in

Batik Cap Modular Angkat Bangunan Tradisional Kampung Naga Jadi Motif Kontemporer

Meta deskripsi: Batik cap modular mengolah bangunan tradisional, pepohonan dan landscape Kampung Naga menjadi enam modul motif kontemporer.
Meta deskripsi: Batik cap modular mengolah bangunan tradisional, pepohonan dan landscape Kampung Naga menjadi enam modul motif kontemporer.

Bangunan tradisional dan lingkungan alam Kampung Naga diolah menjadi sumber inspirasi penciptaan motif batik cap modular. Eksplorasi tersebut dilakukan untuk mengembangkan motif batik kontemporer yang memiliki variasi komposisi lebih luas.

Penelitian yang dilakukan Fita Ghonnia, Ahda Yunia Sekar Fardhani, dan Jeng Oetari dari Universitas Telkom menjadikan landscape Kampung Naga sebagai sumber visual dalam pengembangan motif. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, wawancara, observasi, dan eksplorasi.

Pemilihan Kampung Naga berkaitan dengan karakter kawasan yang masih mempertahankan tradisi leluhur, rumah adat, serta lingkungan alam yang asri. Dalam studi visual, kawasan Kampung Naga digambarkan berada di kaki gunung dengan kondisi lahan berkontur.

Karakter tersebut memberikan sejumlah elemen visual yang dapat dikembangkan menjadi modul motif. Peneliti mencermati tiga bangunan spesifik, yakni Imah Naga sebagai bangunan pemukiman, Bale Patemon, dan Masjid. Selain bangunan, objek bedug juga menjadi salah satu elemen yang dapat diolah sebagai sumber modul.

Bagian atap bangunan menjadi salah satu karakter visual yang diperhatikan. Pada bagian depan, bentuk atap terlihat hampir menutupi bangunan dan menyerupai bentuk geometris trapesium. Sementara bagian samping memiliki bentuk geometris yang menyerupai segitiga.

Elemen tersebut kemudian tidak langsung diterapkan sebagai motif akhir. Peneliti melakukan serangkaian eksplorasi untuk menghasilkan bentuk baru yang lebih bervariasi.

Tahapan eksplorasi mencakup eksplorasi awal, lanjutan, terpilih, modul utama, modul pendamping, komposisi modul, komposisi motif, komposisi motif terpilih dengan warna, eksplorasi zat pewarna pada kain, hingga eksplorasi komposisi cap modular pada kain.

Pada tahap eksplorasi terpilih, enam modul dikembangkan berdasarkan inspirasi landscape Kampung Naga. Modul pertama menggabungkan bangunan pemukiman dan pohon. Modul lainnya berupa bangunan pemukiman, Bale Patemon dan bedug, pepohonan, serta kolam dan saung lisung.

Keenam modul tersebut memiliki ukuran berbeda dan dikembangkan menggunakan perbandingan skala 1:10 antara desain digital dan ukuran sebenarnya. Pendekatan tersebut memungkinkan modul disusun dalam berbagai komposisi.

Komposisi motif kemudian disesuaikan dengan pattern board yang menggabungkan visual landscape Kampung Naga, referensi kain batik Pemandangan Ayam Alas karya Sutoyo, serta bangunan tradisional Kampung Naga.

Prinsip kesatuan, irama, dan keseimbangan digunakan dalam penyusunan komposisi. Warna diambil dari referensi landscape Kampung Naga, sementara garis menggunakan canting kuas untuk memperlihatkan batas antara terasering bukit dan perairan sungai.

Melalui pendekatan tersebut, bangunan dan lingkungan Kampung Naga diterjemahkan menjadi bahasa visual baru pada batik kontemporer. Teknik batik cap modular memungkinkan elemen-elemen tersebut disusun kembali sehingga menghasilkan variasi motif tanpa harus menggunakan satu plat cap berukuran besar.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Pekalongan Oey Soe Tjoen menyimpan warisan seabad batik tulis halus Peranakan Tionghoa, motif buketan, dan perjuangan regenerasi.

Batik Pekalongan Oey Soe Tjoen, Warisan Seabad yang Bertahan di Tengah Tantangan Regenerasi

Pengembangan batik Jawa Barat menghadapi tantangan mutu produksi, kemampuan membaca pasar, desain visual, dan persaingan industri sejenis.

Batik Jawa Barat Hadapi Tantangan Mutu, Pasar, dan Persaingan Industri