Batik Jawa Barat berkembang dalam persinggungan antara identitas budaya lokal dan dinamika fashion modern. Pengembangan desain tidak hanya diarahkan pada penciptaan produk baru, tetapi juga pada upaya mempertahankan nilai budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Yan Yan Sunarya dalam kajiannya mengenai desain fashion batik Jawa Barat menjelaskan bahwa batik berkembang sejalan dengan dinamika masyarakat pendukungnya. Corak batik dapat menjadi curahan perasaan dan pemikiran pembatik terhadap lingkungan serta tradisi sosial masyarakat.
Secara tradisional, batik berkaitan dengan proses penerapan corak pada kain menggunakan malam sebagai medium perintang warna. Namun, perkembangan batik membuat pengertiannya meluas, termasuk karena pengaruh kebhinekaan budaya Indonesia.
Batik Jawa Barat menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Keberlangsungannya berkaitan dengan perubahan pada berbagai aspek, antara lain teknis, estetis, normatif, ikonografis, simbolis dan fungsional.
Materi menyebut aktualisasi batik modern dapat dilakukan dengan mempelajari sejarah, filsafat, simbol, teknik, ekspresi dan aspek penciptaan lainnya. Pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menggali nilai atau wisdom sebelum dikembangkan menjadi artikulasi simbol baru sesuai zamannya.
Hubungan batik dengan fashion juga tidak dapat dipisahkan dari perubahan gaya busana. Setelah masa kemerdekaan, pengaruh busana Barat semakin masuk ke Indonesia. Pada 1950-an, kebaya masih digunakan sebagai busana sehari-hari. Namun, seiring perkembangan budaya asing, fungsi busana tradisional bergeser dan semakin banyak digunakan untuk kebutuhan adat, upacara dan pernikahan.
Perkembangan fashion modern kemudian mempertemukan konteks internasional dan nasional. Rancangan busana Indonesia dapat memadukan pengaruh internasional dengan unsur nasional, termasuk melalui karya sejumlah desainer yang disebut dalam materi.
Perubahan fashion pada 1970-an dan 1980-an turut mendorong kebebasan memilih tampilan. Tidak ada lagi satu tampilan tunggal dalam sebuah tren. Berbagai mode dapat hadir dalam tema yang berbeda, sementara gaya retro membuka kembali inspirasi dari masa lalu.
Perubahan tersebut turut memengaruhi desainer Indonesia untuk mengangkat kembali citra tradisional ke dalam fashion. Strateginya antara lain memadukan revivalisme, eklektisisme dan nostalgia dengan gaya etnik Indonesia.
Dalam konteks Jawa Barat, ornamen lokal kemudian memiliki posisi penting. Materi menyebut diversifikasi desain fashion dengan menerapkan ragam hias atau ornamen lokal Jawa Barat dapat menjadi salah satu langkah pewarisan budaya sekaligus penggalian kearifan lokal.
Batik Jawa Barat dengan demikian ditempatkan bukan sekadar sebagai kain bermotif. Ia menjadi bagian dari budaya visual yang dapat terus berkembang melalui proses desain dan kreativitas.
Nilai estetika dalam batik dan fashion juga berkaitan dengan pandangan, aspirasi, kebutuhan dan gagasan masyarakat. Menurut materi, kebutuhan estetika tersebut ditentukan secara budaya dan terintegrasi dengan aspek kebudayaan lainnya. Nilai serta asas yang berlaku dalam masyarakat Jawa Barat kemudian cenderung direalisasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

