus diterjemahkan kembali melalui proses produksi manual agar dapat menghasilkan motif pada kain.
Dalam penelitian ini, eksplorasi teknik menjadi bagian penting karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat cap, tetapi menghasilkan kebaruan visual pada motif batik kontemporer.
Hasil akhir penelitian berupa kain panjang dan scarf panjang. Keduanya menjadi media penerapan motif yang dikembangkan dari enam modul berbasis landscape Kampung Naga.
Penggunaan cap kayu, malam, pewarna remasol, waterglass, dan proses pelorodan memperlihatkan rangkaian kerja yang menggabungkan eksplorasi desain dengan tahapan produksi batik. Pendekatan tersebut menghasilkan alternatif pengembangan batik cap modular pada produk tekstil kontemporer.


