Teknik batik cap modular dengan inspirasi landscape Kampung Naga dikembangkan hingga menjadi produk tekstil berupa kain panjang dan scarf. Eksplorasi tersebut merupakan bagian dari penelitian penciptaan motif batik kontemporer yang dilakukan Fita Ghonnia, Ahda Yunia Sekar Fardhani, dan Jeng Oetari.
Penelitian tersebut berangkat dari karakter batik kontemporer yang memberikan ruang bagi pengembangan motif, teknik, material, serta proses berdasarkan kreativitas penciptanya. Dalam konteks penelitian ini, kebebasan tersebut diterapkan melalui pengembangan cap modular.
Konsep modular stamp memungkinkan satuan-satuan cap disusun menjadi komposisi yang lebih kompleks. Pendekatan ini digunakan untuk menjawab keterbatasan variasi motif pada batik cap yang umumnya memiliki pola pengulangan.
Kampung Naga dipilih sebagai sumber inspirasi karena memiliki karakter landscape dan bangunan tradisional yang dapat diterjemahkan menjadi elemen visual. Peneliti mengolah bangunan pemukiman, Bale Patemon, bedug, pepohonan, kolam, dan saung lisung menjadi modul motif.
Dari proses eksplorasi dihasilkan enam modul terpilih. Modul tersebut kemudian disusun dalam sejumlah komposisi. Pada tahap digital, desain dibuat menggunakan perbandingan skala 1:10 agar penerapannya dapat disesuaikan dengan ukuran kain sebenarnya.
Penyusunan motif mengacu pada pattern board yang terdiri dari landscape alam Kampung Naga, referensi kain batik Pemandangan Ayam Alas karya Sutoyo, serta bangunan tradisional Kampung Naga.
Prinsip kesatuan, irama, dan keseimbangan menjadi dasar dalam penyusunan komposisi. Warna juga diambil dari referensi landscape Kampung Naga. Sementara itu, garis dengan teknik canting kuas ditambahkan untuk menggambarkan batas lahan terasering dan aliran sungai.
Dari sisi produk, penelitian merancang tiga jenis kain panjang dan dua jenis scarf panjang. Kain tersebut ditujukan untuk kebutuhan pelengkap busana dan aksesori. Dalam deskripsi konsep, kain panjang dapat digunakan sebagai rok lilit, sementara scarf menjadi salah satu produk pelengkap busana.
Proses produksi dimulai dari pembuatan cap berbahan kayu berdasarkan modul yang telah dipilih. Selanjutnya dilakukan tracing pada kain untuk menentukan posisi cap sesuai rancangan.
Pengecapan dilakukan pada kain mori primissima dan tencel menggunakan malam batik. Setelah itu, kain diwarnai menggunakan pewarna remasol dengan teknik colet dan difiksasi menggunakan waterglass. Proses pelorodan kemudian dilakukan dengan air mendidih yang dicampur soda ash untuk melepaskan malam.
Produk akhir penelitian berupa kain panjang dan scarf panjang. Dokumentasi penelitian memperlihatkan produk dengan komposisi motif yang mengolah elemen landscape Kampung Naga.
Pada kesimpulannya, penelitian menyebutkan bahwa objek bangunan tradisional dan elemen alam di sekitar Kampung Naga dapat diolah menjadi modul. Eksplorasi menghasilkan enam modul yang dapat dikomposisikan secara bertumpuk menggunakan teknik batik cap modular.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana batik cap modular dapat digunakan untuk menerjemahkan karakter lingkungan dan kearifan lokal ke dalam produk tekstil kontemporer.

