Bisnis batik tidak hanya berperan dalam melestarikan warisan budaya Indonesia, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan keuangan yang terukur. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian terhadap Batik New Collet, usaha batik yang berlokasi di Dusun Jaten, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Penelitian Siti Nur Qomariyah dan Candra Fatmawati Firdaus yang diterbitkan dalam Jurnal Studi Manajemen dan Bisnis pada 2021 mengkaji kelayakan bisnis Batik New Collet dari aspek finansial. Analisis tersebut menggunakan data usaha selama periode 2016–2020 untuk menilai apakah kegiatan produksi batik layak diteruskan dan dikembangkan.
Kajian ini dilatarbelakangi perubahan industri batik, terutama kemunculan teknologi printing yang memungkinkan motif menyerupai batik diproduksi secara lebih cepat. Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi perajin batik tradisional dalam memasarkan produknya di tengah persaingan pasar.
Bagi usaha batik skala kecil dan menengah, persaingan tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk dan pemasaran. Pengelolaan biaya, pencatatan keuangan, serta kemampuan menilai keuntungan juga menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Pendapatan Batik New Collet Meningkat
Berdasarkan uraian hasil penelitian, penerimaan Batik New Collet menunjukkan peningkatan secara umum selama periode pengamatan. Pada 2016, penerimaan usaha tercatat sebesar Rp100,849 juta. Angka tersebut meningkat menjadi Rp280,322 juta pada 2017, kemudian mencapai Rp260,5 juta pada 2018.
Pada 2019, penerimaan yang dilaporkan dalam uraian penelitian mencapai Rp349,765 juta. Selanjutnya, pada 2020, penerimaan meningkat menjadi Rp550,567 juta.
Peneliti juga mencatat bahwa penjualan daring membantu usaha tersebut mempertahankan penjualan ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada 2020. Temuan ini memperlihatkan pentingnya pemanfaatan saluran pemasaran digital bagi pelaku bisnis batik, khususnya ketika aktivitas penjualan secara langsung menghadapi hambatan.
Di sisi lain, kegiatan produksi tetap membutuhkan biaya, antara lain sewa tempat, penyusutan peralatan, air, transportasi, dan gaji karyawan. Berdasarkan tabel biaya produksi dalam penelitian, total biaya selama 2016–2020 tercatat sebesar Rp352,56 juta. Penghitungan biaya tersebut menjadi salah satu dasar untuk menilai kemampuan usaha menghasilkan keuntungan.
Empat Indikator Menunjukkan Kelayakan Usaha
Untuk mengukur kelayakan finansial, penelitian menggunakan empat indikator, yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), dan Revenue-Cost Ratio (R/C).
Hasil penelitian mencatat NPV sebesar Rp913.104.722. Nilai positif tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan asumsi perhitungan penelitian, usaha memiliki nilai manfaat finansial bersih yang positif.
Indikator IRR tercatat sebesar 14,07 persen. Nilai ini berada di atas tingkat bunga acuan yang digunakan dalam analisis, sehingga memenuhi kriteria kelayakan menurut penelitian.
Sementara itu, nilai Net B/C mencapai 1,80. Artinya, berdasarkan metode perhitungan yang digunakan, manfaat bersih yang diperhitungkan lebih besar daripada biaya bersihnya. Adapun nilai R/C sebesar 4,07 menunjukkan bahwa penerimaan usaha lebih besar daripada biaya yang dihitung dalam analisis tersebut.
Keempat indikator itu membawa peneliti pada kesimpulan bahwa bisnis Batik New Collet layak diteruskan dan dikembangkan dari aspek finansial untuk periode yang diteliti.
Pembelajaran bagi Pelaku Bisnis Batik
Studi Batik New Collet memberikan gambaran bahwa pengembangan bisnis batik perlu disertai perencanaan keuangan yang jelas. Pelaku usaha dapat memulai dengan mencatat penerimaan, biaya produksi, upah tenaga kerja, investasi peralatan, dan penyusutan aset secara teratur.
Informasi keuangan tersebut dapat membantu pemilik usaha menilai keuntungan, menyusun kebutuhan modal, dan mempertimbangkan rencana ekspansi secara lebih rasional. Pemanfaatan pemasaran digital juga dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
Meski demikian, hasil penelitian ini menggambarkan kondisi Batik New Collet pada 2016–2020 berdasarkan asumsi dan metode yang digunakan peneliti. Hasil tersebut tidak otomatis menggambarkan kinerja usaha saat ini. Penilaian terbaru tetap membutuhkan data keuangan dan kondisi pasar terkini.
Bagi pelaku bisnis batik lainnya, pesan utamanya adalah pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha yang profesional. Dengan pencatatan keuangan yang baik, strategi pemasaran yang adaptif, dan evaluasi kelayakan secara berkala, bisnis batik memiliki dasar yang lebih kuat untuk bertahan dan berkembang.

