Bandung — Kurator batik Abdul Syukur, S.Sn., M.A., mengungkap konsep kuratorial “Kar Jagad – Mozaik yang Tersembunyi” sebagai gagasan utama Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2027. Penjelasan tersebut disampaikan dalam pengantar kuratorial pada peluncuran Puspa Nuswantara 2027 di Rumah Batik Komar, Cigadung, Bandung, Jawa Barat, 24 September 2026.
Menurut Abdul Syukur, pemilihan motif Sekar Jagad sebagai tema Puspa Nuswantara 2027 merupakan hasil dari proses refleksi atas penyelenggaraan pameran pada 2025 dan 2026. Tema tersebut tidak sekadar mengambil bentuk visual motif, tetapi berupaya menggali bentuk, fungsi, filosofi, sejarah, serta nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam dokumen kuratorial, Sekar Jagad dijelaskan sebagai bagian dari kepingan simbolik ragam hias batik tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah pedalaman Jawa. Motifnya tersusun dari garis lengkung tidak beraturan yang membentuk blok-blok geometris dengan beragam ragam hias.
Secara harfiah, Sekar Jagad berasal dari bahasa Jawa. “Sekar” berarti bunga, sedangkan “Jagad” berkaitan dengan bumi atau dunia. Konsep tersebut kemudian dimaknai sebagai gambaran keindahan dalam keragaman dan kemajemukan yang terjalin secara harmonis.
Kar Jagad Dimaknai sebagai Peta Dunia
Abdul Syukur kemudian mengembangkan pemaknaan Sekar Jagad melalui istilah Kar Jagad. Dalam kajian etnolinguistik yang menjadi bagian dari landasan kuratorial, kata “Kar” memiliki kedekatan dengan kata kaart dalam bahasa Belanda yang berarti peta. Sementara “Jagad” dalam bahasa Jawa bermakna dunia.
Kar Jagad karena itu dipahami sebagai peta dunia, tetapi bukan sekadar peta geografis. Dalam konteks seni batik, peta tersebut diterjemahkan melalui simbol, ragam hias, serta representasi visual berbagai wilayah.
“Kar Jagad adalah representasi peta wilayah yang beragam melalui kreativitas simbolik seni batik,” demikian penjelasan dalam dokumen kuratorial Abdul Syukur.
Saat memberikan pengantar, Abdul Syukur juga mengaitkan motif Sekar Jagad dengan seni tradisi lain di Nusantara. Ia menyinggung keberadaan tarian di Bali yang menggunakan nama serupa dan berfungsi sebagai tari persembahan. Temuan tersebut memperluas pembacaannya bahwa Sekar Jagad tidak berdiri sendiri sebagai motif batik, melainkan memiliki keterhubungan dengan tradisi seni Nusantara lainnya.
Dari Motif Batik Menuju Identitas Nusantara
Bagi Abdul Syukur, pendekatan Kar Jagad membuka kemungkinan pembacaan batik sebagai bagian dari jaringan kebudayaan yang lebih luas. Seni batik memiliki hubungan dengan seni tenun, keris, seni pertunjukan, ritual, hingga aktivitas ekonomi dan perdagangan antardaerah.
Kar Jagad – Mozaik yang Tersembunyi kemudian diarahkan menjadi landasan artistik untuk membangun kembali pengetahuan dan kreativitas mengenai seni batik Indonesia.
Dalam pengantar kuratorialnya, Abdul Syukur menegaskan bahwa Kar Jagad tidak hanya berbicara tentang peta, tetapi juga identitas Nusantara. Ia menyebut motif Sekar Jagad atau Kar Jagad sebagai manifestasi kebinekaan dan motif yang menyatukan Nusantara.
Puspa Nuswantara 2027 sendiri dirancang memiliki dua ruang utama, yakni Ruang Apresiasi dan Edukasi Seni Batik serta Ruang Display Karya Perajin-Pengusaha Seni Batik. Ruang kedua dirancang dengan pendekatan “batik island”, yang memetakan karakter dan identitas visual batik berdasarkan wilayah.
Pagelaran dijadwalkan berlangsung 2–6 Juni 2027 di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.
Dengan konsep tersebut, Abdul Syukur menempatkan peran kurator batik bukan hanya sebagai penyusun tampilan pameran, tetapi juga sebagai penghubung antara riset, sejarah, simbol, seni tradisi, dan pengalaman publik dalam membaca kekayaan batik Indonesia.


